Breaking News:

Tajuk Tamu

Bergelar Mabrur Meskipun Tak Berangkat Haji

Bagaimana bisa seseorang bisa mendapat gelar mabrur meski tidak berangkat haji? Simak tulisan berikut ini.

Istimewa
Dr Ahmad Rajafi MHI. 

Penulis: Dr. Ahmad Rajafi, M.H.I (Wakil Rektor 1 IAIN Manado

TRIBUNMADO. CO. ID, Manado - Indonesia tahun ini (2021) sebagaimana informasi resmi dari Menteri Agama RI kembali tidak memberangkat jamaah yang sudah terdaftar dan melunasi biaya ibadah haji demi menjaga seluruh jamaah calon haji agar terhindar dari wabah covid 19 yang terus berevolusi dan melahirkan varian barunya di beberapa belahan dunia.

Setidaknya ada dua reaksi pasca pengumuman tersebut, yakni mereka yang sedih namun tetap ikhlas dengan takdir tersebut, namun ada juga yang sedih sembari borkomentar kurang baik atas keputusan tersebut, disinlah sesungguhnya ujian terberat yang tengah dinilai oleh Allah swt.

Pada konteks ini, saya teringat dengan satu kisah yang sering kali diceritakan oleh para guru dan da'i ketika menyampaikan pesan-pesan agama, di mana ada seorang ulama yang sangat tawadhu' dan terkenal di daerah Khurasan pada tahun (118-181 H/726-797 M), yakni Abdullah Ibnu Mubarak.

Beliau adalah seorang tokoh agama yang konsisten di setiap tahunnya secara bergantian untuk menjalankan ibadah haji atau berjihad.

Suatu masa beliau menjalankan ibadah haji dan begitu khusyu' dalam menunaikan seluruh rukun-rukun haji, namun pada masa akhir dari seluruh rangkaian ibadah, beliau di malam harinya tertidur lelap dan bermimpi bertemu dengan dua malaikat yang sedang saling berkomunikasi tentang nilai peribadatan haji dari seluruh jama'ah haji saat itu.

Salah satu malaikat berkata kepada malaikat lainnya bahwa dari seluruh jama'ah haji yang saat itu hadir di Makkah al-Mukarramah ada sebanyak enam ratus ribu orang, namun tidak ada satupun yang mendapatkan kualitas mabrur, termasuk Ibnu Mubarak, kecuali seorang tukang sepatu yang tinggal di Damaskus bernama Muwaffaq.

Setelah terbangun dari tidurnya, Ibnu Mubarak merasa sedih atas mimpinya tersebut, karena ia berkeyakinan bahwa mimpinya adalah karunia (ilham) dari Allah swt.

Maka setelah perpulangan dari ibadah haji, beliau memberanikan diri untuk berangkat menuju Damaskus mencari Muwaffaq.

Atas rahmat Allah swt, akhirnya Ibnu Mubarak dapat bertemu dengan Muwaffaq, lalu ditemuilah Muwaffaq di kediamannya setelah ia selesai bekerja.

Didapati olehnya rumah yang begitu sederhana namun susana kekeluargaan di dalamnya begitu bersahaja.

Lalu diceritakanlah oleh Ibnu Mubarak mimpinya tersebut kepada Muwaffaq, mendengar kisah mimpi tersebut lalu Muwaffaq menangis tersedu-sedu seolah tak mampu dibendung.

Muwaffaq pun akhirnya mengisahkan perjalanan niat hajinya hingga masa persiapan akan berangkat haji.

Ia katakan bahwa ia beserta istrinya telah mempersiapkan diri dan menabung selama empat puluh tahun, hingga Allah kuatkan dan terkumpul lengkap status istitha'ah (mampu untuk berhaji) pada diri mereke berdua.

Namun diwaktu akan berangkat haji tiba-tiba istrinya yang tengah hamil mencium wanginya masakan tetangganya dan ia berkeingan untuk meminta meskipun sedikit saja.

Lalu Muwaffaq memberanikan diri untuk mendatangi tetangganya terlebih dahulu untuk menyampaikan keinginan istrinya.

Setelah ditemui dan menyampaikan hajatnya, tiba-tiba tetangganya tersebut menangis sehingga membuat Muwaffaq terkejut.

Disampaikan oleh tetangganya bahwa ia dan anak-anaknya sudah tiga hari belum makan, dan ia tengah memasak daging bangkai keledai yang ia dapati di luar rumahnya.

Mendengar cerita tersebut, Muwaffaq tak mampu menahan air matanya dan meminta untuk membuang apa yang tengah dimasak oleh tetangganya karena sesuatu yang diharamkan Allah swt, lalu ia pergi dengan tergesa-gesa kembali ke rumahnya dan menyampaikan kisah yang ia dapati tadi.

Dengan penuh ketegasan ia sampaikan kepada istrinya untuk mengalihkan ritus ibadah haji mereka dengan memberikan seluruh dana haji kepada tetangganya tersebut, dan atas hidayah Allah, istrinya turut mengikhlaskan apa yang sudah diniatkan oleh suaminya, maka pergilah Muwaffaq dengan membawa seluruh dana tadi ke kediaman tetangganya dan diserahkan seluruh dana tersebut kepada tetangganya. Muwaffaq berkata "aku serahkan seluruh dana ini kepada mu, belanjakanlah untuk kebutuhan kalian, dan ini adalah haji kami".

Pelajaran terbesar dari kisah ini adalah, adanya nilai keikhlasan yang begitu tulus dan mendalam dari diri seorang Muwaffaq, dan inilah yang wajib dijadikan pegangan bagi seluruh jama'ah calon haji yang tahun ini kembali tidak berangkat ke tanah suci. Allah memberi arahan "tidaklah kalian diperintahkan oleh Allah swt kecuali untuk beribadah dengan penuh ketulusan dan keikhlasan" (QS. Al-Bayyinah: 5).

Konsep keikhlasan adalah jalan awal dari diterimanya sebuah ibadah, untuk mengakomodasi konsep tersebut maka para ulama merumuskan niat-niat dalam ibadah sebagai cara agar seorang hamba ingat bahwa apa yang akan dilakukan semata-mata karena Allah swt (lillahi ta'ala).

Kalau sudah pada tingkatan ini maka tidak ada lagi harapan dan ungkapan kecuali hanya Allah semata.

Begitu juga dengan ibadah haji, ketika seorang calon haji begitu ikhlas dan memaksimalkan diri di tanah air dengan amal-amal soleh baik untuk pribadi maupun orang-orang di sekitarnya, maka Allah swt pasti akan mencatat dirinya dalam label haji mabrur, kualitas haji tertinggi di sisi Allah swt, sebagiamana Muwaffaq yang mendapatkan gelar mabrur meskpiun tak berangkat haji ke baitullah al-haram. Wallahua'lam.

Editor: Rizali Posumah
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved