Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Soeharto Lengser

Firasat Tak Enak Harmoko Lantas Terjawab, 'Palu Patah' 70 Hari Setelahnya Soeharto Lengser Mei 1998

Firasat lengsernya Soeharto dari kursi Presiden RI pada tahun 1998. Harmoko: "Bahwa hati saya bertanya-tanya".

Editor: Frandi Piring
AFP PHOTO
Ketua MPR/DPR RI pada 1998, Harmoko (kiri) meminta Soeharto (kanan) untuk mundur dari jabatan presiden karena sudah punya firasat Soeharto lengser. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - "Bahwa hati saya bertanya-tanya," ujar Harmoko seusai sidang terpilihnya Soeharto sebagai Presiden Indonesia untuk ketujuh kalinya, Maret 1998.

Firasat lengsernya Soeharto dari kursi kepresidenan pada tahun Mei 1998 terjadi saat sidang pemilihan Pak Harto sebagai Presiden Republik Indonesia untuk ketujuh kalinya.

Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) kala itu, Harmoko merasakan firasat berakhirnya pemerintahan rezim Soeharto.

Palu patah saat menutup sidang terpilihnya Soeharto sebagai Presiden Indonesia untuk ketujuh kalinya.

"Begitu palu sidang saya ketukkan, meleset, bagian kepalanya patah, kemudian terlempar ke depan...," ungkap Ketua DPR-MPR periode 1997-1999 Harmoko dalam buku Berhentinya Soeharto: Fakta dan Kesaksian Harmoko.

Ketua MPR/DPR RI pada 1998, <a href='https://manado.tribunnews.com/tag/harmoko' title='Harmoko'>Harmoko</a> (kiri) meminta <a href='https://manado.tribunnews.com/tag/soeharto' title='Soeharto'>Soeharto</a> (kanan) untuk mundur dari jabatan presiden karena sudah punya firasat <a href='https://manado.tribunnews.com/tag/soeharto' title='Soeharto'>Soeharto</a> lengser.

(Foto: Ketua MPR/DPR RI pada 1998, Harmoko (kiri) meminta Soeharto (kanan) untuk mundur dari jabatan presiden karena sudah punya firasat Soeharto lengser. (Dok. CNN)

Patahnya palu sidang itu terjadi saat Sidang Paripura ke-V, penutupan sidang MPR, 11 Maret 1998.

Sidang tersebut menandai terpilihnya lagi Soeharto menjadi Presiden untuk ketujuh kalinya.

Seperti biasa, sebagai pimpinan sidang, Harmoko menutup sidang dengan mengetukkan palu sebanyak tiga kali.

Tapi, hari itu, palu sidang patah saat diketukkan. Kepala palu terlempar ke depan meja jajaran anggota MPR.

Siti Hardiyanti Rukmana atau Mbak Tutut, putri sulung Presiden Soeharto, ada di barisan terdepan dan berhadapan langsung dengan kursi pimpinan dewan.

Kejadian tersebut sedikit mengguncang Harmoko.

Sebab, insiden patahnya palu sidang baru kali pertama terjadi dalam sejarah persidangan MPR yang sudah berlangsung bertahun-tahun.

Harmoko sewaktu menjabat Menteri Penerangan(Kompas/JB Suratno)

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved