Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Opini

Kritik Aja Kok Repot

Kritik itu biasa dalam sebuah negara demokrasi. Kritik malah merupakan sesuatu yang esensial dalam demokrasi.

Tribun Manado
Jeirry Sumampow 

Oleh: Jeirry Sumampow
Koordinator Komite Pemilih Indonesia 

Kritik biasanya dikemukakan karena ada yang tak beres. Atau ada kekuatiran yang mengarah kepada ketidakberesan.

Karena itu, bagi saya, kritik harus direnungkan dan dijadikan bahan evaluasi untuk perbaikan.

Jika ternyata ada yang kurang atau keliru, tak apa berjiwa besar untuk mengakui dan memperbaikinya. Sederhana sebenarnya.

Jika kritik mau direspon, harus dengan argumen yang menjelaskan tentang substansi kritik dimaksud.

Bukan dengan menyerang personal orang yang melakukan kritik.

Kritik itu biasa dalam sebuah negara demokrasi. Kritik malah merupakan sesuatu yang esensial dalam demokrasi.

Demokrasi tanpa kritik, apalagi jika itu diharamkan dan dibungkam, akan menjelma menjadi otoritarianisme.

Sebab otoritarianisme melarang protes dan kritik.

Narasi otoritarianisme harus satu arah dan mutlak, tak ada pendapat lain. Juga tak ada dialog.

Di negara kita ini, kritik juga sah dan dijamin konstitusi, sebagai bagian dari hak untuk mengemukakan pendapat secara bebas.

Karena itu, respon terhadap kritik pun harus elegan dan berhikmat.

Merespon kritik dengan menyerang personal bukan tindakan yang baik dan bijaksana.

Itu perilaku yang minim etika dan tak terpuji. Apalagi jika itu dilakukan oleh seorang pejabat negara.

Respon yang menyerang personal secara tak langsung menunjukkan kepanikan negara.

Jadi bukan sekedar kepanikan pejabat bersangkutan.

Karena itu, harus ada tindakan nyata dari atasan. Tak boleh dibiarkan. Agar ada efek jera.

Paling tidak agar pejabat bersangkutan tahu bahwa suaranya adalah suara negara, bukan suaranya sendiri.

Di kritik aja koq repot!

Pondok Gede, 14 Mei 2021 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved