Breaking News:

Berita Sitaro

Bisnis Pakaian Bekas, Wanita Asal Sitaro Ini Raup Omzet Rp 45 Juta Dalam Sebulan

Christi Paparang (23), wanita asal Siau, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) memutuskan untuk melakoni bisnis jual beli pakaian bekas

Penulis: Octavian Hermanses | Editor: Chintya Rantung
Vian Hermanses/tribunmanado.co.id
Christi Paparang dengan pajangan pakaian bekas sebagai barang jualannya 

TRIBUNMANADO.CO.ID, Manado - Berawal dari keinginannya untuk menadapatkan penghasilan sendiri, Christi Paparang (23), wanita asal Siau, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) memutuskan untuk melakoni bisnis jual beli pakaian bekas atau yang dikenal dengan istilah cabo.

Berbekal modal sebesar Rp 8 juta, Paparang memulai bisnisnya sejak awal tahun 2021 ini tepatnya di bulan Januari dengan melakukan pemesanan bal pakaian impor melalui rekananya di Jakarta.

Selang berjalannya waktu, Iti, sapaan akrab Paparang merasakan keuntungan dari bisnisnya tersebut dengan keuntungan mencapai Rp 13 juta hingga Rp 20 juta dalam satu bal pakaian bekas yang dijualnya.

“Pertama pesan hanya satu bal karena menyesuaikan dengan modal awal. Tapi sekarang, sekali pesan sampai dua atau tiga bal,” kata Paparang saat ditemui tribunmanado.co.id di rumahnya, di Kelurahan Akesimbeka Kecamatan Siau Timur, Kamis (9/12/20210.

Menurut Christi, permintaan konsumen terhadap pakaian-pakaian bekas akhir-akhir ini meningkat tajam sehingga dalam sebulan, ia harus melakukan tiga bahkan empat kali pemesanan dari rekanannya di Jakarta.

“Untuk sekarang, sekali pesan itu bisa dua sampai tiga bal. Tergantung stok barang yang ada,” ujarnya sembari menyebut, kondisi ini membuatnya bisa meraup omzet mencapai Rp 45 juta setiap bulannya dengan perhitungan rata-rata penjualan tiga bal dalam sebulan.

Adapun jenis-jenis pakaian yang dipesan dan dijualnnya merupakan barang jenis premium dengan kisaran harga antara Rp 10 juta hingga Rp 13 juta per balanya.

"Jadi memang harga jualnnya agak tinggi karena disesuaikan dengan jenis pakaian yang berkualitas baik serta model yang lagi trend," sebut Paparang.

Meski diakuinya, bisnis jual beli pakaian bekas ini memiliki resiko kerugian yang cukup besar bilamana barang yang dipesannya tidak sesuai harapan, baik dari sisi jumlah maupun kualitas barang.

“Apalagi rekanan tempat kita memesan barang tidak saling kenal, hanya bermodalkan hubungan lewat telepon serta faktor kepercayaan saja. Kadang barang yang kita pesan ada yang rusak sehingga tidak bisa dijual,” ungkap Paparang.

Dalam mempromosikan jualannya, wanita berparas cantik ini mengaku menggunakan beberapa metode, seperti sarana media sosial dengan cara siaran langsung bahkan dari kerabat-kerabat dekat.

“Makanya dalam kondisi jaringan internet yang tidak stabil seperti saat ini, penjualan agak berkurang karena kesulitan melakukan siaran langsung kepada konsumen,” ujar Paparang.

Selama melakoni bisnis barang impor tersebut, ia mengaku belum pernah mendapatkan larangan atau teguran dari kalangan aparat, baik penegak hukum maupun pemerintah setempat.

“Pernah dua kali barang sempat ditahan di Pelabuhan Manado dan diminta membayar. Tapi untuk larangan atau ditegur sejauh ini belum pernah,” ungkap Paparang sembari menyebut beragam kalangan menjadi langganan tetap dari penjualan pakaian-pakaian bekas tersebut.

“Bahkan ada langganan dari luar daerah, sehingga saya sendiri harus melakukan pengiriman barang ketika ada pesanan seperti dari Tahuna, Tagulandang bahkan Manado,” kuncinya. (HER)

Baca juga: 3 Desa di Bolmong Terdampak Bencana Banjir Rob

Baca juga: Berita Foto, Pedagang Cabo di Manado

Baca juga: Jelang Hari Raya Nataru, Penjual Cabo Pasar Bersehati Manado Raup Keuntungan

 

 

 

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved