Digital Activity
Tribun Manado BakuDapa: Masih Banyak Kasus KDRT Tersembunyi di Pedalaman
Memang sudah ada banyak lembaga yang bersedia mendampingi korban kekerasan perempuan dan anak. Tapi pendampingan baru sebatas di perkotaan.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Rizali Posumah
TRIBUNMANADO.CO.ID, Manado - Kekerasan terhadap perempuan dan anak masih jadi masalah klasik di Indonesia.
Memang sudah ada banyak lembaga yang bersedia mendampingi korban kekerasan perempuan dan anak.
Tapi pendampingan baru sebatas di perkotaan.
Di pedalaman banyak kasus kekerasan belum tersentuh. Kendala lainnya adalah korban yang tidak tahu cara melapor serta polisi yang permisif terhadap kasus KDRT.
Seribu satu masalah tentang kekerasan perempuan dan anak jadi bahasan menarik dalam dialog Tribun Manado BakuDapa
Hadir dua aktivis perempuan yakni Jeane Maengkom dan Nurhayati Suratinoyo. Jeane adalah aktivis GPS dan Advokad.
Sementara Nurhayati adalah aktivis GPS dan Swapar.
Berikut petikan wawancaranya yang dipandu Jurnalis senior Tribun Manado Aswin Lumintang:
Bagaimana anda melihat pendampingan yang dilakukan selama ini. Apakah sudah cukup baik atau musti ada yang ditingkatkan?
Nurhayati : Sudah 23 tahun Swara Perempuan eksis. Dan sudah menyatu dengan Gerakan Perempuan Sulut (GPS).
Menurut saya pendampingan harus ditingkatkan. Salah satu masalah adalah SDM.
Sulut ini sangat luas. Pendampingan belum sampai di wilayah pedalaman.
Banyak kasus KDRT yang tersembunyi di pedalaman.
Jadi sosialisasi di padalaman harus terus diberikan oleh GPS. Selama ini metode kami juga adalah merespon aduan.
Bukan menjemput bola. Jadi perlu ada peningkatan mutu.