Kapal Selam Nanggala Hilang Kontak
Kisah Negara-negara yang Kehilangan Kapal Selam, Insiden Khusus Tahun 1968
Kapal selam itu tenggelam di laut yang ganas dua hari setelah hilangnya kapal selam Israel “INS Dakar” di bagian timur Laut Tengah.
TRIBUNMANADO.CO.CO - Kapal selam KRI Nanggala 402 akhirnya dinyatakan tenggelam dan 53 awaknya gugur, Minggu (25/4/2021).
KRI Nanggala 402 hilang di perairan Selat Bali sejak hari Rabu (21/4/2021).
Setelah pencarian selama empat hari, KRI Nanggala 402 akhirnya ditemukan pada kedalaman 850 meter dengan bagian kapal yang terpisah tiga bagian.
Mengutip warta VOA Indonesia, insiden tenggelamnya kapal selam KRI Nenggala 402 mengingatkan peristiwa serupa yang terjadi pada kapal selam-kapal selam milik negara lain.
Berikut beberapa di antaranya:
Rusia
Empat belas pelaut tewas di dalam kapal selam nuklir Rusia di Laut Barents pada 2 Juli 2019 karena asap beracun akibat kebakaran.
Kremlin tidak mengungkapkan nama kapal selam itu, tetapi media Rusia menyebut nama kapal selam penelitian bertenaga nuklir adalah “Losharik,” yang dirancang untuk misi sensitif hingga ke kedalaman 910 meter.
Sebelumnya pada 8 November 2008, Rusia juga kehilangan 20 pelaut yang ada di dalam kapal selam bertenaga nuklir “Nerpa,” yang merupakan bagian dari Armada Pasifik negara itu, setelah terpicunya secara tidak sengaja sistem pemadam kebakaran di kapal naas itu.
Namun kecelakaan kapal selam yang paling banyak menelan korban jiwa di Rusia adalah tenggelamnya kapal selam “Kursk” pada 12 Agustus 2000 yang menewaskan 118 awaknya.

Argentina
Kapal selam Argentina “San Juan” hilang pada 15 November 2017 dan menewaskan seluruh awak yang berjumlah 44 orang ketika sedang dalam perjalanan pulang ke pangkalannya di Mar del Plata setelah mengikuti latihan militer.
Puing-puing kapal selam itu ditemukan setahun kemudian dalam operasi pencarian “Ocean Infinity of the US” di kedalaman sekitar 900 meter, di bagian timur Semenanjung Valdes, Patagonia.
Suatu penyelidikan menemukan bahwa bencana itu disebabkan ketidakefisienan komandan Angkatan Laut dan keterbatasan anggaran, bukan karena serangan atau tabrakan.
Kapal selam yang sebelumnya terpotong dalam dua bagian itu disatukan kembali pada tahun 2008-2014, dan para pakar sudah mengingatkan bahwa hal itu dapat membahayakan keselamatan awak. Tetapi peringatan itu tidak diindahkan.
