Kamis, 7 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Penanganan Covid

25 Kasus Covid-19 Tercatat Pada 18 Februari, Manado Sumbang 12 Kasus

Pada Kamis (18/2/2021) terjadi pertambahan 25 kasus Covid 19 di Provinsi Sulut

Tayang:
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: David_Kusuma
Tribun manado / Arthur Rompis
vaksinasi covid-19 di Manado 

Manado, TRIBUNMANADO.CO.ID - Pada Kamis (18/2/2021) terjadi pertambahan 25 kasus Covid 19 di Provinsi Sulut.

Data yang dihimpun Tribun Manado dari rilis tim gugus tugas percepatan penanganan Covid-19 Sulut Kamis malam,

kasus terbanyak berasal dari Manado yakni 12 kasus.

Disusul Bolmut 3 kasus dan Minsel, Bolmong, Mitra dan Minut sebanyak 2 kasus. 

Baca juga: Sambut Plh Wali Kota Tomohon, Pandeirot Pastikan Kawal Koordinasi Penyelenggaraan Pemerintahan

Baca juga: Sosok Irjen Paulus Waterpauw, Ditunjuk Jadi Kabaintelkam, Baru Saja Ditugaskan Buruh KKB Papua

Baca juga: Kecelakaan Maut, Sopir Tewas Usai Truknya Tabrak Pembatas Jalan, Ayam Terlantar Berhamburan di Jalan

Sementara kasus sembuh sebanyak 24 orang.

Terbanyak dari Minahasa sebanyak 12 orang. Total 14.647 warga Sulut terpapar Covid-19.

Sebanyak 11.033. 507 orang meninggal. Kasus aktif tercatat 3.107.

Pandemi Covid-19 di Indonesia mendekati usia satu tahun. Namun hingga kini, tanda-tanda bakal berakhirnya pandemi ini belum terlihat.

Jumlah pasien yang terpapar virus corona setiap hari terus bertambah.

Salah satu karakteristik pasien Covid-19 yang selama ini dikhawatirkan adalah mereka yang tidak menunjukkan gejala.

Personel Polres Minahasa dan Polsek jajaran mengawal pelaksanaan vaksinasi Covid-19 tahap 2 bagi para nakes (tenaga kesehatan).
Personel Polres Minahasa dan Polsek jajaran mengawal pelaksanaan vaksinasi Covid-19 tahap 2 bagi para nakes (tenaga kesehatan). (tribunmanado.co.id/Andreas Ruauw)

Sejumlah ilmuwan tengah meneliti mengenai tingkat kasus Covid-19 asimptomatik atau tidak bergejala pada populasi.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) memperkirakan setidaknya 40 persen kasus merupakan tak bergejala,

sementara penelitian lain menemukan sekitar 50 persen berasal dari orang tanpa gejala.

Namun kini, sebuah studi baru menunjukkan bahwa kasus tanpa gejala adalah mewakili sebagian besar infeksi yang terjadi.

Baca juga: 2 Tahun Rahasiakan Perselingkuhan Suami dan Nissa Sabyan, Ririe Tak Tahan dan Akhiri Pernikahannya

Baca juga: Menkeu Sri Mulyani Singgung Ditjen Kekayaan, Kelola 10.000 T: Ini Orang Terkaya di Seluruh Indonesia

Hanya 13 persen yang bergejala

Para peneliti di University of Chicago membuat permodelan yang menggabungkan tes antibodi di New York City dari Maret hingga April 2020,

kasus-kasus yang tercatat dari Maret hingga Juni serta adanya perubahan dalam kapasitas pengujian New York dalam rentang waktu tersebut.

Hasilnya disebutkan hanya 13 persen hingga 18 persen kasus positif Covid-19 yang bergejala.

"Ada banyak orang tanpa gejala, jauh lebih besar dari yang diasumsikan banyak penelitian," Rahul Subramanian, salah satu penulis penelitian dikutip dari Business Insider (13/2/2021).

Baca juga: Masih Ingat, Aulia Kesuma Yang Bunuh Suami dan Anak Tirinya?

Baca juga: Amanda Manopo Kini Sering Pamer Foto saat Pakai Hijab, Ada Apa?

Sulit dideteksi Infeksi asimptomatik termasuk sulit dikenali dan dikuantifikasi karena seseorang cenderung merasa baik-baik saja.

Perkiraan tim ini lebih tinggi dibanding penelitian yang lain karena mungkin menggunakan definisi lebih luas dari kasus tanpa gejala,

yakni termasuk orang yang gejalanya sangat ringan yang menyebabkan seseorang itu tidak pernah melakukan pemeriksaan kesehatan.

Baca juga: Kronologi Wanita Pembunuh Suami dan Anak Tiri, Aulia Kesuma Kini Divonis Hukuman Mati

Baca juga: Pemkab Bolmong dan Polres Gelar Pisah Sambut Kapolres

Kasus non gejala

Para peneliti saat ini memperkirakan nilai reproduksi virus berada di antara 2 dan 3 yang berarti satu orang yang sakit bisa menginfeksi rata-rata dua hingga tiga orang lain.

Namun jika model Subramanian benar, itu berarti virus lebih mudah menyebar dari orang ke orang.

Dari skenario yang menurutnya mungkin, Subramanian menilai infeksi non gejala bertanggung jawab atas setidaknya 50 persen penularan virus corona.

Karena itulah dirinya mengingatkan untuk tidak meremehkan ancaman penularan tanpa gejala dan mewaspadai varian baru.

"Ketika Anda memiliki varian baru Covid-19, jika angka reproduksinya lebih tinggi, itu berarti virus tersebut akan dapat menyebar meski lebih sedikit orang yang rentan," kata Subramanian.

Baca juga: FAKTA Kabar Nissa dan Ayus Sabyan Selingkuh, Ada Bukti Video hingga Mengaku Saling Cinta

Baca juga: Siapa Komjen Rycko Amelza Dahniel? Ditunjuk Kapolri Jadi Kalemdiklat Baru, Lulusan Terbaik Akpol 88

Tes Covid-19

Sekarang, lebih dari sebelumnya, dia mengingatkan penting untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin kasus asimtomatik untuk memperlambat penularan.

Sebab meskipun protokol kesehatan seperti memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan dengan sabun dilakukan, menurutnya penting melakukan tes dan memastikan orang yang tidak memiliki gejala.

"Anda tidak ingin membatasinya hanya pada orang yang mengalami gejala," kata dia.(*)

Baca juga: Banjir di Jakarta, LAPAN Ingatkan Hujan di DKI sampai 20 Februari, Ini Sejumlah Titik yang Tergenang

Baca juga: Siapa Brigjen Mathius Fakhiri? Putra Asli Papua yang Tak Gentar dengan Tantangan Perang dari KKB

YOUTUBE TRIBUN MANADO:

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved