Berita Sulut
Meski Pandemi, Daya Beli Petani Sulut Membaik, NTP Tahun 2021 Naik 8,22 Persen
Daya beli petani di Sulut membaik di tahun 2022.Meskipun masih pandemi Covid-19, Nilai Tukar Petani Sulut secara kumukatif naik pada tahun 2022
Penulis: Fernando_Lumowa | Editor: Chintya Rantung
TRIBUNMANADO.CO.ID, Manado - Daya beli petani di Sulut membaik di tahun 2022.
Meskipun masih pandemi Covid-19, Nilai Tukar Petani Sulut secara kumukatif naik pada tahun 2022.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut, Asim Saputra menjelaskan, NTP di Sulut pada bulan Desember 2021 turun 0,26 persen.
NTP Sulut tercatat di angka 110,51. Sementara, dibandingkan dengan Bulan November yang masih 110,80.
Penurunan NTP karena kecepatan kenaikan Indeks yang dibayar petani (Ib)lebih tinggi dibanding Indeks yang diterima (It) petani.
"Indeks bayar naik hingga 1,39 persen, sementara Indeks yang diterima hanya 1,12 persen," kata Asim kepada Tribunmanado.co.id, Selasa (04/01/2022).
Dengan demikian, baik secara tahun kalender 2021 maupun YoY (tahun ke tahun) 2021, NTP Sulut telah naik sebesar 8,22 persen.
Sementara, Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) sebaliknya menunjukkan pergerakan positif, naik 1,02 persen.
NTUP Sulut naik dari 110,55 di bulan November menjadi 111,68 di bulan Desember.
Lebih lanjut Asim menjelaskan, NTP yang naik akan terasa dampaknya ketika biaya produksi petani masih lebih rendah dari pendapatan dari hasil produksinya.
NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat daya beli petani, dengan mengukur kemampuan tukar produk yang dihasilkan/dijual petani dibandingkan dengan produk yang dibutuhkan petani baik untuk proses produksi maupun untuk konsumsi rumah tangga petani.
Semakin tinggi NTP dapat diartikan kemampuan daya beli atau daya tukar (term of trade) petani relatif lebih baik dan tingkat kehidupan petani juga lebih baik.
NTUP diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib).
Dimana, komponen Ib hanya terdiri dari Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM).
Dengan dikeluarkannya konsumsi rumah tangga dari komponen indeks harga yang dibayar petani (Ib), NTUP dapat lebih mencerminkan kemampuan produksi petani, karena yang dibandingkan hanya produksi dengan biaya produksinya.