Breaking News
Senin, 4 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Oma Koesno

KABAR Elizabeth, Istri Mantan Ajudan Soekarno, Kini Sakit-sakitan dan Terancam Diusir dari Kontrakan

Masih dengan Elizabeth? istri dari mantan Sersan Mayor CPM (Purn) Raden Koesno, yang merupakan mantan ajudan Presiden Pertama Indonesia, Soekarno.

Tayang:
Editor: Rhendi Umar
Kolase Tribun Manado/Istimewa
KABAR Elizabeth, Istri Mantan Ajudan Soekarno, Kini Sakit-sakitan dan Terancam Diusir dari Kontrakan 

Pidato itu kemudian ditutup dengan apa yang kini dikenal sebagai Tri Komando Rakyat alias Trikora.

Intinya, gagalkan pembentukan “negara boneka Papua” dan kibarkan Sang Merah Putih di Irian Barat.

Itu sekaligus penanda dimulainya kampanye militer merebut Irian Barat dari penguasaan Belanda.

Soekarno Hanya Sempat Merancang Dari perspektif Soekarno, Irian Barat adalah wilayah terbelakang.

Daratannya dipenuhi gunung dan rawa-rawa yang sulit ditembus.

Dalam pikirannya, penduduk di sana adalah orang primitif yang masih menggunakan kapak batu, kulit kerang, dan tongkat untuk beraktivitas.

Orang Papua hidup nomaden karena tanahnya kurang subur. Keuntungan minyak buminya pun tak seberapa bagi Belanda.

Lalu mengapa Bung Besar begitu ngotot merebutnya dari Belanda?

Dalam pengakuannya yang dicatat Cindy Adams dalam Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (2014, hlm. 346) Soekarno berkata, “Dibandingkan dengan wilayah kepulauan kami, Irian Barat hanya selebar daun kelor, tetapi Irian Barat adalah sebagian dari tubuh kami. Apakah seseorang akan membiarkan salah satu anggota tubuhnya diamputasi tanpa melakukan perlawanan?”

Terdengar naif, memang, tetapi Soekarno juga sadar akan potensi alam Papua.

Laman media sejarah Historia menyebut bahwa dari laporan tim geologinya Soekarno tahu bahwa Papua tak hanya menyimpan minyak bumi, tetapi juga uranium.

Di zaman atom seperti saat kala itu, temuan itu tentu penting.

“Jadi saudara-saudara, sudah nyata sekali pihak Belanda di Irian Barat ialah untuk mengambil kekayaan kita. Dan kita pun mempunyai alasan-alasan ekonomis untuk menuntut kembalinya Irian Barat ke dalam wilayah kekuasaan Republik,” kata Soekarno.

Irian Barat akhirnya “kembali” masuk dalam wilayah kedaulatan Indonesia pada Mei 1963.

Dalam perundingan-perundingan antara Indonesia dan Belanda yang ditengahi AS, Belanda setuju menganggarkan 30 juta dolar pertahun untuk pembangunan Irian Barat melalui PBB.

Sumber: Tribunnews
Halaman 3/4
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved