Berita Bitung
Seminar Nasional dan Bedah Buku 'Pergerakan Tanpa Batas', Maurits Mantiri Sebut Istilah Pentaheix
Pemerintah Kota Bitung menyelenggarakan kegiatan seminar nasional dan bedah buku
Penulis: Christian_Wayongkere | Editor: David_Kusuma
TRIBUNMANADO.CO.ID.CO.ID, Manado - Pemerintah Kota Bitung menyelenggarakan kegiatan seminar nasional dan bedah buku bertajuk “Pergerakan Tanpa Batas” di ruang SH Sarundajang kantor Walikota Bitung Kamis, (27/5/2021).
Kegiatan ini mengelaborasi bagaimana kisah perjuangan seorang aktivis buruh, Rekson Silaban dalam medan perjuangan dalam cakupan nasional maupun internasioanal untuk kesejahteraan kaum buruh.
Perjuangan Rekson sejalan dengan falsafah hidup masyarakat Sulawesi Utara yang dicetuskan oleh Sam Ratulangi ‘Si Tou Timou Tumou Tou’ yang bermakna manusia hidup memanusiakan manusia lain.
Kredo memanusiakan manusia mutlak dibutuhkan agar tercipta harmonisasi antar pekerja dan pemberi kerja.
Baca juga: Makna Waisak bagi Olivia Ho Perempuan Cantik Asal Tomohon
Apalagi di tengah keadaan dunia yang penuh tantangan dengan kecenderungan yang saat ini dikenal dengan VUCA (votatility, incertainty, complexity and ambiquity).
Wali kota Bitung, Ir Maurits Mantiri MM saat menghadiri pembukaan kegiatan seminar dan bedah buku menekan pentingnya pendekatan pentahelix dalam memecahkan suatu problem.
"Pentahelix ini perhatiannya kerja bareng oleh karena tanpa kerja bareng tentu tidak akan mudah mengatasi masalah yang ada," ujar Maurits Mantiri.
Maurits Mantiri juga menambahkan bahwa dalam era transformasi digital dewasa ini, buruh tidak boleh teraleniasi dari kebijakan digitalisasi industri.
Pemanfaatan teknologi harus paralel dengan jaminan kepastian bekerja dan perlindungan terhadap pekerja.
Baca juga: Wow, Teknologi 5G Sudah Bisa Digunakan di Indonesia, Tak Perlu Ganti Kartu, Ini Kehebatannya
Wali Kota Bitung juga menegaskan bahwa, fokus agenda pembangunan ke depan adalah meningkatkan investasi bagi terciptanya lapangan pekerjaan baru agar angkatan kerja lokal dapat terserap pada industri – industri dengan upah yang layak.
Dengan demikian, kesejahteraan buruh dan pertumbuhan ekonomi akan meningkat.
Merespons hal tersebut Rekson Silaban dalam paparannya mengutarakan bagaimana pola perjuangan aktivis yang dari mengkritisi pemerintah kemudian menjadi bagian dari pemerintah.
“Kita lihat bagaimana Sukarno dan Hatta dulu mengkritisi pemerintah kolonial, kemudia mereka beralih menjadi bagian dari pemerintahan itu sendiri, sama juga halnya dengan aktivis tahun 66 dan 98 yang pernah mengambil bagian dalam kepemerintahan. Artinya pergerakan itu tanpa batas”, ujar Rekson Silaban.
Sosok Rekson Silaban pernah menjadi Governing Body ILO dan pernah menjabat Komisari PT Jamsostek serta dewan Pengawas BPJS.
Sejalan dengan visi mewujudkan Kota Bitung untuk menjadi kota digital, Rekson juga menambahkan pentingnya perlindungan sosial bagi pekerja digital.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/sedah-buku-di-bitung.jpg)