Berita Nasional
Fakta Baru Kasus Pembunuhan Ibu dan Anak di Subang, Tim Forensik Temukan Ini di TKP
Dokter forensik dr Sumy Hastry Purwanti memberikan penjelasan terbaru soal temuannya saat menganalisa jenazah korban pembunuhan di Subang itu.
TRIBUNMANADO.CO.ID- Kasus pembunuhan ibu dan anak di Subang masih menjadi misteri siapa pelakunya.
Pihak Polda Jabar tak putus asa untuk melakukan penyelidikan.
Mereka terus mencari barang bukti dan saksi.
Baca juga: Babak Baru Kasus Pembunuhan Subang, Terungkap Banyak Hal, Kombes Erdi: Pelaku Secepatnya Diumumkan

Namun sebentar lagi, bakal terkuak siapa pelaku pembunuhan sadis tersabut.
Yang terbaru, kasus yang sempat ditangani Polres Subang kini dialihkan ke Polda Jabar.
Guna mengungkap kasus pembunuhan yang menewaskan Tuti Suhartini (55) dan Amalia Mustika Ratu (23), polisi berupaya mengumpulkan bukti.
Kabarnya, ada tiga saksi yang baru-baru ini diperiksa Polda Jabar terkait kasus pembunuhan Tuti dan Amalia.
Baca juga: Bikin Gerakan ini di TKP Pembunuhan Subang, Yosef Kesurupan Panggil-panggil Nama Anaknya: Amalia
Selaras dengan perkembangan kasus yang kini ditangani Polda Jabar itu, dokter forensik yang menangani autopsi jenazah Tuti dan Amalia turut angkat bicara.
Dikutip TribunnewsBogor.com dari kanal Youtube Denny Darko, dokter forensik dr Sumy Hastry Purwanti memberikan penjelasan terbaru soal temuannya saat menganalisa jenazah korban pembunuhan di Subang itu.
Hal tersebut diungkap dr Hastry usai mendengar pertanyaan dari Youtuber Anjas.
"Setir mobil dan pintu bagasi sudah dihapus sidik jarinya. Apakah masih bisa diselidiki lagi ?" tanya Anjas dilansir pada Rabu (24/11/2021).
Baca juga: Update Pembunuhan Subang, Yoris Sebut Yosef Kesambet setelah Ambil Barang di TKP : Keluar dari Pintu
Dijelaskan dr Hastry, ia masih bisa menyelidiki jejak pelaku dari sidik jari yang tertinggal di TKP pembunuhan Subang.
Lagipula diakui dr Hastry, pelaku pembunuhan ibu dan anak di Subang tak membersihkan sidik jarinya secara utuh.
Hal itu lantaran terduga pelaku melakukan hal tersebut secara terburu-buru.
"Bisa. Karena mungkin waktu ngebersihinnya kan cepat-cepat. Jadi penyidik memang harus lebih hati-hati lagi, lebih lama profesional lagi. Ke depannya memang mengamankan TKP itu penting," pungkas dr Hastry.
Seperti diketahui, terduga pelaku pembunuhan di Subang diduga sempat membersihkan TKP.
Tak cuma TKP, terduga pembunuh juga diduga sempat menghilangkan sidik jarinya di tubuh korban menggunakan sabun.
Meski telah menghapus jejaknya, sidik jari terduga pelaku masih bisa didapat oleh dr Hastry.
"Kemarin Saya sempat tahu, dapat kok dari sidik jari di sekitar mobil, di rumah juga, enggak masalah. Itu kinerja dari teman-teman Inavis, penyidik yang gigih cari-cari dan cari," kata dr Hastry.
Namun diakui dr Hastry, ia tidak berhasil mendapatkan sidik jari pelaku di tubuh korban yakni Tuti dan Amalia.
"Di jenazah memang enggak dapat sidik jari (pelaku)," pungkas dr Hastry.
"Bersih sama sekali ya ?" tanya Anjas.
"Jenazah itu waktu diambil sidik jari itu untuk identifikasi (identitas korban), sesuai KTP. Bukan sidik jari untuk pelaku," ujar dr Hastry.
Turut menyoroti kasus pembunuhan ibu dan anak itu, Anjas mengurai analisa.
"Menurut Saya nanti, pada saat penyidik mengumumkan tersangka, Saya sangat yakin 2 alat bukti tersebut adalah ada hasil dari autopsi. Dari situ nanti muncul pro dan kontra. Ada yang bilang ini framing, ini bukan framing," ungkap Anjas.
Hal tersebut dilayangkan Anjas lantaran mendengar asumsi bahwa TKP pembunuhan di Subang sudah tidak steril.
Berbeda dengan keyakinan Anjas, dr Hastry justru mengurai keyakinan.
Ditegaskan dr Hastry, hasil autopsi yang dianalisanya akan menjadi bukti mutlak yang akan mengungkap siapa pembunuh Tuti dan Amalia.
"Bukti dokter ini bisa terkontaminasi atau di-framing oleh seseorang atau bukti itu sesuatu yang akan mutlak ?" tanya Denny Darko.
"Sesuatu yang akan mutlak," imbuh dr Hastry.
"Karena itu adalah ilmiah. Kasus ini tuh banyak sekali terdistorsi sama opini, BAP yang berubah-ubah," ujar Anjas.
3 Saksi Diperiksa Polda Jabar
Gerak cepat mengusut kasus pembunuhan di Subang, Polda Jabar segera bertindak.
Rupanya, sudah ada tiga saksi yang dipanggil Polda Jabar terkait kasus pembunuhan ibu dan anak di subang tersebut.
Tiga saksi tersebut merupakan saksi yang selama ini jarang diperiksa atau bisa jadi merupakan saksi baru.
Pasalnya, tiga saksi utama dalam kasus Subang, yakni Yoris dan Yosef serta Muhammad Ramdanu alias Danu mengaku belum dipanggil Polda Jabar.
Pemanggilan tiga saksi baru itu sendiri diungkap Kabid Humas Polda Jawa Barat Kombes Pol Erdi A Chaniago.
Menurut Kombes Pol Erdi A Chaniago, sudah ada tiga orang saksi yang dimintai keterangan di Polda Jabar terkait perampasan nyawa ibu dan anak di Subang.
Kendati demikian, Kombes Pol Erdi A Chaniago tidak menyebutkan siapa saja identitas ketiga orang saksi yang menjalani pemeriksaan di Polda Jabar.
"Sejauh ini sudah ada dua atau tiga yang dimintai keterangan di Polda, jadi kita menunggu. Sabar, ya," ujar Kombes Pol Erdi A Chaniago saat ditemui di Halaman Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Selasa (23/11/2021), dikutip dari Tribun Jabar.
Kombes Pol Erdi A Chaniago mengatakan hingga saat ini sudah ada 55 orang saksi yang dimintai keterangan untuk mengungkap kasus Subang.
Semua hasil pemeriksaan dari keterangan para saksi itu, kata Kombes Pol Erdi A Chaniago, akan dipelajari oleh Polda Jabar.
"Apabila sudah mengerucut dan sesuai dengan yang disampaikan atau yang diperiksa oleh Polres Subang, ya mungkin itu akan difokuskan lagi, jadi kita menunggu saja," kata Kombes Pol Erdi A Chaniago.
Sebelumnya, pengungkapan kasus perampasan nyawa ibu dan anak di Kabupaten Subang dilimpahkan dari Polres Subang ke Poda Jawa Barat.
Ditariknya proses penyidikan dan penyelidikan kasus Subang dilakukan untuk mengefektifkan pemeriksaan.
"Untuk kasus Subang, pertanggal 15 November kemarin perkaranya sudah dilimpahkan ke Polda Jabar," ujar Kombes Pol Erdi A Chaniago.
Menurut dia, semua petunjuk dan bukti-bukti yang bersifat konvensional untuk kemudahan penyelidikan dan penyidikan akan disandingkan secara digital.
"Dan kebetulan alat-alatnya ada di Polda Jabar. Jadi, untuk efisiensi waktu dan efektifitas dari penyelidikan dan penyidikan itu kami tarik," pungkas Kombes Pol Erdi A Chaniago.(*)
(TribunnewsBogor, Tribun Jabar)
Artikel ini telah tayang di TribunnewsBogor.com dengan judul Informasi Terbaru Dokter Forensik Hasil Otopsi Kasus Subang, 3 Saksi Diperiksa Intensif di Polda