Breaking News:

Gempa Bumi

Gempa Bumi Kembali Terjadi di Halmahera Senin 1 Maret 2021, Sebelumnya RS Retak, Ini Magnitudo Gempa

Gempa terjadi tadi dini hari pukul 02.00 WIB dengan magnitudo 2,7 SR di Labuha, Halmahera Selatan. Sebelumnya retakan tembok Rumah Sakit.

Penulis: Frandi Piring
Editor: Frandi Piring
Facebook/Badan Nasional Penanggulangan Bencana
Gempa Guncang Labuha, Halmahera Selatan, Senin 1 Maret 2021. 

pusat gempa berada dekat lokasi gempa bumi dahsyat hampir 10 tahun lalu yang meruntuhkan 3 reaktor nuklir.

Bencana dahsyat yang dikenal dengan nama gempa Tohoku itu juga memicu tsunami.

Gempa dilaporkan juga terasa di Tokyo selama sekitar 30 detik,

dan guncangannya sangat kuat di Fukushima serta Sendai.

Kantor Perdana Menteri langsung mengaktifkan pusat manajemen krisis.

Kemudian Tokyo Electric Power Company atau Tepco yang mengoperasikan pembangkit listrik tenaga nuklir,

sedang mengecek apakah ada kebocoran atau tidak.

Gempa Magnitudo 7,7 SR Disertai Tsunami

Info tsunami terkini, Kamis (11/2/21).

Gelombang tsunami terjadi setelah guncangan gempa bermagnitudo 7,7 SR.

Gempa disertai tsunami tersebut terjadi di wilayah Pasifik Selatan.

Gelombang tsunami kecil terjadi setalah getaran gempa di beberapa wilayah negara di sekitar Pasifik Selatan.

Proses evakuasi setelah tsunami tidak dilakukan.

Melansir Kompas.com yang melansir CNA,

sejauh ini belum ada laporan dari pihak berwenang terkait kerusakan akibat peristiwa ini.

Berdasarkan Survei Geologi AS (USGS), guncangan gempa terjadi pada Kamis (11/2/2021),

tepat setelah tengah malam waktu setempat,

dengan pusat gempa berada di sekitar 415 kilometer timur Vao di Kaledonia Baru pada kedalaman 10 kilometer.

Melansir Al Jazeera, gempa ini merupakan yang terkuat dari total lima gempa bumi yang terjadi dalam waktu satu jam di sebelah tenggara gugusan pulau.

Pusat Peringatan Tsunami Pasifik NWS Pemerintah AS menuturkan,

gelombang tsunami berbahaya diperkirakan terjadi di beberapa pantai.

Disebutkan, gelombang mencapai antara 0,3-1 meter di atas permukaan air pasang, kemungkinan terjadi di Fiji, Selandia Baru, dan Vanuatu.

Sementara itu, Departemen Seismologi Fiji melalui akun Twitternya menyampaikan bahwa gelombang 0,3 meter melanda wilayahnya.

Namun kemudian, pihaknya membatalkan peringatan tsunami.

"Observatorium seismologi atas penilaiannya sekarang telah memverifikasi dan mengonfirmasi pembatalan peringatan itu.

Semua informasi yang jelas dikeluarkan untuk seluruh kelompok (masyarakat) Fiji," tulis Departemen Seismologi Fiji.

Adapun Biro Meteorologi Australia telah mengonfirmasi terjadinya tsunami melalui twitnya.

Muncul peringatan mengenai ancaman tsunami terhadap Pulau Lord Howe, yang berjarak sekitar 550 kilometer di timur daratan Australia.

Kendati demikian, disebutkan tidak memerlukan proses evakuasi.

Warga di ibu kota Vanuatu, Port Vila menuturkan bahwa mereka merasakan gempa tersebut,

namun tak ada kerusakan yang ditimbulkan akibat guncangan dan gelombang berikutnya.

Badan Manajemen Darurat Nasional Selandia Baru memperingatkan adanya arus kuat dan tidak biasa di daerah pesisir utara,

namun disebut tidak menimbulkan risiko tsunami.

"Tidak ada ancaman terhadap daratan jadi kami belum mengeluarkan peringatan tsunami," kata Pelaksana Tugas Direktur Badan Bencana Roger Ball.

Kendati demikian, masyarakat yang berada di daerah pesisir diimbau untuk menjauh dari pantai.

"Orang-orang di dalam atau dekat laut di area berikut harus keluar dari area pantai

dan menjauh dari pelabuhan, sungai, dan muara," ujar badan tersebut.

Daerah yang terkena dampak termasuk di ujung utara Pulau Utara Selandia Baru, Pulau Great Barrier di timur Auckland dan hamparan pantai di sepanjang timur negara ini.

Tidak ada laporan awal mengenai korban jiwa atau kerusakan akibat tsunami atau gempa,

yang awalnya dicatat oleh USGS pada magnitudo 7,5 sebelum direvisi menjadi 7,7.

Sebagai tambahan informasi, Cincin Api Pasifik, tempat lempeng tektonik bertabrakan,

sering mengalami aktivitas seismik dan vulkanik.

Pada 2018, gempa berkekuatan 7,5 magnituro yang disusul gelombang tsunami,

terjadi di Pulau Sulawesi, Indonesia, yang menyebabkan lebih dari 4.300 orang tewas atau hilang.

Sementara itu, pada 2004, gempa berkekuatan 9,1 magnitudo melanda pantai Pulau Sumatera, Indonesia,

memicu tsunami yang menewaskan 220.000 orang di seluruh wilayah.

Korban tewas termasuk sekitar 170.000 orang di Indonesia,

menjadi salah satu bencana alam paling mematikan dalam sejarah.

(fra-tribunmanado.co.id/kompas.com)

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved