Berita Keuskupan Manado

Suster Biarawati DSY Bagikan Nasi Kotak di Pasar Karombasan, Warnai Pembukaan Sinode Para Uskup

Dalam homilinya, Paus Fransiskus menjadikan pembacaan Injil perjumpaan Yesus dengan seorang pemuda kaya, sebagai titik awal refleksi sinodalitas.

Dokumentasi Puspakusuma
Suster biarawati DSY membagikan nasi kotak kepada warga di Pasar Pinasungkulan, Karombasan, Manado, Sabtu (9/10/2021). 

Misa akan dipimpin Uskup Keuskupan Manado Mgr Benedictus Estephanus Rolly Untu MSC dengan melibatkan perwakilan para Misionaris/Rasul Cilik, Ekaristi, Rosario, Lingkungan Hidup, anak alam, iptek, sosial, doa dan penolong jiwa-jiwa.

Di Vatikan menurut warta Vatikan News, dalam pembukaan Minggu kemarin, umat dari seluruh dunia – termasuk pria dan wanita awam, imam, seminaris, religius wanita dan pria, kardinal dan uskup – ambil bagian dalam liturgi, yang menandai dimulainya proses sinode selama dua tahun.

Dalam homilinya, Paus Fransiskus menjadikan pembacaan Injil hari itu, menceritakan perjumpaan Yesus dengan seorang pemuda kaya, sebagai titik awal refleksi sinodalitas.

“Merayakan Sinode,” katanya, “berarti berjalan di jalan yang sama, bersama-sama.”

Mengikuti teladan Yesus, dia menekankan tiga kata kerja yang menjadi ciri sinode: bertemu, mendengarkan, dan membedakan.

Dalam Injil, kita sering melihat Yesus dalam perjalanan, terbuka untuk bertemu dengan orang-orang yang Ia temui di sepanjang jalan, hadir kepada mereka, dan peduli dengan pertanyaan mereka.

Seperti Yesus, kata Paus, “Kita juga dipanggil untuk menjadi ahli dalam seni perjumpaan.”

Ini melibatkan keterbukaan kepada Tuhan, meluangkan waktu untuk berdoa dan adorasi, dan mendengarkan apa yang dikatakan Roh Kudus kepada kita.

Itu juga membutuhkan keterbukaan kepada orang lain, serta keberanian dan “kesediaan untuk membiarkan diri kita ditantang oleh kehadiran dan cerita orang lain.

Anak-anak mendapatkan nasi kotak yang dibagikan suster biarawati DSY di Pasar Pinasungkulan, Karombasan, Manado.
Anak-anak mendapatkan nasi kotak yang dibagikan suster biarawati DSY di Pasar Pinasungkulan, Karombasan, Manado. (Dokumentasi Puspakusuma)

Paus Fransiskus mengatakan bahwa perjumpaan sejati hanya datang melalui mendengarkan orang lain.

Yesus mendengarkan tidak hanya dengan telinga, tetapi dengan hati. Ketika kita mengikuti Yesus dalam mendengarkan dengan hati, “Orang merasa mereka didengar, bukan dihakimi; mereka merasa bebas untuk menceritakan pengalaman mereka sendiri dan perjalanan spiritual mereka.”

Paus mengundang kita untuk bertanya pada diri sendiri, apakah kita pandai mendengarkan, apakah kita membiarkan orang lain mengekspresikan diri.

Dia mengatakan bahwa Roh Kudus meminta kita untuk mendengarkan “pertanyaan, kekhawatiran, dan harapan setiap Gereja, dan tantangan serta perubahan yang dihadirkan oleh dunia di sekitar kita.”

“Janganlah kita membuat hati kita kedap suara; jangan sampai kita tetap terkurung dalam kepastian kita,” pintanya. Sebaliknya, “Mari kita saling mendengarkan.”

Halaman
123
Sumber: Tribun Manado
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved