Majelis Ulama Indonesia
Perjalanan KH Miftachul Akhyar Undur Diri dari Jabatan Ketua Umum MUI dan Aksi Penolakan
Keputuasan KH Miftachul Akhyar mengundurkan diri mengundang penolakan dari MUI.
TRIBUNMANADO.CO.ID - Perjalanan KH Miftachul Akhyar mengundurkan diri hingga aksi penolakan MUI.
Diketahui, Miftachul Akhyar mengundurkan diri dari jabatan Ketua Umum MUI.
Keputuasan Kiai Miftachul tersebut mengundang penolakan dari MUI.
Dikutip dari Kompas.com, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan sikap menolak permohonan pengunduran diri KH Miftachul Akhyar dari jabatan Ketua Umum pada Rabu (16/3/2022) kemarin.
"Surat permohonan pengunduran diri Ketum MUI sudah dibahas dalam rapim.
Secara aklamasi dan mufakat beliau diputuskan tetap sebagai ketua umum," ujar Sekreteris Jenderal MUI Amirsyah Tambunan kepada Kompas.com kemarin.
"Artinya permohonan mundur sebagai Ketum MUI tidak terima atau ditolak karena amanah Munas MUI X beliau memimpin MUI 2020- 2025," lanjut Amirsyah.
Keputusan Kiai Miftachul mengajukan pengunduran diri dari MUI karena alasan amanah forum ahlul halli wal aqdi (Ahwa) dalam Muktamar ke-34 NU di Lampung, Desember 2021, agar tidak merangkap jabatan.
Forum Ahwa merupakan musyawarah kiai sepuh NU untuk memilih Rais Aam PBNU.
Dalam muktamar itu, Miftachul terpilih sebagai Rais Aam PBNU. Ketika itu, ia kadung menjalani tahun keduanya mengemban jabatan pucuk MUI.
Yahya Staquf Sebut Keputusan Miftachul Akhyar Mundur dari MUI Sudah Final
Pernyataan pengunduran diri tersebut diberikan saat Kiai Miftachul memberikan pengarahan dalam Rapat Gabungan Syuriyah-Tanfidziyah PBNU di Kampus Unusia Parung, Bogor, Jawa Barat Rabu (9/3/2022).
"Di saat ahlul halli wal aqdi (Ahwa) Muktamar ke-34 NU menyetujui penetapan saya sebagai Rais Aam, ada usulan agar saya tidak merangkap jabatan.
Saya langsung menjawab sami'na wa atha'na (kami dengarkan dan kami patuhi)," ujar Miftachul seperti dikutip dari situs resmi nu.or.id.
Kiai Miftachul terpilih menjadi Ketua Umum pada 2020. Ia mengungguli sejumlah nama lainnya, seperti Dr Anwar Abbas dan Nasaruddin Umar, Amirsyah Tambunan, dan KH Muhyidin Djunaidi.