Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Info Kesehatan

Tanda Virus Marburg Sudah Menyerang Tubuh, Penyakit Ganas yang Muncul Lagi, WHO Keluarkan Peringatan

Info penting dari WHO. Di tengah pandemi covid 19 muncul lagi satu penyakit ganas. Namanya virus marburg. WHO keluarkan peringatan. 

Kolase Tribun Manado/Handhika Dawangi
Tanda-tanda Virus Marburg sudah menyerang tubuh. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Info penting dari WHO. Di tengah pandemi covid 19 muncul lagi satu penyakit ganas. 

Namanya virus marburg. WHO keluarkan peringatan

Ini tanda atau gejala virus marburg sudah menyerang tubuh.

Baca juga: Bantuan Kuota Data Internet Dilanjutkan, Pemerintah Menjamin Pendidikan Berkualitas di Masa Pandemi

Baca juga: Sosok Yenny Wahid, Hari Ini Umumkan Pengunduran Diri dari Komisaris Independen PT Garuda Indonesia

Baca juga: Tanda Virus Corona Menyerang Tubuh, Ini yang Dirasakan, Simak Penjelasannya

Virus Marburg - Mengenal apa itu virus Marburg, lengkap beserta gejala, diagnosa, dan pengobatannya. (bbc.com)

Masyarakat harus waspada.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) merilis peringatan akan munculnya virus Marburg.

Virus Marburg adalah penyakit ganas yang menyebabkan demam berdarah.

Mengutip laman resmi WHO, virus Marburg ini disebutkan memiliki rasio kematian hingga 88%.

WHO menyebut virus Marburg masuk dalam keluarga yang sama dengan virus Ebola.

Kasus baru virus Marburg beberapa waktu lalu dilaporkan terjadi di Guinea.

Ini tanda Virus Marburg menyerang tubuh. Ini yang akan dirasakan. (Kolase Tribun Manado/Handhika Dawangi)

Dilaporkan seorang pasien mencari perawatan di klinik setempat pekan lalu dan meninggal tak lama kemudian.

Ini adalah kasus pertama yang diketahui dari penyakit virus Marburg di Guinea dan di Afrika Barat.

Menurut WHO, sebelumnya virus Marburg ini pertama kali muncul di Marburg, dan Frankfurt Jerman, dan di Beograd, Serbia pada tahun 1967.

Wabah ini terkait dengan pekerjaan laboratorium menggunakan monyet hijau Afrika (Cercopithecus aethiops) yang diimpor dari Uganda.

Setelah itu, wabah dan kasus sporadis telah dilaporkan di Angola, Republik Demokratik Kongo, Kenya, Afrika Selatan (pada seseorang dengan riwayat perjalanan ke Zimbabwe) dan Uganda.

Pada tahun 2008, dua kasus independen dilaporkan pada pelancong yang mengunjungi gua yang dihuni oleh koloni kelelawar Rousettus di Uganda.

Penularan infeksi manusia dengan virus Marburg bermula dari kontak yang terlalu lama dengan tambang atau gua yang dihuni koloni kelelawar Rousettus.

Setelah seseorang terinfeksi, virus Marburg dapat menyebar melalui penularan dari manusia ke manusia melalui kontak langsung (melalui kulit yang rusak atau selaput lendir) dengan darah.

Tak hanya itu, virus Marburg juga bisa menyebar melalui sekresi, organ, atau cairan tubuh lain dari orang yang terinfeksi, dan dengan permukaan dan bahan.

Gejala Virus Marburg

Penyakit yang disebabkan oleh virus Marburg dimulai secara tiba-tiba, dengan demam tinggi, sakit kepala parah dan malaise parah.

Kemudian pada hari ketiga, penderita virus Marburg mulai merasakan diare yang parah, sakit perut dan kram, mual dan muntah.

Diare yang dialami para penderita virus Marburg bisa bertahan selama seminggu.

Kemunculan pasien pada fase ini digambarkan sebagai fitur 'seperti hantu', mata yang dalam, wajah tanpa ekspresi, dan kelesuan yang ekstrem.

Ruam non-gatal telah dicatat antara 2 dan 7 hari setelah timbulnya gejala.

Banyak pasien mengalami manifestasi perdarahan berat dalam 7 hari, dan kasus yang fatal biasanya mengalami perdarahan, seringkali dari beberapa area.

Darah segar pada muntahan dan feses sering disertai dengan pendarahan dari hidung, gusi, dan area organ intim wanita.

Pendarahan spontan di tempat tusukan vena (di mana akses intravena diperoleh untuk memberikan cairan atau mengambil sampel darah) bisa sangat merepotkan.

Selama fase penyakit yang parah, pasien mengalami demam tinggi.

Keterlibatan sistem saraf pusat dapat mengakibatkan kebingungan, lekas marah, dan agresi.

Bahkan, orchitis atau radang testis juga bisa dialami oleh penderita pada fase akhir atau hari ke-15.

Dalam kasus yang fatal, kematian biasanya terjadi antara 8 dan 9 hari setelah onset, biasanya didahului dengan kehilangan darah yang parah dan syok.

Cara Mengatasi Virus Marburg

Saat ini belum ada pengobatan yang terbukti untuk mengatasi penyakit virus Marburg.

Namun, kata WHO, berbagai perawatan potensial termasuk produk darah, terapi kekebalan, dan terapi obat saat ini sedang dievaluasi.

Untuk membedakan secara klinis penyakit akibat virus Marburg dari penyakit menular lainnya seperti malaria, demam tifoid, shigellosis, meningitis dan demam berdarah sangat sulit.

Akan tetapi, untuk mendeteksi virus Marburg bisa dilakukan seperti berikut ini:

- Antibodi terkait enzim immunosorbent assay (ELISA);

- Tes deteksi antigen;

- Tes netralisasi serum;

- Uji reaksi berantai polimerase transkriptase balik (RT-PCR); dan

- Isolasi virus dengan kultur sel.

Tanda Virus Marburg Sudah Menyerang Tubuh

Berikut ini penjelasan mengenai virus Marburg, lengkap beserta gejala dan pengobatannya.

Dikutip dari WHO, virus Marburg dikatakan sebagai penyakit ganas yang memiliki gejala seperti demam berdarah, dengan rasio kematian hingga 88%.

Penyakit virus Marburg berawal dari hasil kontak yang terlalu lama dengan tambang atau gua yang dihuni oleh koloni kelelawar Rousettus.

Setelah seseorang terinfeksi, virus Marburg dapat menyebar melalui penularan dari manusia ke manusia lewat kontak langsung (melalui kulit yang rusak atau selaput lendir) dengan darah, sekresi, organ atau cairan tubuh lain dari orang yang terinfeksi.

Tak hanya itu, virus Marburg juga menular lewat permukaan dan bahan (misalnya tempat tidur, pakaian) yang terkontaminasi cairan tubuh penderita.

Masa inkubasi penyakit virus Marburg ini bervariasi, mulai dari 2 hingga 21 hari.

Dua wabah besar yang terjadi secara bersamaan di Marburg dan Frankfurt di Jerman, serta di Beograd, Serbia, pada 1967, menyebabkan pengenalan awal virus Marburg.

Wabah ini terkait dengan pekerjaan laboratorium yang menggunakan monyet hijau Afrika (Cercopithecus aethiops) yang diimpor dari Uganda.

Selanjutnya, wabah dan kasus sporadis telah dilaporkan di Angola, Republik Demokratik Kongo, Kenya, Afrika Selatan (pada seseorang dengan riwayat perjalanan baru-baru ini ke Zimbabwe), dan Uganda.

Pada 2008, dua kasus independen juga dilaporkan menjangkiti pelancong yang mengunjungi gua yang dihuni oleh koloni kelelawar Rousettus di Uganda.

Gejala Virus Marburg

Berikut gejala awal yang dialami ketika seseorang terinfeksi virus Marburg, dikutip dari medicinenet.com:

- Demam;

- Panas dingin;

- sakit kepala;

- Nyeri otot.

Sekitar lima hari setelah gejala pertama kali muncul, gejala lain dapat muncul sebagai berikut:

- Beberapa orang mengalami ruam di dada, punggung, dan perut;

- Mual;

- Muntah;

- Sakit dada;

- Sakit tenggorokan;

- Sakit perut;

- Diare.

Gejala berlanjut dan bisa menjadi parah, di antaranya:

- Penyakit kuning;

- Peradangan pankreas;

- Penurunan berat badan yang parah;

- Penurunan kesadaran;

- Gagal hati;

- Pendarahan besar dengan disfungsi organ.

Diagnosa dan Pengobatan Virus Marburg

Sulit untuk membedakan secara klinis penyakit virus Marburg dari penyakit menular lainnya seperti malaria, demam tifoid, shigellosis, meningitis, dan demam berdarah virus lainnya.

Pemeriksaan bahwa gejala yang dialami disebabkan oleh infeksi virus Marburg dapat menggunakan metode diagnostik berikut:

- Antibodi terkait enzim immunosorbent assay (ELISA);

- Tes deteksi antigen;

- Tes netralisasi serum;

- Uji reaksi berantai polimerase transkriptase balik (RT-PCR); dan

- Isolasi virus dengan kultur sel.

Sampel yang dikumpulkan dari pasien merupakan risiko biohazard yang ekstrem dan pengujian laboratorium pada sampel yang tidak dinonaktifkan perlu dilakukan di bawah kondisi penahanan biologis maksimum.

Semua spesimen biologi harus dikemas menggunakan sistem triple packaging saat diangkut secara nasional dan internasional.

Seperti Ebola dan banyak penyakit virus lainnya, belum ada pengobatan khusus untuk penyakit virus Marburg.

Namun, berbagai perawatan potensial termasuk produk darah, terapi kekebalan dan terapi obat saat ini sedang dievaluasi.

Pasien juga bisa diberikan perawatan rumah sakit dengan menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit dan pertimbangan lain, seperti mengganti darah yang hilang dan mempertahankan suplai oksigen yang baik.

Perawatan ini paling efektif dilakukan di unit perawatan intensif rumah sakit.

Tidak ada pengobatan rumahan untuk mengobati infeksi virus Marburg.

Kebanyakan orang yang mengalami infeksi virus Marburg harus dirawat di rumah sakit di unit perawatan intensif.

(Tribunnews.com/Latifah/Yurika)

Berita Terkait Info Kesehatan

SUMBER;

https://www.tribunnews.com/kesehatan/2021/08/12/apa-itu-virus-marburg-berikut-gejala-diagnosa-dan-pengobatannya?page=all

https://www.tribunnews.com/kesehatan/2021/08/12/muncul-virus-marburg-mirip-ebola-who-rasio-kematian-hingga-88?page=all

Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved