Breaking News:

Sejarah

Studi Baru Ungkap Bahasa Jepang Korea hingga Turki Berasal dari Tiongkok Kuno

Sesudah sejak lama, asal-usul dan sejauh mana keterkaitan lima kelompok bahasa yang membentuk keluarga bahasa  ini menjadi perdebatan di antara para.

Editor: Rizali Posumah
Dok Kompas.com
iLUSTRASI - Tembok Besar China 

TRIBUNMANADO.CO.ID, Manado - Tim peneliti meyakini semua bahasa seperti Jepang, Korea, Mongolia hingga Turki berasal dari Tiongkok kuno sekitar 9.000 tahun yang lalu.

Sebuah studi baru mereka mungungkap bahwa bahasa-bahasa dari keluarga Transeurasia, yang juga dikenal sebagai rumpun bahasa Altai, dapat ditelusuri kembali ke para petani millet awal di lembah Liao dan penyebarannya didorong oleh pertanian.

Lembah ini sekarang menjadi bagian dari wilayah timur laut Tiongkok.

Sesudah sejak lama, asal-usul dan sejauh mana keterkaitan lima kelompok bahasa yang membentuk keluarga bahasa  ini menjadi perdebatan di antara para ilmuwan.

Namun tim dalam studi baru ini mengatakan bahwa studi mereka "telah menunjukkan inti bukti yang dapat diandalkan" yang mendukung teori bahwa bahasa-bahasa itu muncul dari nenek moyang yang sama.

Berdasarkan bukti genetik dan arkeologi serta analisis linguistik, para peneliti mengatakan bahwa bahasa-bahasa itu menyebar ke utara dan barat ke Siberia dan wilayah stepa, dan ke timur ke Korea dan Jepang saat para petani itu bergerak melintasi Asia timur laut.

 Hasil studi ini seolah menentang "hipotesis pastoralis" tradisional yang mengusulkan penyebaran bahasa-bahasa dipimpin oleh para pengembara saat mereka bermigrasi jauh dari stepa timur.

Namun menurut studi ini, rumpun bahasa Sinitik—yang mencakup bentuk bahasa Tiongkok modern seperti Mandarin dan Kanton—memiliki asal usul yang berbeda.

"Menerima bahwa akar bahasa seseorang—dan sampai batas tertentu budaya seseorang—berada di luar batas-batas nasional saat ini bisa memerlukan semacam reorientasi identitas.

"Dan ini tidak selalu merupakan langkah mudah bagi orang-orang untuk mengambilnya," ujar Martine Robbeets, ahli bahasa komparatif yang penjadi peneliti utama dalam studi ini, seperti dilansir South China Morning Post.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved