Rabu, 22 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Siddharta Gautama

Sosok Siddharta Gautama, Pendiri dan Penyebar Agama Buddha, Dikenal Cerdas dan Pandai Sedari Kecil

Agama Buddha tidak dapat lepas dari sosok Siddharta Gautama yang merupakan pendiri dan penyebar Agama Buddha.

Editor: Rhendi Umar
Istimewa
Sidharta Gautama 

Saat Siddharta lahir, ayahnya bertanya kepada peramal bernama Asita mengenai masa depannya. Sang peramal merasa terpesona ketika melihat Siddarta.

Peramal melihat 32 tanda pada tubuh sang bayi yang merupakan pertanda tentang kehidupan yang agung di masa depan.

Peramal mengatakan kepada raja bahwa anak itu mungkin akan menjadi pemimpin yang sangat hebat.

Mungkin juga menjadi Chakrawarti (maharaja) seluruh India, kalau saja anak tersebut menguasai kearifan mengenai cara-cara duniawi.

Sedangkan anak tersebut bisa menjalani kehidupan religius, maka tanda yang sama juga memperlihatkan bahwa akan dengan mudah menjadi pertama yang mulia.

Ketika hal itu dihubungkan dengan keturunannya yang mulia, maka mungkin bisa menjadi penyelamat dunia.

Peramal juga menyatakan penyesalannya bahwa anak tersebut tidak akan bisa hidup cukup lama untuk mendapatkan manfaat dari kebijaksanaan penuh yang tumbuh dalam diri anak yang agung ini.

Kata-kata peramal membuat Raja Siddhodana merasa was-was dan tidak tenang. Raja khawatir jika Sidhdharta akan meninggalkan istana dan menjadi pertapa.

Raja lebih memilih anaknya untuk mewarisi kekuasaannya sebagai raja, bukannya menjadi pertapa.

Menjadi Buddha

Pada suatu hari, Siddharta minta ijin untuk berjalan keluar istana. Di jalanan Kapilavasta menemukan empat kondisi yang berati, yakni orang tua, orang sakit, orang mati dan seorang pertapa.

Ia merasa sedih dan bertanya pada diri sendiri. Tidak ada hal yang mempersiapkan untuk pengalaman semacam itu selama hidupnya. Ia berpikir bahwa hanya kehidupan suci yang akan memberikan semua jawaban itu.

Pada usia 29 tahun, Siddharta memutuskan meninggalkan istana, istri dan anaknya yang baru lahir.

Ia pergi untuk menjadi seorang pertapa yang bertujuan menemukan cara buat menghilangkan penderitaan atau membebaskan manusia dari usia tua, sakit, dan mati.

Perjuangan Siddharta dalam memaknai kehidupan dan mengupayakan terciptanya bangunan spiritualitas yang paripurna merupakan perjuangan yang berangkat dari hati nurani dan akal budi.

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/4
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved