Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Tambang Sulut

Cerita Agil Lamaluta, Pengusaha Tambang Sempat Berjaya di Boltim, Pernah Sumbang Emas ke Negara

Agil Lamaluta (63) seorang penambang menceritakan dirinya dulu pernah berjaya sebagai penambang selama 20 tahun yakni mulai 1992 hingga 2012.

Penulis: Rustaman Paputungan | Editor: Aldi Ponge
TRIBUNMANADO/RUSTAMAN PAPUTUNGAN
Lokas tambang emas di Panang, Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) Sulawesi Utara menjadi daerah yang mengandung banyak emas.

Sehingga daerah ini memilik banyak perusahaan tambang emas, Wilayah pertambang rakyat hingga pertambangan tanpa izin.

Di Desa Kotabunan, ada tambang Panang yang menjadi lokasi masyarakat setempat untuk mencari emas

Sehingga warga setempat umumnya melakukan aktivitas penambangan di Panang. Banyak peambang yang berhasil membangun rumah dan menyekolahkan anak-anaknya.

Amaatan TribunManado.co.id di lokasi tambang Panang, tak hanya penambang pria, para istri juga ikut membantu dalam menambang dan pengolahan hasil tambang. 

Para penambang bisa mengumpulkan 20 koli atau karung dalam sehari. Mereka akan membayat pemilik perendaman seharga Rp 7.000 per koli tersebut. 

Agil Lamaluta (63) seorang penambang menceritakan dirinya dulu pernah berjaya sebagai penambang selama 20 tahun yakni mulai 1992 hingga 2012.

Pria ini mengklaim pernah menyumbang emas ke negara saat krisis moneter 1998. 

Agil Lamaluta mengungkapkan awalnya membuat atau menggali sebuah lubang untuk menambang pada 1992. 

"Selang satu tahun lamanya mencari emas, tahun 1993 mulai ada hasilnya. Waktu itu orang kerja berjumlah sekitar 400 orang, dan semuanya masyarakat yang ada di Kecamatan Kotabunan, termasuk dari Buyat," ungkapnya.

Dia mengungkapkan sistem kerja para penambang pada waktu itu dilakukan secara bergantian setiap hari, ada yang masuk siang ada juga malam. 

"Tahun 1993, waktu itu harga satu gram emas masih Rp 16.000, kemudian tahun 2002 naik Rp 28.300, tahun 2008 naik Rp 285.000 per satu gram," ungkapnya.

Dia menceritakan lubang tambangnya sempat mengalami buka tutup pada 2002,2008,dan terakhir tahun 2013. 

"Jika lubang tambang seandainya dibuka kembali, untuk orang kerja hanya 600 - 700 orang itu kurang karena sistemnya tidak sama dengan lalu. Dulu orang kerja diberi makan, tapi sekarang tidak. Sekarang dihitung koli atau per karung. Berapa banyak karung yang diisi, itu dihitung dan langsung dibayarkan," jelasnya

Dia menceritakan lubang tambanya tidak terhitung lagi kedalamannya karena bagian dalam banyak lubang tambahan. 

Halaman
12
Sumber: Tribun Manado
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved