OPINI POLITIK
Nak… Saya Prihatin, Kamu Kok Malah Kasih Panggung Buat Moeldoko?
Tidak ada salahnya kalau Jenderal (Pur) Moeldoko mau nyapres. Tidak ada salahnya pula kalau Pak Jokowi – katanya – “merestui”. Memangnya kenapa?
Masalahnya ia mau dan mampu atau tidak? Bahwa dukungan DPD-DPC (modal-politik) itu definitif dan orisinal atau tidak? Itu saja khan persoalannya.
Ingat lho, unjuk kematangan itu bukan soal pasang jenggot.
Justru dengan mengumbar-umbar cerita bahwa ada “orang dekat lingkaran istana” (sekarang sudah jelas maksudnya Jenderal Moeldoko)
ia malahan secara gratisan memberi panggung promosi bagi Jenderal Moeldoko, yang – kalau benar ingin nyapres – malah seperti diberi akses jalan tol ke internal Partai Demokrat untuk beternak dukungan.
Ia bisa jadi semacam “satria piningit”-nya para reformis di internal partai.
Jadi semacam promosi ke internal Partai Demokrat bagi kader-kader yang sedang goyang imannya, dan ke eksternal partai bahwa
ternyata ada kandidat yang lebih “kuat” (bintang empat vs melati satu, matang vs mangkel, old-crack vs newbie, dst) demi mengembalikan kedigdayaan partai yang pernah mereka nikmati dahulu kala.
Soalnya kelamaan jadi “oposisi yang tidak jelas” membuat kering kerontang juga sih. Ngerti khan maksudnya?
Sudah banyak yang menganalisa tentang apa sih relevansi Pak Jokowi dikait-kaitkan dalam kekisruhan internal Partai Demokrat. Tak usah kita ulangi lagi disini.
Lha wong beliau sekarang sedang senyum-senyum geli membaca surat AHY kepadanya. Iki opo maksudte tho... lek???
Sementara itu di sebuah kamar, Pepo sedang gundah.
Dan dalam kegundahannya ia mungkin terinspirasi untuk menciptakan lagu lagi. Kali ini mungkin judulnya agak melow:
“Nak… Saya Prihatin, Kamu Kok Malah Kasih Panggung Buat Moeldoko?”
03/02/2021
Andre Vincent Wenas, Direktur Kajian Ekonomi, Kebijakan Publik & SDA Lembaga Kajian Anak Bangsa (LKAB).