Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Kabar Israel

Sebelum Diperebutkan Israel dan Palestina, Kehidupan Warga Yerusalem Penuh Kedamaian, Ini Buktinya

Palestina menjadi negara yang dilanda konflik berkepanjangan setelah Israel merongrong negara tersebut sejak 1942 silam.

Editor: Aldi Ponge
AFP PHOTO/AHMAD GHARABLI
Kepolisian Israel berusaha mengusir demonstran Palestina dalam bentrokan yang berlangsung di Masjid Al-Aqsa, Yerusalem, pada 7 Mei 2021. 

Saat ini, situs tersuci di mana orang Yahudi dapat berdoa adalah Tembok Barat, di antara sisa-sisa Kuil Kedua.

Tetapi kaum Yahudi ultra-nasionalis, beberapa di antaranya ingin mulai membangun Kuil Ketiga.

Mereka secara teratur mengunjungi lapangan terbuka, dan terkadang terlihat berdoa secara diam-diam.

Hal ini sering menimbulkan ketegangan dengan jemaah Muslim, yang takut Israel akan berusaha mengubah aturan di kompleks tersebut.

Kompleks ini sekarang dikelola oleh Yordania dalam koordinasi dengan Palestina.

Polisi Israel memantau pengunjung yang masuk melalui Gerbang Mughrabi, satu-satunya pintu masuk bagi non-Muslim.

Tetapi mereka beberapa kali menginjakkan kaki di dalam masjid, memicu ketegangan yang semakin membuat jengkel umat Islam.

Gesekan terus-menerus

Selalu ada ketegangan di situs tersebut.

Pada 1929, kerusuhan mematikan terjadi selama mandat Inggris, dengan Muslim bersatu untuk mempertahankan situs tersebut.

Pada 1996, keputusan Israel untuk membuka pintu masuk baru ke barat alun-alun memicu bentrokan yang menewaskan lebih dari 80 orang dalam tiga hari.

Dan kunjungan kontroversial ke alun-alun pada September 2000 oleh pemimpin oposisi sayap kanan Ariel Sharon adalah salah satu pemicu utama intifada Palestina kedua, yang berlangsung dari 2000 hingga 2005.

Pada Juli 2017, kompleks itu ditutup sementara setelah tiga orang Arab Israel melepaskan tembakan ke polisi Israel di dekat lokasi tersebut.

Insiden itu menewaskan dua dari mereka, sebelum melarikan diri ke kompleks suci, di mana mereka ditembak mati oleh pasukan keamanan.

Pada 2020 akses ke kompleks ditutup untuk umum selama bulan Ramadhan, karena pandemi Covid-19. Pembukaan kembali dilakukan mengikuti protokol kesehatan yang ketat dengan batasan jumlah jemaah.

Sejarah Masjid Al Aqsa

Lapangan seluas 14 hektar di sudut tenggara Kota Tua direbut Israel dalam Perang Enam Hari 1967, bersama sisa-sisa Yerusalem timur yang kemudian dianeksasi dan tidak pernah diakui secara internasional.

Israel menganggap semua Yerusalem adalah ibu kotanya, tetapi Palestina menginginkan sisi timur sebagai ibu kota negara mereka kelak.

Dikenal oleh Muslim sebagai Al-Haram As-Sharif (Tempat Suci Mulia), kompleks ini berisi Masjid Kubah Emas atau Kubah Shakhrah dan Masjid Al Aqsa.

Masjid Al-Aqsa adalah situs tersuci ketiga dalam Islam setelah Masjidil Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah, keduanya di Arab Saudi.

Kompleks dari bentuknya saat ini dibangun pada abad ketujuh oleh khalifah Islam kedua, Omar, di situs Kuil Yahudi Kedua yang dihancurkan Romawi sekitar tahun 70 Masehi. 

Situs ini juga dihormati dalam Yudaisme karena di dalamnya ada Kuil Pertama dan Kedua. Dalam bahasa Ibrani disebut Har HaBayit atau Temple Mount.

Keluarga Palestina mengklaim tanah tersebut secara historis adalah milik mereka, tetapi menurut orang Yahudi tanah itu dimiliki asosiasi agama mereka sejak sebelum 1948.

Undang-undang Israel tahun 1970 mengizinkan orang Yahudi mengklaim kembali tanah dan properti di Yerusalem, tetapi tidak ada hukum yang setara untuk orang Palestina yang tanahnya diambil orang Israel sejak pembentukan negara Israel pada 1948.

Israel merebut Yerusalem Timur dari Jordania pada 1967 dan mencaploknya sebagai milik mereka, tetapi sebagian besar komunitas internasional tidak mengakuinya.

Masjid Al-Aqsa

Masjid Al-Aqsa, juga ditulis Al-Aqsha adalah sebuah kompleks seluas 144.000 meter persegi di Kota Lama Yerusalem.

Kompleks ini menjadi lokasi yang disucikan oleh umat Islam, Yahudi, dan Kristen

Kompleks tempat masjid ini (di dalamnya juga termasuk Kubah Batu) dikenal oleh umat Islam dengan sebutan Al-Haram Asy-Syarif atau "tanah suci yang mulia".

Tempat ini oleh umat Yahudi dan Kristen dikenal pula dengan sebutan Bait Suci, suatu tempat paling suci dalam kepercayaan kepada tuhan Yahudi yang umumnya dipercaya merupakan tempat Bait Pertama dan Bait Kedua dahulu pernah berdiri. 

Masjid Aqsa tercatat dalam Alquran sebagai masjid tempat Muhammad SAW naik ke langit untuk menerima perintah shalat dari Allah dalam peristiwa Isra Mi’raj.

Masjid yang berdiri di Palestina, itu memang bukan masjid yang asli.

Sebab, Masjid Aqsa yang asli telah rata dengan tanah akibat gempa bumi yang mengguncang Jazirah Arab pada pertengahan abad ke-6. 

Etimologi

Nama Masjid al-Aqsa bila diartikan dari bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia, berarti "masjid terjauh".

Nama ini bermula dari keterangan dalam Al-Qur'an pada Surah Al-Isra' ayat 1 mengenai Isra Mi'raj.

Isra Mi'raj merupakan perjalanan yang diterapkan Muhammad dari Masjid Al-Haram menuju Masjid Al-Aqsa, dan selanjutnya naik ke surga,

Dalam kitab Shahih Bukhari dijelaskan bahwa Muhammad dalam perjalanan tersebut mengendarai Al-Buraq.

Istilah "terjauh" dalam hal ini dipakai dalam konteks yang berarti "terjauh dari Mekkah".

Selama berabad-abad yang dimaksud dengan Masjid Al-Aqsa sesungguhnya tidak hanya masjid saja, melainkan juga lahan di sekitar bangunan itu yang dianggap sebagai suatu tempat yang suci.

Perubahan penyebutan selanjutnya terjadi pada masa pemerintahan kesultanan Utsmaniyah (kira-kira masa ratus tahun ke-16 mencapai permulaan 1918), dimana lahan kompleks di sekitar masjid disebut sebagai Al-Haram Asy-Syarif, sedangkan bangunan masjid yang dibangun oleh Umar bin Khattab disebut sebagai Jami' Al-Aqsa atau Masjid Al-Aqsa. (

Sejarah

Bukit tempat Masjidilaqsa berada diyakini telah dihuni sejak milenium keempat sebelum Masehi.

Pada tahun 637, umat Islam mengambil kepemimpinan atas Yerusalem dari tangan Romawi Timur pada masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab.

Kompleks reruntuhan Bait Suci, dikenal sebagai Masjidilaqsa atau Baitulmaqdis oleh umat Islam, ditemukan Umar dalam kondisi tidak terawat.

Namun demikian, Umar kemudian menemukan Batu Fondasi atas bantuan Ka’b Al-Ahbar, seorang Yahudi yang telah masuk Islam.

Batu ini diyakini sebagai titik pijakan Nabi Muhammad naik ke langit dalam kepercayaan umat Islam, kemudian tempat Nabi Ibrahim (Abraham) hendak menyembelih anaknya, Ishak, dalam kepercayaan umat Yahudi

Daerah ini beberapa kali mengalami pasang surut peradaban dan sedikitnya tiga agama (Yahudi, Kristen dan Islam) pernah menguasai kota itu dan mewarnainya dengan budaya masing-masing.

Sejarah peradaban Palestina sejak awal penuh dengan peperangan.

Meskipun Islam telah menguasai Jerusalem, umat Nasrani aman tinggal di sana karena kehidupannya dijamin oleh pimpinan Islam yang berkuasa waktu itu. 

Bagian

Luas keseluruhan kompleks Masjid Al-Aqsa adalah sekitar 144.000 meter persegi dan dapat menampung 400.000 jemaah.

Bagian-bagiannya,adalah : Masjid Al-Qibli atau Jami' Al-Aqsha, Kubah Shakhrah, Musala Al-Marwani, Kubah Kenaikan (Mikraj), Kubah Silsilah, Kubah Nabi, Al-Mawazin, Museum Islam, Air Mancur Qayt Bay, Air Mancur Qasim Pasya, Gerbang-Gerbang, Menara masjid dan Tembok Ratapan

Arti dalam Islam

Masjid Al-Aqsa dikenal sebagai "masjid terjauh" dalam Surah Al-Isra pada Al-Qur'an.

Lokasinya menurut tradisi umat Islam ditafsirkan sebagai situs Al-Haram Asy-Syarif di Yerusalem, di mana masjid dengan nama ini kini telah berdiri.

Berdasarkan tradisi ini, istilah masjid yang dalam bahasa Arab secara harfiah berarti "tempat sujud", juga bisa merujuk untuk tempat-tempat ibadah monoteistik lainnya seperti Haikal Sulaiman, yang dalam Al-Qur'an juga disebut dengan istilah "masjid.

Kiblat pertama

Sejarah penting Masjid Al-Aqsa dalam Islam juga memperoleh penekanan lebih lanjut, karena umat Islam masa salat pernah berkiblat ke arah Al-Aqsa selama empat belas atau tujuh belas bulan setelah kejadian hijrah mereka ke Madinah tahun 624. 

Situasi Masa Kini

Kementerian Wakaf Yordania memegang kontrol atas Masjid Al-Aqsa hingga Perang Enam Hari tahun 1967.

Setelah memenangkan perang, Israel menyerahkan kekuasaan masjid dan Bukit Bait Suci untuk lembaga wakaf Islam yang independen dari pemerintahan Israel.

Namun, Tingkatan Pertahanan Israel diperbolehkan berpatroli dan melakukan pencarian di wilayah masjid.

Setelah pembakaran tahun 1969, lembaga wakaf tersebut mempekerjakan arsitek, teknisi, dan pengrajin dalam sebuah komite untuk melakukan perawatan.

Untuk mengimbangi beragam kebijakan Israel dan semakin meningkatnya kehadiran pasukan keamanan Israel di sekitar lokasi ini sejak Intifadah Al-Aqsa, Gerakan Islam bekerjasama dengan lembaga wakaf telah berusaha untuk meningkatkan kemudi Muslim di dalam sekeliling yang terkait Al-Haram Asy-Syarif.

Sebagian perkaranya termasuk memperbarui dan merenovasi kembali bangunan-bangunan yang terbengkalai.

Masa ini, imam utama dan pengurus Masjid Al-Aqsa merupakan Muhammad Ahmad Hussein.

Ia diangkat menjadi Mufti Agung Yerusalem pada tahun 2006 oleh Presiden Palestina Mahmud Abbas.

Imam-imam lainnya termasuk Syekh Yusuf Abu Sneina, Mufti Palestina sebelumnya Syekh Ikrimah Sa'id Sabri, serta mantan Imam Al-Aqsa Syekh Muhammad Abu Shusha yang kini tinggal di Amman, Yordania.

Kepemilikan Masjid Al-Aqsa merupakan noda satu isu dalam konflik Israel-Palestina. Israel mengklaim kekekuasaan atas masjid tersebut dan juga seluruh Bukit Bait Suci, tetapi Palestina memegang perwalian secara tak formal melalui lembaga wakaf.

Selama negosiasi di Pertemuan Camp David 2000, Palestina menanti kepemilikan penuh masjid ini serta situs-situs suci Islam lainnya yang mempunyai di Yerusalem Timur. 

Tempat Suci Bagi Pemeluk Agama Islam, Kristen, dan Yahudi

Masjidilaqsa atau Masjid Al-Aqsa atau Bukit Bait (Bait Suci) adalah nama sebuah kompleks seluas 144.000 meter persegi yang berada di Kota Lama Yerusalem.

 Sebagian besar orang mengira bahwa Masjid Al-Aqsa adalah Jami' Al-Aqsha atau Masjid Al-Qibli.

Padahal, Jami' Al-Aqsha adalah masjid berkubah biru yang menjadi bagian dari kompleks Masjidilaqsa pada bagian selatan.

Sedangkan Masjidilaqsa atau Masjid Al-Aqsa sendiri adalah nama dari kompleks tersebut, yang di dalamnya tidak hanya terdiri dari Jami' Al-Aqsha (bangunan berkubah biru).

Tetapi, juga ada Kubah Shakhrah (bangunan berkubah emas) dan berbagai situs lainnya di dalam kompleks Masjid Al-Aqsa.

Karena memiliki banyak situs suci di dalamnya, kompleks Masjid Al-Aqsa di Palestina menjadi tempat yang disucikan oleh tiga agama dunia, yakni Islam, Kristen, dan Yahudi.

Kompleks tersebut memiliki beragam fakta unik yang masih cukup jarang diketahui.

Dirangkum TribunTravel dari berbagai sumber, berikut fakta Masjid Al Aqsa yang juga menjadi salah satu sumber pertikaian negara Israel dan Palestina.

1. Tempat berpijaknya Nabi Muhammad Saw. saat Isra' Mi'raj

Dalam kepercayaan umat Islam, Masjid Al-Aqsa menjadi tempat persinggahan Nabi Muhammad Saw. sebelum diangkat ke Sidratulmuntaha.

Dalam perjalanannya, Nabi Muhammad Saw. didampingi oleh Malaikat Jibril dengan mengendarai Buraq.

Rasulullah memulai perjalanannya dari Masjidil Haram menuju Masjid Al-Aqsa.

Tempat pijakan Nabi Muhammad Saw. di Masjid Al-Aqsa kini dikenal sebagai Dome of The Rock yang berbentuk batu.

2. Kiblat pertama umat Islam

Masjid Al-Aqsa merupakan kiblat umat Islam pada generasi awal hingga tujuh belas bulan setelah hijrah.

Hingga akhirnya kiblat dialihkan ke Kakbah, Masjidil Haram di Makkah.

3. Kubah Shakhrah atau Dome of the Rock bukanlah Masjid Al-Aqsa

Kubah Shakhrah atau Kubah Batu ini dibangun pada masa Umayyah, antara tahun 691 hingga 715 Masehi.

Bangunan persegi delapan dengan kubah emas ini terletak di tengah kompleks Masjid AlAqsa.

Dome of The Rock sering kali disalahartikan sebagai Masjid Al-Aqsa, padahal keduanya adalah bangunan yang berbeda.

Dalam Kubah Shakhrah ini terdapat batu yang diyakini menjadi tempat pijakan Nabi Muhammad dalam perjalanan Isra Mikraj.

4. Tak hanya ada satu masjid di Masjid Al-Aqsa

Sebagian orang berpikir bahwa Masjid Al Aqsa hanya terdiri satu masjid saja yang berkubah emas atau bangunan di sudut paling selatan Masjid.

Padahal itu adalah Masjid Qibli, bagian dari Al Aqsa.

Di dalam kompleks Al Aqsa ada beberapa situs penting yang terhubung dengan beberapa kejadian historis seperti Masjid Buraq, Masjid Marwani, dan lainnya.

Masjid Al-Aqsa adalah sebutan bagi keseluruhan wilayah yang ada di dalam pagar.

Yang terdiri dari beberapa bangunan yang berfungsi sebagai masjid, musala, sekolah, sumber air, sumur, dan lainnya.

5. Lokasi makam para nabi

Masjid Al-Aqsa (ٱلْـمَـسْـجِـد الْاَقْـصَى) yang terletak di Kota Tua Yerusalem (Foto oleh Rade Šaptović di Unsplash)
Tak ada catatan berapa banyak nabi dan sahabat Nabi Muhammad Saw. yang dimakamkan di Masjid Al-Aqsa.

Namun, yang pasti ada beberapa nabi dan sahabat yang dimakamkan di Al Aqsa, seperti Nabi Sulaiman AS.

Seorang Nabi selalu dikuburkan di tempat di mana beliau meninggal.

Saat beliau meninggal, Nabi Suleiman sedang mengawasi pembangunan Al-Aqsa.

6. Pernah menjadi tempat tinggal Al Ghazali dan menulis Magnum Opus-nya, Mutiara-Ihya-Ulumuddin, di Al-Aqsa

Satu buku paling terkenal dalam literatur Islam adalah Ihyaa Ulum Al-Din yang ditulis oleh ulama besar Islam Abu Hamid Al-Ghazali.

Al-Ghazali adalah orang yang dihormati oleh semua aliran pemikiran karena kemampuannya menyelami jiwa manusia sambil tetap berpegang pada ajaran Alquran dan Nabi.

Namun, sebagaian orang tidak tahu, Al-Ghazali tinggal di Masjid Al-Aqsa dan menulis buku saat di sana.

Sebuah bangunan di Masjid Al-Aqsa menandai lokasi kamar lama Al Ghazali.

7. Pernah jadi tempat pembuangan sampah

Hal ini terjadi saat Romawi menduduki Yerusalem.

Penduduk Romawi umumnya menggunakan kawasan masjid ini sebagai tempat pembuangan sampah.

Namun, ketika Umar RA membebaskan kota Yerusalem, dia mengadakan sebuah program untuk membersihkan Al-Aqsa dari tempat sampah.

Umar juga mengundang 70 keluarga dari sebuah desa pengungsi terdekat untuk kembali ke Yerusalem.

8. Salat di Al Aqsa memiliki keutamaan tersendiri

Beberapa hadis berbeda-beda menerangkan jumlah rinci pahala salat di masjid Al-Aqsa.

Satu hadis paling masyhur menerangkan bahwa pahala salat di Masjid Al-Aqsa adalah seperti salat lima ratus kali di tempat selainnya.

"Keutamaan salat di Masjidil Haram adalah seratus ribu kali salat atas masjid selainnya. Salat di masjidku ini (Masjid Nabawi) adalah seribu shalat. Sedangkan di masjid Baitil Maqdis adalah 500 kali lipat." (HR. Al-Baihaqi di al-Sunan Al-Shughra, no. 1821 dan dishahihkan Al-Albani di Shahih al-Jami', no. 4211).

Selain itu, Masjid Al Aqsa juga diyakini sebagai satu di antara tempat yang tidak bisa dimasuki Dajjal saat akhir zaman nanti.

9. Terdapat sebuah mimbar legendaris di Masjid Al-Aqsa

Nooruddin Zanky, seorang pahlawan terbesar dalam sejarah Islam, memiliki mimbar khusus di dalam Masjid Al-Aqsa yang direbut kembali dari Tentara Salib.

Mimbar Nooruddin Zanky tidak hanya indah, tapi dibuat tanpa menggunakan paku atau lem sama sekali.

Sayangnya, Nooruddin tidak hidup untuk menyaksikan kemenangan Yerusalem setelah dikuasai oleh Romawi.

Setelah Yerusalem dibebaskan untuk kedua kalinya dalam sejarah Islam, mimbar Nooruddin Zanky dipasang kembali.

Mimbar ini menjadi karya legendaris bagi kalangan perajin.

TAUTAN AWAL : Riwayat Konflik Israel dan Palestina di Masjid Al-Aqsa dan Penuh Kedamaian, Inilah 10 Foto Kehidupan Masyarakat di Yerussalem Sebelum Israel Merongrong Palestina

Berita Tentang Israel

Sumber: Grid.ID
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved