HUT RI
Kisah Fatmawati Menangis saat Menjahit Saka Merah Putih: 'Saya Menumpahkan Air Mata di Atas Bendera'
Cerita Fatmawati Menangis saat Jahit Bendera Saka Merah Putih. Tumpahkan air mata di atas bendera.
"Cinta pada pandangan pertama" mungkin ungkapan yang tepat untuk menjelaskan awal munculnya benih cinta di antara Bung Karno dan Ibu Fatmawati.
"Masih kuingat aku mengenakan baju kurung merah hati dan tutup kepala voile kuning dibordir," kata Fatmawati saat melukiskan pertemuan pertamanya itu dalam buku yang ditulisnya, Catatan Kecil Bersama Bung Karno (1970).
Pertemuan itu menggetarkan hati Bung Karno dan ingin menikahi Fatmawati.
Hal tersebut disampaikan langsung oleh Bung Karno dua tahun kemudian,
ketika Fatmawati meminta nasihatnya sehubungan dengan adanya seseorang yang meminangnya.
Fatmawati pun akhirnya menikah dengan Bung Karno pada Juli 1943.
Kisah menjahit bendera
Setahun setelah pernikahannya itu, Jepang menjanjikan kemerdekaan untuk Indonesia.
Bendera Merah Putih juga boleh dikibarkan dan lagu kebangsaan Indonesia Raya diizinkan berkumandang.
Fatmawati kemudian berpikir bahwa memerlukan bendera Merah Putih untuk dikibarkan di Pegangsaan 56.
"Pada waktu itu tidak mudah untuk mendapatkan kain merah dan putih di luar," tulis Chaerul Basri dalam artikelnya "Merah Putih, Ibu Fatmawati, dan Gedung Proklamasi" yang dimuat di Harian Kompas, 16 Agustus 2001.
"Barang-barang eks impor semuanya berada di tangan Jepang, dan kalau pun ada di luar, untuk mendapatkannya harus dengan berbisik-bisik," tulisnya.
Berkat bantuan Shimizu, orang yang ditunjuk oleh Pemerintah Jepang sebagai perantara dalam perundingan Jepang-Indonesia, Fatmawati akhirnya mendapatkan kain merah dan putih.
Shimizu mengusahakannya lewat seorang pembesar Jepang, yang mengepalai gudang di Pintu Air di depan eks Bioskop Capitol.
Bendera itulah yang berkibar di Pegangsaan Timur saat proklamasi kemerdekaan Indonesia.