Catatan Willy Kumurur

Euro 2020 dan Bola-bola Rindu

Spanyol pernah mengukir sejarah: Juara EURO 2008, juara Piala Dunia 2010 dan juara EURO 2012. Sedangkan Inggeris adalah ibu pertiwi bola.

handover
Willy Kumurur 

Oleh: Willy Kumurur
Penikmat bola, tinggal di Bogor. Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado

SEBUAH JENDELA untuk menengok masa lalu adalah memori pertama dalam diri setiap orang, demikian ungkap psikolog Austria, Alfred Adler.

Jendela imajiner itu muncul di benak para pemain Spanyol dan Inggeris.

Dari balik jendela itu mereka kembali melongok ke masa silam tatkala tim matador berjaya di panggung Piala Dunia dan EURO.

Spanyol pernah mengukir sejarah: Juara EURO 2008, juara Piala Dunia 2010 dan juara EURO 2012.

Sedangkan Inggeris adalah tempat lahir bola, tanah air bola, ibu pertiwi bola.

Pelatih tim matador Spanyol, Luis Enrique, sesumbar bahwa tim berjuluk La Furia Roja adalah tim favorit memenangkan EURO 2020.

Legenda bola dunia asal Belanda, Johan Cruyff, penganut awal filosofi total football, membawa dan menerapkan filosofi total football ke Spanyol ketika ia menjadi pelatih Barcelona (1988 – 1996).

Diktum total football diciptakan oleh pelatih Rinus Michels untuk Belanda di tahun 1974.

Di antara para pemain asuhannya di Barcelona, ada Pep Guardiola dan Luis Enrique.

Tatkala Guardiola menjadi pelatih Barcelona (2008-2012), ia “menciptakan” tiki-taka yang sama dan sebangun dengan total football, filosofi yang mengguncang jagad tatkala tim Barcelona begitu digdaya dan nyaris tak terkalahkan.

Luis Enrique juga menjadi pelatih Barcelona (2014-2017) dan menerapkan dengan baik filosofi Cruyff dan Guardiola.

Di final Piala Dunia 2010, di bawah asuhan Vicente del Bosque, Spanyol menantang Belanda yang tak pernah menang di dua final Piala Dunia sebelumnya (1974, 1978).

Saat itu, Cruyff lebih mengelu-elukan Spanyol dan menjagokan El Matador.

Mengapa Cruyff amat berpihak kepada Spanyol dan seolah “mengkhianati” negeri leluhurnya Belanda?

Pertama, bukan Belanda yang menerapkan total football di Piala Dunia 2010, malah Spanyol.

Kedua, saat itu, Cruyff adalah legenda Barcelona sekaligus presiden kehormatan klub Catalan tersebut.

Tujuh dari sebelas pemain inti La Furia Roja berasal dari FC Barcelona, asuhan Guardiola, penganut setia sepak bola menyerang dan total football.

Sebaliknya, tim matador Spanyol, juga pernah dihujani kritik oleh Cruyff di Piala Dunia 1994.

Tatkala itu, Spanyol ditangani oleh Javier Clemente; delapan pemain inti Piala Dunia 1994 berasal dari Barcelona yang saat itu diarsiteki oleh Cruyff.

Bagaimana Cruyff tidak geram?

Delapan orang pemainnya dilatih keras untuk sepakbola ofensif/menyerang, namun begitu mereka masuk ke tim nasional mereka diharuskan oleh Clemente untuk memainkan sepakbola defensif/bertahan.

Maka jelaslah bahwa sebenarnya yang dibela oleh Cruyff bukanlah Spanyol, melainkan sepakbola menyerang dan total football yang dimainkan dengan indah oleh para matador Spanyol di tahun 2010.

Sekarang ini, El Matador dilatih oleh Luis Enrique, pewaris filosofi Johan Cruyff.

Ia membawa para toreros - nya menuju EURO 2020 (2021) tanpa seorangpun pemain Real Madrid.

Kapten tim La Furia Roja yaitu Sergio Ramos, bek tangguh dari Los Blancos - Real Madrid tidak diajak oleh Enrique dengan alasan cedera.

Apakah itu berarti bahwa filsafat total football atau tiki-taka akan menjadi roh permainan tim Spanyol?

Telah lama Inggeris merindukan kembalinya bola ke pangkuan ibu pertiwi.

Inggeris adalah tanah air bola, kelahiran dan tanah tumpah darah sepakbola modern, yang kini merana karena anak kandung itu tak jua pulang.

Dia telah berusia lebih dari satu setengah abad, pergi jauh dan bertualang ke mana-mana; yang lama dirindukan karena hanya kembali sesaat.

Bola itu adalah kejayaan tim The Three Lions (Tiga Singa) yang entah kapan bisa kembali.

Bola itu masih asyik mengembara ke banyak tempat.

Padahal kompetisi domestik yang bertajuk English Premier League (EPL) adalah yang paling masyhur dan paling bergengsi yang hanya dapat disaingi oleh La Liga Spanyol.

Bintang-bintang bertaburan di EPL, namun sayangnya bintang-bintang itu lebih banyak berasal dari luar.

Anak kandung itu sempat pulang pada tahun 1966, ketika Inggeris meraih Julius Rimet Cup (Piala Dunia saat itu).

Setelah itu, bola pergi jauh dan semakin jauh.

Harapan atas kepulangannya ke dekapan leluhur Britania Raya membubung setiap perhelatan Piala Dunia dan EURO.

Di Euro 2020 (2021) ini, kerinduan atas kepulangannya membuncah kembali dan harapan itu diletakkan di atas pundak tim nasional Inggeris di bawah pimpinan Gareth Southgate.

Dengan status sebagai peringkat keempat dunia, The Three Lions memelihara asa demi memenuhi kerinduan dan mengobati kegelisahan ibu kandung bola.

Pentas EURO 2020 adalah gelanggang para toreros yang rindu untuk mengembalikan kedigdayaan negeri matador.

Ataukah menjadi panggung tiga singa merebut “anak kandung”nya, membawanya pulang kembali ke pangkuan ibu pertiwi yang telah lama merindukannya.****

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved