Penanganan Covid

Ledakan Kasus Covid-19 Bakal Terjadi Dua Bulan Lagi, Menkes Khawatir

Menurut Ahli Epidemiologi Indonesia dan Peneliti Pandemi dari Griffith University, Australia, ledakan kasus covid-19 akan terjadi.

Editor: Rizali Posumah
SHUTTER STOCK
Ilustrasi Covid-19 atau Virus Corona 

TRIBUNMANADO.CO.ID, Manado - Ribuan orang berbondong-bondong mengunjungi destinasi wisata setelah lebaran.

Secara tidak langsung hal ini tentunya mengabaikan protokol kesehatan yang melarang adanya kerumunan dalam skala besar.

Padahal di Indonesia masih dalam masa pandemi Covid-19. Dengan kata lain, Indonesia belum aman dari infeksi virus Covid-19.

Menurut Ahli Epidemiologi Indonesia dan Peneliti Pandemi dari Griffith University, Australia, ledakan kasus covid-19 akan terjadi.

Namun, tidak dapat dilihat dalam satu hingga dua minggu ini. Setidaknya ledakan besar infeksi covid-19 akan nampak setelah satu hingga dua bulan berikutnya.

Menurutnya penularan bahkan dilakukan oleh orang yang tidak bergejala. Angka ini mencapai hingga 80%.

"Sehingga ada potensi ledakan? Sangat jelas ada. Bukan mudik saja, tapi akumulasi setahun lalu seperti pilkada. Situasi ini terus bergerak dan akan meledak satu dua bulan," ujarnya kepada Tribun, Selasa(18/5).

Menurut Dicky, dampaknya justru berada di rumah, karena masalahnya kebanyakan masyarakat Indonesia masih berupaya mengobati sendiri. Sehingga rumah sakit nampak sepi.

"Masyarakat kita lebih banyak mengobati diri sendiri. Jangan diharapakan dua tiga minggu kasus meningkat. Ini menyebabkan di rumah sakit tidak terlalu penuh. Karena masyarakat kita hanya di rumah saat sakit," katanya.

Oleh karenanya menurut Dicky, perlu adanya perbaikan strategi. Terutama terkait program yang betul-betul melaksanakan deteksi sedari dini secara aktif ke rumah-rumah.

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin juga mengkhawatirkan ledakan kasus Covid-19 di tanah air akan terjadi seiring banyak ditemukan kasus mutasi virus corona baru.

"India kasus naik, Thailand naik, Singapura naik, negara Eropa semua naik karena ada mutasi baru," ujarnya.

Saat ini, Budi memaparkan di Indonesia ada 26 kasus yang teridentifikasi varian corona baru yakni 14 kasus B117, 10 kasus B1617, dan 2 kasus B1351. "Mutasi baru itu dari 4 yang bahaya, 3 sudah masuk Indonesia. Ada 26 sudah teridentifikasi, 2 diantaranya ada di Jawa Barat, daerah Karawang," terang mantan wamen BUMN ini.

Mutasi baru ini telah banyak terbukti dapat meningkatkan jumlah kasus aktif Covid-19, lantaran memiliki kecepatan penularan yang tinggi.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved