Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Kabar Tokoh

Ingat Dewi Tanjung, Politisi Kontroversial? Kini Muncul Buat Heboh Lagi, Para Zombie RI Jadi Sasaran

Dewi Tanjung kembali mengeluarkan penyataan kontroversial, sindir pelaku terorisme Bom Makassar hingga teror di Mabes Polri.

Editor: Frandi Piring
Tangkapan layar akun Youtube Dewi Tanjung
Politisi PDIP Dewi Tanjung. Kabar terbaru singgung pelaku terorisme di Makassar dan di Mabes Polri. 

Dalam paparannya, K.H. Zaitun Rasmin menekankan agar sejumlah pihak tidak menyampaikan penilaian sepihak, khususnya tentang penggunaan cadar dan celana cingkrang.

Terlebih, penilaian tersebut jauh dari pendapat ulama ataupun organisasi Islam yang ada di Indonesia, yakni Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.

"Ada tiga ormas besar atau terbesar yang mempunyai kompetensi, kita kembalikan bagaimana penilaian-penilaian itu agar kita tidak bebas nilai.

Dua Pelaku Terorisme, Lukman (kiri) pelaku Bom Makassar dan Zakiah Aini (kanan) pelaku teror Mabes Polri.
(Foto: Dua Pelaku Terorisme, Lukman (kiri) pelaku Bom Makassar dan Zakiah Aini (kanan) pelaku teror Mabes Polri. /Kolase Foto Istimewa)

Nah, saya setuju bahwa kita juga jangan apologi, di dalam dunia Islam yang namanya radikal berdasarkan agama itu pasti ada, dari zaman awal ada Khawarij dan membawa korban tidak sedikit,

ada syiah juga yang membawa korban waktu Qaramithah berkuasa, ada 30.000 orang dibunuh dari jemaah haji, Hajar Aswad dicuri dan ada liberalisme pemikiran ini juga tidak boleh kita tidak akui dalam dunia Islam," kata K.H. Zaitun Rasmin.

"Ya kalau Ahlussunnah saya akui flat dari dulu, ada kasus-kasus ahlussunnah membunuh dan sebagainya itu kasus yang lumrah terjadi di manusia, bukan karena berangkat dari pemahaman yang radikal tadi itu," tambahnya.

Pemahaman tentang radikalisme hingga liberalisme yang dianut kaum Syiah katanya tercatat dalam sejarah kaum Mu'tazilah,

mereka katanya dapat memutarbalikkan pendapat para ulama yang telah disepakati sebelumnya.

Namun, umat muslim Indonesia umumnya menganut paham Ahlussunnah yang menegaskan tidak boleh ada pendapat apabila telah didapatkan ijma ulama sebelumnya.

"Sekarang, kita biarkan radikalisme pemikiran itu, ini menunjukkan ketidakadilan. Misalnya, ada disertasi yang orang istilahkan disertasi mesum yang mengatakan hubungan laki-perempuan di luar pernikahan sebagai bukan zina, padahal ayatnya jelas,

hadistnya jelas, ijma ulama tentang itu juga jelas, nah ini kalau kita biarkan maka kita sendiri yang sebetulnya yang akan melahirkan radikalisme-radikalisme," kata K.H. Zaitun Rasmin.

"Sebab, di dunia ini pasti ada aksi-reaksi, kalau ada ekstrim kiri, akan mengundang ekstrim kanan. Bersyukurlah, alhamdulillah bang Karni,

di Indonesia ini banyak orang-orang yang punya komitmen agama yang tinggi, pakai cadar-celana cingkrang, tapi pemahaman wasathiyah-nya tinggi, sehingga tidak menjadi ekstrim," kata dia menegaskan.

Tidak Boleh Menyakiti

Halaman
1234
Sumber: TribunnewsWiki
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved