Soeharto Lengser
Soeharto Ngaku 'Saya Lengser Keprabon Madeg Pandito', Mei 1998 Akhirnya Mundur dari Jabatan Presiden
Pak Harto menanggapi pencalonannya dengan ungkapan 'Lengser Keprabon'. Pada 21 Mei 1998 Soeharto mengundurkan diri lengser dari jabatan Presiden RI.
TRIBUNMANADO.CO.ID - "Saya akan menempatkan diri sebagaimana dalam falsafah pewayangan yaitu lengser keprabon madeg pandito" ucap Soeharto sebelum dirinya lengser pada 21 Mei 1998.
Keraguan Soeharto terkait dirinya akan terus menjabat presiden di periode ketujuhnya, sudah dirasakan sang Jenderal.
Bahkan, firasat Seoharto akan lengser dirasakan orang dekatnya.
Sebenarnya, sepanjang 1997, pencalonan Soeharto untuk menjadi presiden ketujuh kalinya sudah menjadi diskursus publik.
Apalagi, ada keinginan Pak Harto yang diungkapkannya ke rakyat untuk lengser keprabon madeg pandito.
(Foto: Soeharto Lengser, mengundurkan diri pada 21 Mei 1998. Nyatakan dirinya akan lengser keprabon madeg pandito ( pensiun menjadi pemimpin akan menjadi begawan )./Getty Images/Patrick Aventurier)
Publik pun mencari jawaban yang pas di balik ucapan tersebut. Sebagian menilai Pak Harto tak ingin lagi dipilih jadi Presiden.
Akan tetapi Golkar saat memperingati HUT-nya pada Oktober 1997 menyatakan telah bulat berniat mencalonkan kembali Soeharto sebagai presiden. Soeharto lantas meminta agar pencalonannya diteliti lagi.
Dalam sambutannya sebagai Ketua Dewan Pembina Golkar, Pak Harto menanggapi pencalonannya dengan ungkapan cerita pewayangan " lengser keprabon ".
Dalam pidatonya, mantan Panglima Kostrad itu mengatakan bukan masalah baginya bila rakyat sudah tidak memercayainya lagi sebagai pemimpin.
"Saya akan menempatkan diri sebagaimana dalam falsafah pewayangan yaitu lengser keprabon madeg pandito ( pensiun menjadi pemimpin akan menjadi begawan )," kata dia.
Sementara itu di tingkat publik, pernyataan itu ditangkap sebagai keengganan Pak Harto untuk menjadi Presiden lagi.
Bahkan, beberapa tokoh nasional memelopori perlunya suksesi kepemimpinan nasional pasca-Presiden Soeharto.
Salah satu tokoh yang vokal akan hal itu yakni Amien Rais.