Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Gempa Bumi

Heboh Potensi Gempa Dahsyat Magnitude 8,7 di Jawa, Bahaya Peristiwa 500 Tahun Lalu Terulang Lagi

Meski skenario terburuk tersebut tidak diketahui kapan akan terjadi, sepanjang Samudera Hindia selatan Jawa terdapat tiga segmentasi megathrust

Editor: Finneke Wolajan
travel.tribunnews.com
Tebing Keraton 

"Upaya mitigasi merupakan tanggung jawab semua pihak dan harus di lakukan sedini mungkin sebelum suatu bencana terjadi. Namun, karena terbatasnya jumlah para peneliti yang berkecimpung dalam hal potensi kebencanaan di Indonesia, maka Pemerintah dapat mendorong agar setiap kampus atau perguruan tinggi dapat melakukan riset - riset mengenai potensi bencana setiap daerah di Indonesia, guna memperoleh detil potensi gempa yang lebih spesifik. Dengan begitu, para pengambil kebijakan dapat menginformasikannya, agar  masyarakat dapat memahami potensi gempa secara lebih baik," ujar Pria kelahiran Bandung, 18 Mei 1974 tersebut. 

Sesar Lembang
Sesar Lembang (Google Maps)

Mengukur besarnya potensi kegempaan di Indonesia, seberapa jauh perbandingan kelengkapan sarana mitigasi yang dimiliki negara kita dengan negara lain?

"Perbandingan upaya mitigasi negara kita dengan negara lain yang memiliki potensi yang sama, salah satunya tempat saya belajar dulu yaitu Jepang, dengan luas negara yang sekitar hanya sebesar Pulau Sumatera, namun mereka memiliki jaringan pengamatan kegempaan, seperti GPS itu sepuluh kali lebih banyak dengan apa yang negara kita miliki. Dengan jaringan yang lebih baik, maka kemampuan para peneliti dalam memahami potensi gempa dalam konteks probabilitas itu, tentu jauh lebih maksimal. Bahkan, dengan kelengkapan itu rentang kemungkinan dari probabilitas itu bisa di buat semakin pendek pada saat data pengamatannya semakin baik, sehingga masyarakat disana tidak selalu kaget bila gempa itu terjadi," ucapnya.

Bagaimana dengan kondisi di dimiliki negara kita ?

"Karena kita tidak memiliki kemampuan jaringan pengamatan potensi gempa seperti negara maju (mis Jepang), maka sebagai ilustrasi, saat terjadi gempa di Ambon tahun 2019 lalu. Dimana kita dapat mengetahui bahwa Pulau Ambon memiliki potensi gempa sesar geser, sesudah gempa Ambon betul-betul terjadi pada tahun 2019. Begitu pula kita baru paham adanya potesi gempa di daerah Pidie Jaya, sesudah gempa 2016 terjadi disana, sehingga bila berkaca pada aspek keilmuan, hal tersebut tidak boleh terjadi, karena seharusnya kita bisa mengetahui potensi gempa secara mendetail sebelum bencana terjadi, sehingga kita sempat melakukan upaya mitigasi  bagi masyarakat," ucapnya.\

Apa upaya yang seharusnya dapat dilakukan pemerintah agar mitigasi dapat lebih maksimal ?

"Kita sebetulnya selama ini berharap akan adanya dukungan yang kuat dari para pengambil kebijakan, karena mereka pun perlu menyadari bahwa untuk dapat sampai ke tahap kemampuan mitigasi di masyarakat dalam upaya mengurangi risiko dampak bencana, sebelumnya peneliti harus diberikan kesempatan melakukan riset sumber gempa .

Kemudian hasil riset tersebut menjadi dasar pemerintah membuat kebijakan mitigasi termasuk diantaranya penataan ruang yang memasukan unsur kebencanan, dan penerapan pendidikan kebencanaan melalui kurikulum di sekolah. Kalau upaya itu belum clear dan kuat dilakukan di masyarakat oleh semua stakeholder, maka, upaya mitigasi masyarakat kita tidak akan pernah maksimal," ujar peraih gelar magister dan doktor ilmu kebumian di Nagoya University, Japan tersebut.

Setiap gempa yang terjadi di wilayah Jawa Barat, selalu di kaitkan masyarakat dengan  aktifnya Sesar Lembang, bagaimana sebenarnya kondisi Sesar Lembang itu?

"Sesar Lembang itu adalah salah satu dari lima sesar aktif potensi sumber gempa yang ada di wilayah Jawa Barat, selain Sesar Cimandiri, Sesar Cipamingpis, Sesar Garsela, dan Sesar Baribis.

Riset tentang Sesar Lembang itu telah ada cukup lama, salah satunya di publikasikan oleh Prof. Cia sekitar tahun 1968 lalu, dimana dalam papernya dijelaskan dengan sangat baik, bagaimana proses terbentuknya Gunung Api Sunda Purba, yang kemudian berkembang menjadi sebuah sesar aktif dengan memiliki pola geser mendatar mengiri dan pola turun dengan perbandingan 2:1.

Menariknya setelah paper Prof. Cia publish kami tidak menemukan adanya literatur lain selengkap yang di buat beliau, dengan kondisi kehilangan itu, menurut saya inilah mengapa banyak sekali pertanyaan dan ketidakyakinan bahwa sesar Lembang adalah sebuah sesar aktif," ujarnya. Publikasi detail mengenai sesar Lembang baru terbit kembali pada tahun 2000an, dengan tulisan lengkap yang ditulis oleh Dr. Mudrik Daryono dari LIPI pada tahun 2019.

Bagaimana dengan hasil penelitian dari peneliti lain terkait Sesar Lembang, akankah menjadi sebuah pertanyaan yang tidak terjawab kondisinya ?

"Para peneliti hingga kini terus mencoba menggali berbagai informasi potensi terkait kondisi dari kondisi Sesar Lembang dan empat sesar aktif lainnya di Jawa Barat.
Seperti peneliti dari LIPI, Pak Mudrik Rahmawan Daryono berhasil menggali bahwa pada 500 tahun lalu pernah terjadinya sebuah gempa besar di jalur Sesar Lembang dan menemukan adanya beberapa offset atau pergeseran di permukaan juga di bagian bawah permukaan, dengan penggalian kondisi tanah di jalur Sesar Lembang juga pengambilan foto dengan lidar, bahkan foto itu menjadi Lidar terbaik yang pernah ada di Indonesia menjadi bukti bahwa pernah terjadinya gempa besar di masa lalu.
Sehingga penelitiannya dapat melengkapi apa yang dilakukan oleh Prof. Cia puluhan tahun lalu, dengan data terbarukan." ucapnya.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved