Selasa, 28 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Joe Biden Nyatakan Amerika Siap Perang Dunia III Jika Ini Terjadi, Bukan Soal Rusia vs Ukraina

Namun, untuk perang dunia III yang ditegaskan Presiden Amerika Serikat tersebut bukan di Ukraina.

Editor: Alpen Martinus
EDUARDO MUNOZ/POOL PHOTO VIA AP
Presiden AS Joe Biden berpidato dalam Sidang Umum PBB ke-76 di markas besar PBB di New York, AS, pada Selasa (21/9/2021). 

TRIBUNMANADO.CO.ID- Presiden Amerika Serikat Joe Biden menyatakan siap untuk perang dunia III.

Namun itu semua akan terjadi jika pemicunya meletus.

Hal tersebut terkait dengan beberapa aturan yang terkait dengan negaranya.

Baca juga: Joe Biden Instruksikan Penghentian Impor Minyak hingga Batu Bara dari Rusia

ILUSTRASI. Presiden AS Joe Biden melambai ke media saat menaiki Air Force One di Pangkalan Bersama Andrews di Maryland, Amerika Serikat, Jumat (9/7/2021).
ILUSTRASI. Presiden AS Joe Biden melambai ke media saat menaiki Air Force One di Pangkalan Bersama Andrews di Maryland, Amerika Serikat, Jumat (9/7/2021). (Reuters)

Namun, untuk perang dunia III yang ditegaskan Presiden Amerika Serikat tersebut bukan di Ukraina.

Adapun alasan pertama Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden yaitu jika NATO diserang.

Tetapi Biden tak mau ambil risiko jika harus memulainya dengan menghadapi Rusia di Ukraina.

Hal itulah yang membuatnya menolak untuk menerapkan zona larangan terbang di langit Ukraina.

Baca juga: Akhirnya Jatuhkan Sanksi Baru untuk Elit Rusia, Joe Biden Depak Kroni Putin dari Sistem Keuangan AS

“Saat kami memberikan dukungan ke Ukraina, kami akan melanjutkan untuk berdiri tegak dengan sekutu kami di Eropa dan mengirim pesan yang jelas, bahwa kami akan membela setiap jengkal wilayah NATO,” ujar Biden di Philadelphia, Jumat (11/3/2022), seperti dikutip dari Bloomberg.

“Jika mereka bergerak sekali, kami akan merespons, memang itu Perang Dunia III. Tapi kami memiliki kewajiban suci di wilayah NATO,” lanjut Biden.

Biden menegaskan kembali bahwa AS tidak akan mengambil risiko dengan pertempuran melawan Rusia di Ukraina, termasuk tak akan menerapkan zona larangan terbang.

Baca juga: Donald Trump Salahkan Joe Biden Atas Terjadinya Perang Rusia-Ukraina, Kini Singgung China-Taiwan

“Kami tak akan berjuang pada Perang Dunia III di Ukraina,” kata Biden di depan Partai Demokrat.

Biden juga menolak tawaran untuk menutup langit di atas Ukraina.

Sebelumnya di depan kongres, Komandan Militer AS mengatakan, bisa menembak jatuh pesawat Rusia di langit Ukraina jika zona larangan diberikan.

“Jangan seperti anak-anak. Apa pun yang Anda katakan, itu akan menjadi Perang Dunia III, OK?” kata Biden.

Di sisi lain, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan jajarannya terus meminta agar AS dan NATO untuk menerapkan zona larangan terbang di atas langit Ukraina.

Sailing Yatch A, Kapal Pesiar Terbesar di Dunia Milik Oligarki Rusia Disita Italia, Bernilai Rp9,9 T

Kumpulan Doa Pagi Dimudahkan Rezeki dan Segala Urusan Sesuai Ajaran Nabi, Amalkan Yuk

Menurut Zelensky, hal itu bisa melindungi Ukraina dari usaha Rusia melakukan serangan udara dan pengeboman.

Tetapi, AS dan NATO menegaskan tak akan memuluskan permintaan tersebut.

Karena jika melakukan hal itu berarti telah mendeklarasikan peperangan dengan Rusia.

Sebelumnya, Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson sempat mengungkapkan dirinya merasa tersiksa harus menolak permintaan Zelensky tersebut.

Tetapi ia menegaskan bahwa hal itu berisiko untuk menimbulkan perang terbuka dengan Rusia.

Takut pada Rusia, NATO Tak Izinkan Ukraina Masuk Jadi Anggota

Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg membeberkan alasan mengapa Ukraina belum menjadi anggota mereka, dan penyebab tidak menerapkan zona larangan terbang di negara tersebut.

Dalam wawancara dengan kantor berita AFP pada Jumat (11/3/2022) di sela-sela forum perdamaian di Antalya, Turki, Stoltenberg menyebut keanggotaan Ukraina di NATO adalah tergantung pada keputusan Kyiv.

"Ukraina-lah yang memutuskan apakah mereka ingin menjadi anggota atau tidak. Dan kemudian pada akhirnya, 30 sekutu akan memutuskan masalah keanggotaannya," terang Stoltenberg.

Sebelumnya, dalam wawancara yang disiarkan di ABC News, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky berkata bahwa dia tidak lagi mendesak untuk menjadi anggota NATO, masalah rumit yang menjadi salah satu alasan Rusia menyerang tetangganya yang pro-Barat itu.

"Kami menghormati keputusan Ukraina, terlepas dari apakah mereka mengajukan atau tidak mengajukan keanggotaan. Ini adalah keputusan Ukraina yang berdaulat," lanjut Stoltenberg.

"Masalahnya adalah Rusia tidak menghormati kedaulatan itu. Mereka menggunakan kekuatan militer melawan negara berdaulat yang merdeka karena mereka tidak menyukai keputusan mereka di bawah jalan yang telah mereka pilih," sambungnya.

Kenapa NATO tidak terapkan zona larangan terbang?

"NATO juga tidak ingin invasi Rusia ke Ukraina meluas ke konflik terbuka antara aliansi tersebut dengan Moskwa," ujar Stoltenberg.

Ia memperingatkan, zona larangan terbang kemungkinan akan mengarah pada perang skala penuh.

Penolakan NATO terhadap permintaan Ukraina untuk memberikan perlindungan udara dari rudal dan pesawat tempur Rusia telah menuai kritik keras dari Kyiv, yang menuduh aliansi tersebut memberi Moskwa lampu hijau untuk melanjutkan serangannya.

"Kami bertanggung jawab untuk mencegah konflik ini meningkat di luar perbatasan Ukraina menjadi perang penuh antara Rusia dan NATO," kata Sekjen NATO tersebut kepada AFP di sela-sela forum di Turki.

Dia memperingatkan, zona larangan terbang di atas Ukraina kemungkinan besar akan mengarah pada perang penuh antara NATO dan Rusia, menyebabkan lebih banyak penderitaan, lebih banyak kematian dan kehancuran.

Menurut Stoltenberg, zona larangan terbang di atas Ukraina berarti NATO harus menghancurkan sistem pertahanan udara Rusia tidak hanya di Ukraina, tetapi juga di sekitar Belarus dan Rusia.

"Itu berarti kita harus siap menembak jatuh pesawat Rusia karena zona larangan terbang bukan hanya sesuatu yang Anda nyatakan harus Anda terapkan," katanya kepada AFP di forum diplomasi di Antalya yang diselenggarakan oleh Turki.

Stoltenberg menambahkan, "Yang paling penting adalah Presiden (Vladimir) Putin harus mengakhiri perang yang tidak masuk akal ini."

"Mundurkan semua pasukannya dan tunjukkan itikad baik dalam upaya politik diplomatik untuk menemukan solusi politik," kata Stoltenberg.

Ukraina Tak Bisa Masuk Nato dengan Jalur Cepat

Diketahui, Para pemimpin Uni Eropa (EA) berkumpul pada Kamis (10/3/2022), untuk menyepakati tanggapan bersama terhadap perang di Ukraina.

Dalam pertemuan itu, muncul pandangan yang berbeda tentang seberapa jauh sanksi ekonomi yang akan diterapkan, seberapa cepat untuk memotong impor energi Rusia, dan pemberian keanggotaan Ukraina lewat “jalur cepat”.

"Kami menginginkan Ukraina yang bebas dan demokratis dengan siapa kami berbagi takdir yang sama," kata Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen dalam menunjukkan simpati dan dukungan moral.

Tetapi, para pemimpin Uni Eropa lain menjelaskan bahwa Ukraina tidak akan diizinkan untuk bergabung dengan UE dengan cepat.

Usulan keanggotaan Uni Eropa telah diupayakan oleh Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy dan mendapat dukungan dari tetangga Ukraina di sisi timur.

"Tidak ada prosedur jalur cepat," kata Perdana Menteri Belanda Mark Rutte, penentang utama perluasan Uni Eropa, dikutip dari Reuters.

Sementara, Kanselir Jerman Olaf Scholz mengatakan UE harus memperdalam kemitraannya dengan Ukraina daripada berbicara tentang keanggotaan, yang akan membutuhkan kebulatan suara dari 27 negara anggota.

Scholz tidak mengomentari apakah UE harus melarang impor minyak Rusia, yang juga akan membutuhkan persetujuan semua anggota dan sejauh ini telah dikesampingkan oleh Berlin.

Rusia memasok sekitar sepertiga dari kebutuhan gas dan minyak mentah Jerman. Namun sanksi yang lebih keras didukung oleh Perdana Menteri Latvia Krisjanis Karins.

"Kita harus menghentikan ini. Ukraina sedang berjuang melawan pertarungan kita, mereka sedang berperang melawan militer. Kita harus memasok mereka dengan segala cara yang mungkin," katanya kepada wartawan.

"Dengan sanksi, kita harus melangkah lebih cepat dan lebih jauh," jelas Krisjanis.

Bertemu di Istana Versailles yang mewah di luar Paris, para pemimpin Uni Eropa menapaki garis tipis antara keinginan mereka untuk mendukung Ukraina dan untuk menghindari risiko tersedot ke dalam perang dengan Rusia yang bersenjata nuklir.

"Bisakah kita membuka prosedur keanggotaan dengan negara yang sedang berperang? Saya rasa tidak. Bisakah kita menutup pintu dan berkata, 'tidak pernah'? Itu tidak adil," ungkap Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Dia mengajak pemimpin UE lain untuk berhati-hati soal pemberian keanggotaan Ukraina.

"Mari kita berhati-hati," ucap Macron.

Tepat sebelum KTT, Macron dan Scholz menuntut gencatan senjata segera di Ukraina selama panggilan telepon bersama dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

"Perang di Ukraina adalah trauma yang sangat besar. Tapi itu juga sesuatu yang pasti akan membawa kita untuk sepenuhnya mendefinisikan kembali struktur Eropa," kata Macron.

Kesalahan Besar NATO

Dikutip dari media Rusia TASS, pihak Uni Eropa dianggap membuat kesalahan besar dengan menjanjikan keanggotaan NATO ke Ukraina.

Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk urusan Luar Negeri dan Kebijakan Keamanan, Josep Borrel pun mengakui hal tersebut. Hal itu dia sampaikan dalam sebuah wawancara dengan stasiun TV LCI pada Jumat (11/3/2022).

Dia mengungkapkan ada saatnya pihaknya bisa bereaksi lebih baik lagi terkait sesuatu hal. Sebagai contoh, mengusulkan hal-hal yang tidak bisa Uni Eropa jamin, khususnya terkait bergabungnya Ukraina ke NATO.

"Ada saat-saat kami bisa bereaksi lebih baik. Misalnya, kami mengusulkan hal-hal yang tidak dapat kami jamin, khususnya aksesi Ukraina ke NATO," ujar Josep Borrel.

Dia pun mengakui bahwa janji untuk memasukan Ukraina ke NATO adalah sebuah kesalahan.

"Ini tidak pernah disadari. Saya pikir membuat janji yang tidak dapat kami penuhi itu adalah kesalahan," lanjut Josep Borrel.

Padahal di sebelumnya, Kepala diplomasi Eropa itu mengakui jika Barat telah mulai membangun jalinan hubungan dengan Rusia. "Dengan demikian, kami kehilangan kesempatan untuk membawa Rusia lebih dekat ke Barat," ujar Josep Borrel.

Ukraina Tidak Akan Menyerah

Sebelumnya, melalui video teleconference, Presiden Ukraina Zelensky berjanji tidak akan menyerah.

Dalam pidatonya, ia mengutip frasa terkenal Sastrawan William Shakespeare.

Zelensky menegaskan hasrat kebebasan rakyat Ukraina.

"To be or not to be?' - Anda tahu pertanyaan Shakespeare ini dengan baik. Tiga belas hari yang lalu, pertanyaan ini masih bisa diajukan tentang Ukraina. Tapi tidak sekarang. Jelas, 'menjadi'. Jelas, untuk bebas," kata Zelensky, pada Rabu (9/3/2022) kemarin.

Zelensky mengatakan rakyat Ukraina tidak akan menyerah dan tidak akan kalah dalam menahan serangan Rusia.

Di kesempatan itu juga, Zelensky mengutip kata-kata mantan PM Inggris Winston Churchill di Perang Dunia II, dia menyebut Ukraina akan memperjuangkan negara dengan pengorbanan apapun.

"Kami akan bertarung di laut, kami akan bertarung di udara, kami akan mempertahankan tanah kami, berapa pun biayanya. Kami akan bertarung di hutan, di ladang, di pantai, di kota dan desa, di jalanan, kita akan bertarung di perbukitan.... Dan saya ingin menambahkan: 'kami akan bertarung di ujung rampasan, di tepi Kalmius dan Dnieper! Dan kami tidak akan menyerah'!" tegas Zelensky dengan mata berbinar-binar. (*/ BangkaPos.com)

Artikel ini telah tayang di BangkaPos.com

Sumber: Bangka Pos
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved