Breaking News
Rabu, 3 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Kabar Israel

Penyebab Israel Khawatir Ebrahim Raisi Terpilih Jadi Presiden Iran

Ebrahim Raisi memang sudah diprediksi menang karena mendapat dukungan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.

Tayang:
Penulis: Aldi Ponge | Editor: Aldi Ponge
(AP Photo/Ebrahim Noroozi)(AP PHOTO/EBRAHIM NOROOZI)
Ebrahim Raisi, Presiden Iran terpilih di pemilu Iran 2021 

Iran menyalahkan Israel atas pembunuhan salah satu ahli nukir terbaiknya, Mohsen Fakhrizadeh pada tahun lalu.

Selain itu, Iran juga menduduh Israel melakukan serangan kepada fasilitas pengayaan uranium mereka untuk nuklir, April lalu.

Iran sendiri menegaskan bahwa pengembangan nuklir yang mereka lakukan bertujuan untuk perdamaian.

Tetapi Israel tak percaya mengenai hal itu, dan meyakini negara Asia Barat itu tengah membangun senjata nuklir.

Pada kesempatan itu, Lior Haiat juga menyebut Raisi sebagai jagal dari Teheran.

Hal itu terkait eksekusi massal yang menimpa ratusan tahanan politik pada 1988.

Raisi merupakan satu dari empat hakim, yang kemudian dikenal sebagai Komite Kematian, dan menurut Amnesti Internasional telah menghukum mati sekitar 5.000 pria dan wanita.

Namun, dalam cuitannya, Haiat mengatakan lebih dari 30.000 orang terbunuh saat itu.

Jumlah tersebut merujuk dari yang dikeluarkan oleh Kelompok Hak Asasi Manusia (HAM) Iran.

Kans Terakhir Bahas Kesepakatan Nuklir

DIlansri Kompas.com melalu artikel berjudul Iran Punya Presiden Baru, PM Israel: Kans Terakhir Bahas Kesepakatan Nuklir , Perdana Menteri baru Israel Naftali Bennett pada Minggu (20/6/2021) menyebut terpilihnya Ebrahim Raisi sebagai presiden Iran, sebagai panggilan bangkit bagi pihak-pihak terkait untuk membicarakan lagi kesepakatan nuklir dengan Teheran.

Raisi terpilih dengan hampir 62 persen suara dalam pilpres Iran pada Jumat (18/6/2021), dan akan menggantikan presiden moderat Hassan Rouhani pada Agustus.

Rouhani adalah salah satu sosok di balik kesepakatan nuklir 2015 antara Iran dan negara-negara kekuatan dunia.

"Terpilihnya Raisi, menurut saya, adalah kans terakhir bagi kekuatan dunia untuk bangkit sebelum kembali ke perjanjian nuklir, dan untuk memahami dengan siapa mereka berurusan," kata Bennett dalam sambutannya dalam pertemuan kabinet pada Minggu, dikutip dari AFP.

Kesepakatan 2015 diterima Iran dengan batasan pengembangan nuklirnya untuk mendapat imbalan pelonggaran sanksi.

Akan tetapi mantan presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara sepihak menarik diri tiga tahun kemudian dan menambah sanksi. Iran akhirnya menarik diri dari komitmen nuklirnya.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved