Breaking News:

Berita Talaud

Kisah Yesen Malembori, Pemuda Sangihe yang Mengadu Nasib di Perbatasan NKRI Kabupaten Talaud

Di sektor ekonomi, pandemi tidak hanya berimbas pada perusahaan-perusahaan tetapi masyarakat kecil pun juga ikut terkena imbasnya.

Penulis: Ivent Mamentiwalo | Editor: Rizali Posumah
tribunmanado.co.id/Ivent Mamentiwalo
Yesen Malembori 28 tahun warga Kabupaten Kepulauan Sangihe nampak tengah sibuk dengan pekerjaannya. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, Manado - Hingga saat ini, pandemi akibat menyebarnya virus covid-19 masih belum juga berakhir.

Adanya pandemi ini  berimbas pada sektor pendidikan, sosial, bahkan ekonomi.

Di sektor ekonomi, pandemi tidak hanya berimbas pada perusahaan-perusahaan tetapi masyarakat kecil pun juga ikut terkena imbasnya.

Meski begitu, beberapa pengusaha kecil ini berusaha untuk tetap bertahan. Satu di antara mereka adalah Yesen Malembori (28).

Pemuda asal Kabupaten Kepulauan Sangihe ini membagi cerita kehidupannya selama mengadu nasib di Talaud, sebuah kepulauan di Perbatasan NKRI

Kepada Tribun Manado Selasa (22/6/2021), Yesen menuturkan, dirinya hanya bermodalkan nekat saat datang mengadu nasib kerja di Talaud pada tahun 2014 silam.

Yesen Malembori 28 tahun warga Kabupaten Kepulauan Sangihe nampak tengah sibuk dengan pekerjaannya.
Yesen Malembori 28 tahun warga Kabupaten Kepulauan Sangihe nampak tengah sibuk dengan pekerjaannya. (tribunmanado.co.id/Ivent Mamentiwalo)

Yesen ketika itu tak sendiri. Dengan kemauan kerja yang tinggi, ia ditemani empat temannya dari Sangihe.

Yesen berasal dari Desa Manganitu Kabupaten Sangihe.

Selama berada di kabupaten kepulauan Talaud Yesen dan ke tiga teman nya bekerja di salah satu toko bangunan yang terletak pusat kota Melonguane.

Dengan gaji dibawah standar UMP dan hanya bisa bertahan beberapa bulan saja. 

Halaman
123
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved