BACAAN ALKITAB
BACAAN ALKITAB: 1 Korintus 14:26-40 “Keteraturan Menghadirkan Damai Sejahtera"
Hampir satu bulan kita telah menikmati kehidupan di tahun baru, tahun anugerah Tuhan, dan GMIM telah berada di periode pelayanan yang baru
Dengan tegas Paulus mengatur hal-hal yang berhubungan dengan penggunaan karunia bahasa Roh yang tidak boleh dipergunakan secara sembarangan, dimana jumlah orang yang berbahasa roh biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang, dan ketika berkata-kata harus seorang demi seorang serta harus ada orang yang menafsirkannya.

Jika tidak ada orang yang menafsirkannya maka orang yang berkata-kata dalam bahasa roh hendaklah berdiam diri dalam pertemuan Jemaat dan hanya boleh berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah.
Tentang karunia bernubuat. Ada aturan jumlahnya yaitu baiklah dua atau tiga orang diantaranya berkata-kata dan yang lain menanggapi atau menguji apa yang mereka katakan. Paulus meminta nabi untuk berbicara secara bergiliran, tidak boleh berbicara serentak, kalau ada yang berbicara maka yang lain harus berdiam diri agar apa yang disampaikan dapat dipelajari dan dimengerti sehingga jemaat beroleh kekuatan dan tidak menimbulkan kekacauan.
Selanjutnya tentang perempuan-perempuan di jemaat Korintus, Paulus melarang mereka untuk berbicara di depan jemaat. Kalau ingin mengetahui sesuatu maka harus menanyakan kepada suaminya di rumah. Mengapa? Paulus katakan, itu yang dikatakan dalam hukum Taurat. Budaya yang ada di waktu itu adalah budaya Patriarkhal Israel yang menempatkan kedudukan perempuan berada di bawah laki-laki. Karena budayanya demikian maka kaum perempuan dianggap tidak sopan apabila berbicara dalam pertemuan jemaat dan itu akan menimbulkan kekacauan.
Paulus menyampaikan hal-hal ini berdasarkan teologinya tentang tubuh Kristus, bahwa jemaat adalah tubuh Kristus, maka seharusnya hidup dalam damai sejahtera. Paulus berpesan agar jemaat berusaha memperoleh karunia untuk bernubuat dan jangan melarang orang berkata-kata dengan bahasa roh tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur.
Makna dan Implikasi Firman
Pada dasarnya setiap orang memiliki karunia Roh dan hendaklah masing-masing mempersembahkan karunia yang berbeda-beda itu supaya dipergunakan untuk membangun persekutuan jemaat. Jangan seorang pun merasa bahwa ia tidak memiliki sesuatu untuk dipersembahkan, sehingga tidak perlu berkontribusi atau merasa tidak dibutuhkan dalam jemaat.
Tuhan Allah menginginkan adanya keteraturan dalam kehidupan berjemaat. Karena itu apapun karunia rohani yang ada di jemaat, gunakanlah semuanya itu secara sopan dan teratur, ada pengendalian diri, ada kerendahan hati supaya jemaat dapat belajar dan beroleh kekuatan.
Keteraturan butuh ketaatan. Marilah kita berjalan bersama-sama dalam kebenaran sehingga kita menjadi orang yang taat aturan. Jangan menjadi orang yang suka melanggar atau menabrak aturan, jangan mengabaikan aturan dan nasihat, karena semua itu akan menimbul-kan kekacauan.
Tuhan Allah tidak menghendaki kekacauan tetapi menginginkan ada damai sejahtera dalam persekutuan Gereja sebagai tubuh Kristus.
Jangan hanya berusaha mendapatkan karunia-karunia Roh, tetapi yang lebih utama kejarlah kasih dan hiduplah dalam kasih, berilah diri kita dibimbing oleh Roh Kudus maka kehidupan kita akan menghasilkan buah Roh.