Minggu, 3 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Penanganan Covid

Ledakan Kasus Covid-19 Bakal Terjadi Dua Bulan Lagi, Menkes Khawatir

Menurut Ahli Epidemiologi Indonesia dan Peneliti Pandemi dari Griffith University, Australia, ledakan kasus covid-19 akan terjadi.

Tayang:
Editor: Rizali Posumah
SHUTTER STOCK
Ilustrasi Covid-19 atau Virus Corona 

TRIBUNMANADO.CO.ID, Manado - Ribuan orang berbondong-bondong mengunjungi destinasi wisata setelah lebaran.

Secara tidak langsung hal ini tentunya mengabaikan protokol kesehatan yang melarang adanya kerumunan dalam skala besar.

Padahal di Indonesia masih dalam masa pandemi Covid-19. Dengan kata lain, Indonesia belum aman dari infeksi virus Covid-19.

Menurut Ahli Epidemiologi Indonesia dan Peneliti Pandemi dari Griffith University, Australia, ledakan kasus covid-19 akan terjadi.

Namun, tidak dapat dilihat dalam satu hingga dua minggu ini. Setidaknya ledakan besar infeksi covid-19 akan nampak setelah satu hingga dua bulan berikutnya.

Menurutnya penularan bahkan dilakukan oleh orang yang tidak bergejala. Angka ini mencapai hingga 80%.

"Sehingga ada potensi ledakan? Sangat jelas ada. Bukan mudik saja, tapi akumulasi setahun lalu seperti pilkada. Situasi ini terus bergerak dan akan meledak satu dua bulan," ujarnya kepada Tribun, Selasa(18/5).

Menurut Dicky, dampaknya justru berada di rumah, karena masalahnya kebanyakan masyarakat Indonesia masih berupaya mengobati sendiri. Sehingga rumah sakit nampak sepi.

"Masyarakat kita lebih banyak mengobati diri sendiri. Jangan diharapakan dua tiga minggu kasus meningkat. Ini menyebabkan di rumah sakit tidak terlalu penuh. Karena masyarakat kita hanya di rumah saat sakit," katanya.

Oleh karenanya menurut Dicky, perlu adanya perbaikan strategi. Terutama terkait program yang betul-betul melaksanakan deteksi sedari dini secara aktif ke rumah-rumah.

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin juga mengkhawatirkan ledakan kasus Covid-19 di tanah air akan terjadi seiring banyak ditemukan kasus mutasi virus corona baru.

"India kasus naik, Thailand naik, Singapura naik, negara Eropa semua naik karena ada mutasi baru," ujarnya.

Saat ini, Budi memaparkan di Indonesia ada 26 kasus yang teridentifikasi varian corona baru yakni 14 kasus B117, 10 kasus B1617, dan 2 kasus B1351. "Mutasi baru itu dari 4 yang bahaya, 3 sudah masuk Indonesia. Ada 26 sudah teridentifikasi, 2 diantaranya ada di Jawa Barat, daerah Karawang," terang mantan wamen BUMN ini.

Mutasi baru ini telah banyak terbukti dapat meningkatkan jumlah kasus aktif Covid-19, lantaran memiliki kecepatan penularan yang tinggi.

Untuk itu, ia meminta pemerintah daerah terus meningkatkan tracing dan test sementara masyarakat patuh pada protokol kesehatan.

"Kita mesti hati-hati. Caranya pakai masker untuk menahan laju penularan mutasi baru tetapi itu masyarakat. Untuk Dinas Kesehatan harus dilakukan testing dan tracingnya diperbanyak. Kalau kalau testingnya sedikit, itu bisa meledak. Apalagi dengan adanya mutasi baru kita harus lebih agresif," ungkap Budi. Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi PKS Netty Prasetiyani Aher juga mengingatkan pemerintah agar mewaspadai potensi lonjakan kasus covid-19 usai Idulfitri."Larangan mudik yang diberlakukan pemerintah tidak berjalan efektif. Jutaan  orang tetap  mudik menjelang lebaran kemarin. Pemerintah  harus mewaspadai dan mengantisipasi  lonjakan kasus, apalagi dari tes acak yang dilakukan terhadap pemudik, ditemukan kasus positif dalam proporsi signifikan," kata Netty.

Potensi lonjakan kasus COVID-19 pasca lebaran, kata Netty dikuatkan dengan fakta  membludaknya pengunjung di sejumlah tempat wisata saat libur lebaran.

"Sejumlah tempat wisata yang dibuka dibanjiri pengunjung.  Pembatasan kapasitas tidak mampu  menahan antusias masyarakat untuk berwisata. Petugas juga sampai kewalahan dan tidak sanggup menjaga penerapan prokes, sehingga yang terjadi adalah kerumunan yang lebih parah dari mudik. Ini harus menjadi catatan bagi pemerintah untuk menyiapkan skenario terburuk," katanya.

Menurut Wakil Ketua Fraksi PKS DPR RI ini, pemerintah harus menyiapkan infrastruktur  dan SDM kesehatan dengan skenario terburuk agar Indonesia tidak berakhir seperti kasus 'tsunami' COVID-19 di India.

"Kalau kita sudah memikirkan  skenario terburuk, kita tentunya akan lebih sigap lagi. Misalnya saja soal sistem dan fasilitas kesehatan kita, siap atau tidak? Tempat-tempat  tidur dan  ruang ICU di RS harus ditambah agar kita lebih siap jika terjadi lonjakan kasus. Jangan sampai kita seperti India yang kasusnya melonjak usai perayaan hari keagamaan," katanya.

Lebih lanjut, Netty meminta pemerintah meningkatkan tes COVID-19, khususnya kepada masyarakat yang kembali ke kota usai mudik dan yang pergi berwisata.

"Tingkatkan tes COVID-19 kepada mereka yang kembali dari mudik dan berwisata secara teliti. Bagi mereka yang terbukti positif harus diberlakukan isolasi dan diawasi secara ketat. Seharusnya pelacakan tidak hanya kepada mereka yang mudik, tapi juga bagi mereka yang terbukti berwisata ke tempat-tempat yang over kapasitas," ujarnya. (Tribun Network/ais/dit/rin/wly)

Hendropriyono: Negara Kita Diserang Ideologi Khilafah, Palestina-Israel Bukan Urusan Kita

Apa Itu Qunut Nazilah untuk Palestina? Doa yang Diserukan Ulama Agar Dibaca Umat Muslim Saat Sholat

Wawancara Eksklusif Direktur PJKAKI KPK: Pegawai KPK Ada yang Disuruh Pilih Alquran atau Pancasila

Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved