Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

G30S PKI

Kisah Warga Lubang Buaya, Lihat Jenasah Para Jenderal Dimasukan, Sempat Diajak Ikut Latihan PKI

Peristiwa makar terhadap negara pemberontakan Gerakan 30 September 1965 atau G30S/PKI masih begitu membekas dalam ingatan.

Editor: Rhendi Umar
Kolase Tribunmanado/Istimewa
Kisah Warga Lubang Buaya, Lihat Jenasah Para Jenderal Dimasukan, Sempat Diajak Ikut Latihan PKI 

Upaya Syakrim untuk membebaskan delapan orang tak berhenti di situ. Ia kemudian membujuk sang Lurah untuk meminjam jabatannya guna membebaskan kedelapan warga tersebut. Bujukan tersebut ternyata diterima sang Lurah.

Tak berselang lama, ia kemudian berangkat menuju Bandung untuk membebaskan warga Lubang Buaya dengan mengklaim dirinya sebagai Lurah.

Sesampainya di lokasi, ia kemudian bernegosiasi dan meyakinkan petugas bahwa kedelapan tersebut sama sekali tidak ada kaitannya dengan PKI. Berjam-jam ia bernegosiasi.

"Mereka selamat, jarang yang bisa ditolong (kalau sudah ditangkap). Alhamdulillah bisa ditolong hanya karena saya ngaku lurah," ujar tokoh Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Nurul Ibad.

Saat membicarakan Lubang Buaya dan Gerakan 30 September, bayangan yang muncul adalah sejumlah adegan pembunuhan yang mencekam, bahkan cenderung sadis.

Gambaran ini dipercaya merupakan kesuksesan dari propaganda Orde Baru melalui film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI (1984) besutan sutradara kawakan Arifin C Noer.

Dalam adegan itu terdapat sejumlah kader PKI yang menari sambil menyanyikan lagu "Genjer-genjer".

Ada juga adegan yang memperlihatkan penyiksaan oleh anggota Gerwani, organisasi perempuan yang terafiliasi PKI.

Dilansir dari BBC Indonesia, informasi mengenai adanya penyiksaan selama ini bersumber dari media yang terkait dengan pemerintah dan tentara.

Harian Angkatan Bersendjata misalnya, yang menerbitkan foto-foto jenazah dengan narasi: "perbuatan biadab berupa penganiayaan yang dilakukan di luar batas perikemanusian".

Terkait penyiksaan, sumber ini ditulis Berita Yudha, koran milik tentara, yang menulis: "bekas-bekas luka di sekujur tubuh akibat siksaan sebelum ditembak" masih membalut tubuh-tubuh para korban.

Akan tetapi, hasil otopsi tidak memperlihatkan adanya peristiwa seperti yang digambarkan dalam film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI atau pemberitaan media itu.

Sosiolog Ben Anderson melalui tulisannya "How Did The Generals Die" pada 1987, menulis hasil otopsi yang dilakukan di rumah sakit tentara pada 4 Oktober 1965. Otopsi itu ditandatangani oleh Jenderal Soeharto dan Presiden Soekarno.

Dalam laporan otopsi, disebutkan bahwa penyebab kematian mereka karena tembakan senjata api dan trauma yang mungkin disebabkan pukulan dari senjata.

Selain itu, laporan otopsi mencatat kerusakan pada tubuh sejumlah jenderal terjadi karena jenazah mereka terbaring selama sekian lama di dasar sumur yang lembab.

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved