Tribun Manado Wiki
Ini Sejarah dan Sosok Pembuat Patung Bogani di Kotamobagu
Jika anda pernah ke Kotamobagu, pasti akan menemukan patung berwarna coklat yang berdiri di simpang tiga kelurahan Kotobangon.
Penulis: Nielton Durado | Editor: Chintya Rantung
Menurut Chairun ada satu semboyan yang menjadi sebuah prinsip bagi para Bogani.
“Prinsipnya yakni tampangan dodot atau artinya pemimpin dulu yang harus mati baru sesudah itu rakyat,” tuturnya.
Ada empat kriteria menurut Chairun agar bisa menjadi Bogani.
Yang pertama Mokodotol atau sikap patriotisme.
Yang kedua adalah Mokorakup yang artinya bisa mengayomi masyarakat yang dipimpinnya, baik itu dari kecukupan sandang dan pangan.
Ketiga Mokodia yang diartikan mampu mengemban amanah, paham dengan budaya dan adat istiadat, juga mampu menerapkan keadilan tidak terkecuali anggota keluarga.
Yang keempat Mokoangayang diartikan harus simpatik perilakunya.
Mengenai dua senjata yang digenggam patung Bogani, diberi nama Tungkudonuntuk tongkat yang juga sekaligus sebuah tombak, di genggaman tangan kanannya.
Sedangkan tameng di tangan kiri diberi nama Kaleaw.
Dari posisi patung, diutarakan Chairun adalah apa yang disebut dengan opat noponulukan atau empat penjuru angin.
“Ini dari perspektif budaya yah, kiblatnya orang Mongondow itu menghadap utara. Jadi Tungkudon-nya menghadap utara atau Tombaian artinya kebahagiaan atau kesenangan," katanya.
Kalau ke barat itu disebut Toyopan yang artinya tidak baik, karena itu patungnya agak condong ke selatan.
Sedangkan timur itu disebut Silangan, makanya harus dibelakangi karena tidak baik menantang arah terbitnya matahari.
'Untuk ke selatan itu Tontongan artinya apa yang nampak dalam pandangan,” urai Chairun.
“Tidak pernah para Bogani dulu berselisih. Ada sejarah soal Mokodoludut, pemimpin dari Dumoga. Versinya ada dua menurut hikayat, Mokodoludut itu berasal dari telur. Sementar versi logisnya, ia bayi yang ditemukan Bogani Amalie dan Inalie," aku dia.