Senin, 13 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Donald Trump

Donald Trump Dimakzulkan DPR Amerika, Politisi Partai Republik Membelot

Ada 10 Republikan yang bergabung dengan suara Demokrat untuk memakzulkan Trump dengan dakwaan "hasutan pemberontakan",

Editor: Aldi Ponge
Tribunnews
Presiden AS Donald Trump 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Presiden Donald Trump kedua kalinya dimakzulkan DPR Amerika Serikat.

Pemakzulan mendapat dukungan 232 dari 197 suara DPR untuk dapat memakzulkan Presiden, pada Rabu (13/1/2021).

Upaya ini dilakukan sepekan setelah para perusuh membuat anggota parlemen terpaksa meninggalkan ruangan dalam prosesi sertifikasi kemenangan Joe Biden.

Di ruangan yang sama, DPR memberikan suara untuk memakzulkan presiden ke-4 dalam sejarah AS dan satu-satunya presiden yang dimakzulkan dua kali.

Ada 10 Republikan yang bergabung dengan suara Demokrat untuk memakzulkan Trump dengan dakwaan "hasutan pemberontakan", yaitu di antaranya Liz Cheney, orang nomor 3 di DPR dari partai itu.

Baca juga: Pandemi vs Pendidikan: Melihat Seberapa Jauh Pemerintah Menjaga Kualitas Pendidikan Sampai 2021

Baca juga: Jadwal Liga Inggris & FA CUP, Pekan Depan Manchester United Akan Melawan Liverpool Dua Kali

Pemimpin Mayoritas Senat, Mitch McConnel mengatakan Trump akan menghadapi persidangan setelah presiden terpilih Joe Biden dilantik pada pekan depan.

Keputusan itu merupakan hasil suara dari tanggapan mendalam anggota parlemen kedua partai, yang marah karena penyerbuan massa pro-Trump melumpuhkan kepolisian Gedung Capitol, menggeledah kantor, dan membahayakan nyawa Wakil Presiden Mike Pence dan anggota parlemen.

"Kami tahu bahwa presiden AS menghasut pemberontakan ini, pemberontak bersenjata melawan negara kita bersama," kata Ketua DPR Nancy Pelosi di DPR menjelang pemungutan suara pemakzulan.

"Dia harus pergi. Dia jelas melakukan dan menghadirkan bahwa bagi bangsa yang kita cintai," lanjutnya.

Kecepatan pemungutan suara dan dukungan Republikan menggarisbawahi kemarahan anggota parlemen tentng peran Trump, yang menghasut para perusuh yang kemudian menduduki Gedung Capitol.

Retorika presiden AS ke-45 selama berbulan-bulan tentang klaim palsu bahwa suara pemilu dicuri darinya, diduga kuat menjadi pemicu penyerangan massa di Gedung Capitol.

 Cheney mengklaim hal tersebut yang dikutip oleh pendukung pemakzulan dan klaim Trump adalah fitnah, pada Rabu (13/1/2021).

Dia sebelumnya telah mengatakan Trump "mengundang massa, mengumpulkan mereka dan menyalakan api penyerangan".

"Tidak pernah ada pengkhianatan yang lebih parah dari seorang presiden Amerika Serikat terhadap jabatannya dan sumpahnya kepada Konstitusi," kata Cheney.

Pemimpin Minoritas DPR, Kevin McCarthy mengatakan ada Rabu (13/1/2021) bahwa Trump "memikul tanggung jawab atas serangan Rabu di Kongres oleh massa perusuh".

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/4
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved