Jumat, 1 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

PLN

PLN Ujicoba Co-firing Biomass di PLTU Amurang, Manfaatkan Limbah Kayu dan Eceng Gondok

PLN memulai ujicoba co-firing menggunakan biomass di PLTU Unit 2 Amurang. Uji coba ini sebagai upaya PLN meningkatkan bauran  Energi Baru Terbarukan

Tayang:
Penulis: Fernando_Lumowa | Editor: David_Kusuma
Tribun Manado / Fernando Lumowa
PLN memulai uji coba co-firing biomass di PLTU Unit 2 Amurang, Jumat (25/06/2021).  

Manado, TRIBUNMANADO.CO.ID - PLN memulai uji coba co-firing menggunakan biomass di PLTU Unit 2 Amurang.

Uji coba ini sebagai upaya PLN meningkatkan bauran  Energi Baru Terbarukan (EBT) pada pembangkit yang sebelumnya menggunakan bahan bakar fosil seperti BBM dan batubara.

Khusus di PLTU 2 Sulut, PLN menggunakan sawdust, serbuk kayu; woodchip, potongan kayu limbah industri rumah panggung dan eceng gondok sebagai sumber energi primernya.

Biomass itu digunakan karena sangat berlimpah di Sulut, khususnya di Minahasa, Minsel dan Tomohon.

Baca juga: PT Pelindo IV Cabang Bitung Beri Snack untuk Anak Korban Kebakaran Pasar Tua Bitung

Untuk woodchip misalnya, selain dari limbah industri rumah panggung, bisa diproses dari Pohon Kaliandra yang banyak tumbuh di Tanah Minahasa.

Sedangkan eceng gondok, merupakan tanaman liar yang menjadi ancaman ekosistem Danau Tondano.

Ujicoba Co-firing biomass di PLTU Unit 2 Amurang sejatinya sudah dimulai sejak Maret 2021 yakni tahap uji material oleh TEKMIRA.

Andreas Arthur Napitupulu, Manager PLN UPKD (Unit Pelaksana Pengendalian Pembangkitan Minahasa) bilang, jika dalam ujicoba selang Juli-Agustus,  hasil uji tidak memberikan dampak katastropi pada pembangkit, co-firing dilanjutkan.

"Kita yakin bisa karena di luar negeri, co-firing sukses dan 100 persen biomass. Di Korsel misalnya," ujar Andreas di sela peresmian ujicoba Co-firing PLTU Unit 2 Amurang di PLTU 2 Sulut, Jumat (25/06/2021).

Untuk awalnya, PLN akan mencoba formula 5 persen biomass dari total volume batubara yang diperlukan.

Sebagai pembanding, dibutuhkan 21 ton batubara untuk operasional satu unit pembangkit selama lima jam.

Baca juga: Tangis Pilu Wakapolres Jaksel, Tak Mampu Tolong Warga Kritis Covid-19, Janjinya Tak Bisa Ditepati

Estimasi harga batubara rata-rata Rp 650 per kg dan biaya persiapan biomass sebesar Rp 550 per kg.

Co-firing batu bara dengan biomass yang terdiri dari campuran sawdust, woodchip dan eceng gondok menghasilkan  efisiensi Rp 4,25 per kWh.

Dengan asumsi daya yang dihasilkan  PLTU Amurang 25 MW (Megawatt) dengan co-firing 85 persen, dalam satu tahun bisa menghemat Rp 791 juta atau Rp 1,5 miliar untuk dua unit pembangkit.

Potensi sawdust dari industri rumah kayu menjadi bahan biomass sangat menjanjikan karena tingkat panasnya 3.986 kCal/kg.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved