Siddharta Gautama
Sosok Siddharta Gautama, Pendiri dan Penyebar Agama Buddha, Dikenal Cerdas dan Pandai Sedari Kecil
Agama Buddha tidak dapat lepas dari sosok Siddharta Gautama yang merupakan pendiri dan penyebar Agama Buddha.
Siddharta, kemudian bermeditasi menggunakan berbagai guru spiritual yang membimbingnya. Ia bermediasi di bawah pohon Bodhi untuk mendapatkan penerangan Agung.
Penderitaan Siddharta ketika meninggalkan untuk hidup dan belajar bersama para pertapa Hindu, merupakan suatu petualangan spiritual yang menakjubkan.
Setelah enam tahun, konon beliau mendapatkan kenyataan bahwa bertapa dengan menyiksa diri maupun hidup terlalu berfoya-foya.
Bukanlah jawaban akan sesuatu hal yang mampu melampaui penderitaan dan karma.
Pemikiran seperti itu dianggap menyimpang dari aliran Hindu pada masa itu. Sehingga ia pun mengembaran ke sebelah selatan India untuk mencari prinsip-prinsip spiritual yang dapat membentuk fondasi Buddhisme.
Pada akhirnya di bawah pohon Bodhi, ia memperoleh apa yang dicita-citakannya, yakni ajaran tentang sebab akibat penderitaan dan cara-cara mendapatkan kelepasan yang tersimpul dalam pandangan filosofis.
Pertapa Siddharta telah mencapai Pencerahan Sempurna dan menjadi Samyaksam-Buddha (Sammasam-Buddha), tepat pada saat bulan Purnama Siddhi di bulan Waisak ketika ia berusia 35 tahun.
Saat mencapai pencerahan sempurna, tubuh Siddharta memancar enam sinar Buddha dengan warna biru (nila) yang berarti bhakti, kuning (pita) yang berarti kebijaksanaan dan pengetahuan.
Warna merah (lohita) yang berarti kasih sayang dan belas kasih, putih (Avadata) mengandung arti suci, jingga (mangasta) berarti semangat, dan dan campuran sinar tersebut (prabhasvara).
Penyebaran ajaran Buddha
Buddha Gautama mendapat gelar setelah mencapai pencerahan sempurna, seperti Buddha Gautama, Sakyamuni, Tathagata (Ia Yang Telah Datang, Ia Yang Telah Pergi), Sugata (Yang Maha Tahu), Bhagava (Yang Agung).
Setelah itu sang Buddha menyampaikan khotbah pertamanya di Taman Rusa, Isipatan, Sarnath kepada lima pertama yang dulu menjadi rekan saat bertapa menyiksa diri.
Selama 45 tahun, ia menyampaikan khotbahnya demi kebahagiaan umat manusia hingga memasuki Maha Pari-Nibbana di Kusinara pada usia 80 tahun.
Ia menyadari bahwa tiga bulan setelahnya akan mencapai Parinibbana atau Parinirvana yaitu meninggalkan bentuk fisik tubuhnya.
Isi khotbahnya adalah penjelasan mengenai Jalan Tengah yang ditemukannya, yaitu berupa Delapan Ruas Jalan Kemuliaan dan juga Empat Kebenaran Mulia yang menjadi pilar dari ajaran Buddha.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/sidharta-gautama-1212.jpg)