Berita Sulut
BKKBN Provinsi Sulawesi Utara Gelar Apel Memperingati HARGANAS ke- 28
Hari Keluarga Berencana Nasional (HARGANAS) Ke-28, diperingati oleh seluruh lapisan masyarakat, baik unsur pemerintah, hingga swasta.
Sedangkan di kawasan Asia Tenggara,prevalensi stunting di Indonesia merupakan tertinggi kedua, setelah Kamboja.
Stunting atau sering disebut kerdil atau pendek adalah kondisi gagal tumbuh pada anak berusia di bawah lima tahun (balita) akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu dari janin
hingga anak berusia 23 bulan.
Anak tergolong stunting apabila panjang atau tinggi badannya berada di bawah minus dua standar deviasi panjang atau tinggi anak seumurnya.
Balita/Baduta (Bayi dibawah usia dua tahun) yang mengalami stunting akan memiliki tingkat kecerdasan tidak maksimal, menjadikan anak lebih rentan terhadappenyakit dan di masa depan dapat beresiko pada menurunnya tingkat produktivitas.
Pada akhirnya secara luas stunting akan dapat menghambat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kemiskinan dan memperlebar ketimpangan.
Pengalaman dan bukti Internasional menunjukkan bahwa stunting dapatmenghambat pertumbuhan ekonomi dan menurunkan produktivitas pasar kerja, sehingga mengakibatkan hilangnya 11% GDP (Gross Domestic Products) serta mengurangi pendapatan pekerja dewasa hingga 20%.
Selain itu, stunting juga dapat berkontribusi pada melebarnya kesenjangan/inequality, sehingga mengurangi 10% dari total
pendapatan seumur hidup dan juga menyebabkan kemiskinan antar-generasi.
Dalam pencegahan stunting perlu dititikberatkan pada penanganan penyebab masalah gizi yang langsung maupun tidak langsung.
Penyebab langsung mencakup masalah kurangnya asupan gizi dan penyakit infeksi.
Sementara, penyebab tidak langsung mencakup ketahanan pangan (akses pangan bergizi), lingkungan sosial (pemberian
makanan bayi dan anak, kebersihan, pendidikan, dan tempat kerja), lingkungan kesehatan (akses pelayanan preventif dan kuratif), dan lingkungan pemukiman (akses air bersih, air minum, dan sarana sanitasi).
Keempat faktor tidak langsung tersebut mempengaruhi asupan gizi dan status
kesehatan ibu dan anak.
Intervensi terhadap keempat faktor penyebab tidak langsung diharapkan dapat mencegah masalah gizi.
"Hadirin sekalian yang saya hormati,Dalam penanganan stunting, keluarga merupakan komponen utama yang sangat berperan dalam pencegahan maupun penanggulangan nya. Hal ini di sebabkan karena masalah gizi , sangat erat kaitannya dengan ruang lingkup keluarga, yaitu praktek pengasuhan yang kurang baik, termasuk kurangnya pengetahuan ibu mengenai kesehatan dan gizi sebelum dan pada masa kehamilan, serta setelah ibu melahirkan dan Masih kurangnya akses rumah tangga/keluarga untuk mengkonsumsi makanan bergizi," ujar Tino Tandaju.
Ia berharap, peran keluarga dapat mewujudkan Sumber Daya Manusia Unggul Menuju Indonesia Maju.
"Dengan harapan bersama bahwa penanganan sumber daya manusia adalah tugas kita bersama dan saya mengajak seluruh masyarakat baik dariseluruh jajaran pemerintah, mitra kerja dan seluruh masyarakat untuk saling bahumembahu, hidup saling bergotong-royong dalam mengatasi permasalahan yang ada di depan kita," jelasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/bkkbn-provinsi-sulawesi-utara-menggelar-apel-dalam-rangka-memperingati-harganas.jpg)