Berita Boltim
Pria Tutuyan Boltim Whitly Mandang Rindu Jepang
Saat ditemui tribunmanado.co.id, Jumat (11/2/2022) di rumahnya, Whitly Mandang mengatakan, ia kembali dari Jepang pada tahun 2017.
Penulis: Rustaman Paputungan | Editor: Rizali Posumah
Manado, TRIBUNMANADO.CO.ID - Whitly Mandang (28) mengaku rindu dengan Jepang, tempat dia menimba ilmu sambil bekerja.
Dia adalah salah satu peserta magang di Jepang Angkatan Pertama tahun 2014, asal Desa Tutuyan, Bolaang Mongondow Timur (Boltim).
Saat ditemui tribunmanado.co.id, Jumat (11/2/2022) di rumahnya, Whitly Mandang mengatakan, ia kembali dari Jepang pada tahun 2017.
"Saya angkatan pertama yakni 2014, dan di sana kurang lebih 3 tahun magang. Kami semuanya ada 24 orang waktu itu ke Jepang," sebutnya.
Ia menceritakan, saat pertama di Jepang agak sulit untuk beradaptasi.
"Karena belum terbiasa. Karena tidak ada teman senior. Karena memang kami angkatan pertama, tapi lama kelamaan sudah bisa beradaptasi," terang dia.
Whitly bekerja di pabrik roti. Di tempatnya bekerja ada 10 orang dari Indonesia, semua asal Sulawesi Utara.
"Lainnya orang Jepang semua yang sudah berumur sekitar 50 - 60 tahun. Jadi kemi campur, dari Junior dan Senior," terang dia.
Setiap tanggal 2 Whitly dan para pekerja lain menerima gaji pokok, sebesar 80.000 Yen atau sekitar Rp 15 Juta.
"Kalau lembur lain lagi, dihitung 1000 Yen lebih, dan hitungannya per jam. Total terima, satu kali sekitar Rp 19 sampai 20 juta," terang dia.
Whitly menuturkan tiap tahun gaji selalu ada kenaikan.
"Waktu pertama kerja saja kami sudah digaji," ujar dia.
Untuk biaya hidup Whitly katakan cukup. Ia bahkan masih menyisihkan sekitar Rp 10 juta untuk dikirim ke orang tua di kampung.
Whitly mengenang, kehidupan di Jepang cocok dengannya. Terlebih, kata dia, orang Jepang baik-baik.
"Walupun pulang dari kerja sudah sedikit larut malam sekitar jam 12 tidak merasa takut, karena di Jepang petugas keamanan atau Polisi aktif terus," ujar dia.