Breaking News:

Berita Manado

Keberadaan Bandara Sam Ratulangi Manado Menurut Perspektif Jopie JA Rory

Simak perbincangan antara Tribun Manado dengan Staf Khusus Bupati Minut Jopie Rory, Bupati Minahasa Utara (Minut) Joune Ganda, dan GM Angkasa Pura I.

Penulis: Isvara Savitri | Editor: Rizali Posumah
tribunmanado.co.id/Isvara Savitri
Ruang tunggu keberangkatan Bandara Internasional Sam Ratulangi, Manado, Sulawesi Utara, Rabu (1/9/2021). 

TRIBUNMANADO.CO.ID, Manado - Bandar Udara Internasional Sam Ratulangi merupakan satu-satunya bandara yang masih aktif di Sulawesi Utara (Sulut).

Namun rupanya, masih banyak yang perlu dikaji terkait Bandara Sam Ratulangi ini.

Letak geografisnya pun masih menjadi polemik antara dua daerah yaitu Manado dan Minahasa Utara (Minut).

Bagaimana pengaruhnya terhadap kedua kabupaten dan kota tersebut?

Simak perbincangan antara Tribun Manado dengan Staf Khusus Bupati Minut Jopie Rory, Bupati Minahasa Utara (Minut) Joune Ganda, dan General Manager Angkasa Pura I Bandara Sam Ratulangi Mingus ET Gandeguai berikut ini:

Bisa dijelaskan sedikit terkait sejarah Bandar Udara Internasional Sam Ratulangi?

JR: Adanya Bandara Sam Ratulangi bermula dari tahun 1942 yang dibangun oleh Jepang dan langsung dinamakan Bandar Udara Mapanget, memiliki luas 700 meter persegi dan lebar 23 meter persegi.

Dari sisi perkembangan tersebut, sempat berganti nama pada tahun 1959 di zaman Permesta karena ada tentara yang gugur bernama Tugiman sehingga diganti menjadi nama Bandar Udara Sersan Mayor Tugiman.

Selanjutnya dalam perkembangan juga sempat berganti nama menjadi Lapangan Udara A A Maramis.

Kemudian dalm catatan yang berkembang pada 1994 berganti menjadi Bandar Udara Internasional Sam Ratulangi.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved