MTPJ 5 11 September 2021
BACAAN ALKITAB: Yudas 1:17-25 “Jangan Menjadi Pemecah-belah Persekutuan”
Gereja adalah persekutuan orang percaya, qahal YHWH (baca: Adonai) yang dikuduskan dan yang dipanggil keluar dari dalam gelap ke dalam terang-Nya
TEMA BULANAN : “Diperlengkapi Untuk Memperkokoh Gereja dan Bangsa”
TEMA MINGGUAN : “Jangan Menjadi Pemecah-belah Persekutuan”
ALASAN PEMILIHAN TEMA
TRIBUNMANADO.CO.ID - Gereja adalah persekutuan orang percaya, qahal YHWH (baca: Adonai) yang dikuduskan dan yang dipanggil keluar dari dalam gelap ke dalam terang-Nya yang ajaib (ekklesia; kuriakhe/milik Tuhan; 1 Petrus. 2:9-10), yang hadir di tengah dunia untuk melaksanakan tugas-tugasnya.
Persekutuan merupakan hal bersekutu, persatuan, perhimpunan, ikatan (orang-orang yang sama kepentingannya. Persekutuan orang Kristen artinya orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat yang terikat dan berinteraksi satu sama lain dalam ikatan kasih Kristus. Persekutuan yang membangun komitmen iman yang terjalin dalam hubungan yang akrab dengan Tuhan dan sesama.
Gereja sebagai wadah dari kumpulan orang-orang percaya tetap menghadapi tantangan baik dari dalam maupun dari luar gereja. Tantangan dari luar jelaslah dapat kita lihat dari penganiayaan orang-orang percaya, sedangkan dari dalam ialah krisis iman yang disebabkan oleh pengaruh ajaran sesat. Tidak lepas dari tantangan yang ada, setiap orang Kristen, walaupun mereka sudah berhasil mempertahankan dan membina iman, tetap mempunyai tanggung jawab di dalam menghadapi penyesat yang berada di sekitar bahkan di dalam gereja, sehingga menimbulkan perpecahan.
Untuk itu gereja atau orang percaya perlu memiliki sikap, baik kepada diri sendiri (intern) maupun kepada para penganut ajaran sesat (ekstern) dalam rangka menjaga persekutuan supaya tetap utuh, solid dan rukun sehingga tidak terpecah-belah oleh karena perbedaan, kepentingan diri, kelompok dan ajaran-ajaran yang menyesatkan. Oleh karena itu tema minggu ini : Jangan Menjadi Pemecah-belah Persekutuan.
PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)
Surat Yudas ditulis kira-kira antara tahun 50 sampai dengan 80 M yang ditujukan kepada para orang Kristen yang setia terpanggil, serta dikasihi dalam Allah Bapa, dan yang dipelihara untuk Yesus Kristus” (Yudas 1:1). Tujuan surat ini untuk mendorong orang percaya supaya “tetap berjuang untuk mempertahankan iman” melawan para guru palsu yang telah menyusup ke dalam Gereja dan yang telah menunjukkan perilaku amoral serta ajaran-ajaran palsu yang menyangkal Tuhan Yesus Kristus (Yudas 1:3).
Yudas 1:17-25 diawali dengan kata: “Tetapi…” tujuannya untuk membedakan atau pembanding, maksudnya adalah pengikut Kristus cara hidupnya harus berbeda dengan orang duniawi yang tidak mengenal hukum Tuhan.
Ayat 17b, Yudas mengingatkan agar orang percaya sadar dan hidup demi mempertahankan iman sesuai dengan ajaran yang dikatakan para rasul. Kata, ingatlah menegaskan bahwa perkataan rasul-rasul (bdk. 2 Petrus 3:2 1 Korintus 2:13) telah memberi jaminan bahwa Kitab Suci bukan hanya ajarannya yang benar, tetapi juga setiap kata-katanya (inerrant).
(ayat 18), bahwa menjelang akhir zaman’ yakni masa di antara kedatangan Yesus yang pertama dan kedua disebut zaman akhir.
Pada saat ini akan tampil nabi-nabi palsu. Pada saat-saat akhir, makin mendekati kedatangan Kristus kembali akan muncul nabi palsu (bdk. Matius 24:11,24; 2 Tesalonika 2:3-10; Wahyu 13:11-17). Mereka itu disebut pengejek-pengejek’ adalah orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsu kefasikan. Mereka disebut juga sebagai pemecah-belah (Yun. apodiorizontev: pecah-belah; menyebabkan perselisihan; membedakan). Pemecah-belah menunjukkan penetapan garis-garis pemisah yang menimbulkan sikap perpecahan.
Selanjutnya sikap memecah-belah ini menunjukkan adanya rasa diri lebih tinggi pada pihak para guru palsu tersebut. Mereka menghinakan kebaikan dan tingkah laku mereka dikuasai oleh keinginan hawa nafsu semata (keinginan-keinginan dunia), dan mereka hidup tanpa Roh Kudus. (ayat 19).
Menghadapi para pengejek orang percaya harus mempertahankan iman dengan membangun diri sendiri di dalam iman yang paling suci/kudus. Iman kudus ialah penyataan Perjanjian Baru yang disampaikan kepada mereka oleh Kristus dan para rasul (lih. Yudas 1:3). Hal ini menuntut agar mereka mempelajari Firman Allah dan mempunyai ketetapan teguh untuk berusaha mengetahui kebenaran dan ajaran Alkitab (bdk. Kisah Para Rasul 2:42; 20:27; 2 Timotius 2:15; Ibrani 5:12).
Lalu berdoa dengan kemampuan yang diberikan Roh Kudus, yaitu dengan memohon Roh Kudus untuk mengilhami, menuntun, menguasai, memelihara, dan menolong untuk berjuang dalam doa (bdk. Galatia 4:6; Efesus 6:18). Berdoa dalam Roh termasuk berdoa dengan pikiran dan berdoa dengan roh. Doa adalah sesuatu yang penting supaya bisa membangun iman orang percaya secara pribadi.
Dengan tetap memelihara kehidupan dan tinggal dalam lingkaran kasih Allah yang menyelamatkan. Inilah bentuk ketaatan kepada Allah dan Firman-Nya (Yohanes 15:9-10). Tetapi dengan demikian itu berarti bahwa kita juga harus memelihara kasih kita kepada Allah, karena itu adalah dasar ketaatan kita (Yohanes 14:15,21a) sambil menantikan (menunjuk akhir zaman) rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal’ . Kata ‘rahmat’ ( Ing. mercy: belas kasihan). (ayat 20-21).
Membangun diri dalam iman, berdoa dalam Roh Kudus, dan memelihara diri dalam kasih Allah bukanlah jaminan, tetapi orang percaya tetap membutuhkan rahmat dari Tuhan Yesus Kristus, karena apapun yang dilakukan tidak bisa menyelamatkan dan mengampuni serta membawa orang percaya ke surga!
Setelah membicarakan hal-hal yang harus dilakukan untuk diri sendiri, sekarang ia membicarakan tentang bagaimana bertindak dan melayani kepada orang lain. Tunjukkanlah belas kasihan kepada mereka yang ragu-ragu’ (Yun. diakrinomenous: ‘ragu-ragu’ (bdk. Yakobus. 1:6; Matius 21:21 ; Markus, 11:22 ; Roma, 4:20).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/ilustrasi-renungan-555.jpg)