Penanganan Covid
Indonesia Incar 3 Obat Antivirus Covid-19, Dua Menteri Lobi Langsung di Amerika
Menkomarinves dan Menkes akan melobi produsen obat-obatan tersebut untuk melakukan uji klinis dan investasi dengan membangun pabrik di Tanah Air.
TRIBUNMANADO.CO.ID - Tiga obat yang disebut sebagai anti virus Covid-19 menarik perhatian pemerintah Indonesia.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, pemerintah sedang menjajaki usaha untuk mendatangkan tiga obat tersebut.
Mengutip warta VOA, Selasa (19/10/2021), ketiga obat tersebut adalah Molnupiravir dari Merck, AT-527 dari Roche dan Atea Pharmaceutical, dan Proxalutamide yang diproduksi oleh Kintor Pharmaceuticals dari China.
“Jadi kita terus memonitor perkembangan obat-obatan untuk virus Covid-19 dan sekarang obat-obatan itu sedang memasuki uji klinis tahap 3,” ujar Budi dalam telekonferensi pers langsung dari Amerika Serikat, Senin (18/10/201).
“Untuk obat-obatan yang promising kami akan menawarkan agar uji klinis tahap 3 bisa dilakukan di Indonesia, sehingga dengan demikian kita bisa lebih cepat mengetahui kecocokan dari obat-obatan Covid-19 baru ini agar bisa digunakan ke rakyat,” tambah dia.
Selain ketiga obat tersebut, kata dia, pemerintah juga sedang melakukan uji klinis obat-obatan yang termasuk ke dalam kategori monoclonal antibody seperti Bamlanivimab dan Etesivimab.
Pemerintah berharap dengan banyaknya perkembangan jenis obat-obatan baru dan cakupan vaksinasi Covid-19 yang semakin luas akan mempercepat proses transisi dari pandemi menuju endemi.
Dalam kesempatan yang sama, Menko Maritim dan Investasi Luhur Binsar Pandjaitan mengatakan dirinya dan Menkes akan melakukan lobi produsen obat-obatan tersebut untuk melakukan uji klinis dan investasi dengan membangun pabrik di Tanah Air.
“Saya saat ini bersama Menkes sedang berada di Amerika Serikat (AS) untuk melakukan pertemuan dengan Merck mengenai obat Molnupiravir,” kata Luhut.
“Ini berproses, ketiga obat tersebut menunjukkan potensi untuk menjadi obat Covid-19,” tekannya.
“Namun saya sampaikan bahwa kita tidak ingin hanya sekadar menjadi pembeli, kita harapkan bisa menjadi produsen obat tersebut, dengan melakukan kerja sama dan melakukan investasi dengan memproduksinya di Indonesia. Itu akan kami temui mereka, hari Rabu di New York,” kata Luhut.
Luhut pun mengklaim situasi pandemi di Indonesia sudah jauh lebih membaik.
Meski begitu ia mengakui bahwa ancaman gelombang ketiga mungkin saja terjadi, apalagi liburan Natal dan Tahun Baru sudah semakin dekat.
Namun, Luhut optimistis bahwa pemerintah akan bisa menangani gelombang ketiga tersebut dengan cukup baik.
“Kalau ini terjadi (gelombang 3), saya kira kita akan bisa bagus dan kalau kita bisa melampaui Nataru ini dengan baik, pada Januari saya kira kita sudah masuk pada endemi karena pada waktu itu saya kira kita harapkan terdapat obat antivirus ini,” tuturnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/menkomarinves-luhut-b-pandjaitan-di-amerika.jpg)