Breaking News:

Tajuk Tamu Tribun Manado

Membaca Kebudayaan Adalah Menafsir

Benar bahwa perdebatan adalah hanya seputar asal usul budaya atau kebudayaan [Minahasa], tapi perlulah kita mengartikulasikan apa itu kebudayaan.

ISTIMEWA
Ambrosius Loho 

Oleh:
Ambrosius M Loho M.Fil
Dosen Universitas Katolik De La Salle Manado
Pegiat Filsafat-Estetika

KEBUDAYAAN selalu menarik. Selain menarik, kebudayaan juga penting dalam kehidupan. Oleh karena menarik dan penting, kebudayaan itu perlu dibaca bahkan dibaca dari pelbagai perspektif ilmu pengetahuan, karena diyakini, tidak ada kebudayaan yang absolut, mutlak dan atau tanpa tafsir. Amatan kurun waktu sebulan terakhir, kebudayaan telah banyak berubah dan mengubah peradaban.

Budaya di masa ‘new normal’ saat ini, juga banyak mementaskan sebuah, bilanglah kebaruan. Baru karena terjadi saling kritik, saling ‘cibir’ dan bahkan ada saling komplain tentang sesuatu. Itu terjadi terutama dalam diskusi-diskusi tentang Minahasa dan ke-Minahasa-an. Apapun itu biarlah, jika itu memang menjadi iklim dialektika (percakapan rasional yang benar-benar kritis), asal bukan untuk mencari panggung atau numpang tenar. Dalam pengembangan sebuah ilmu pengetahuan, dialektika-percakapan kritis rasional adalah yang utama.

Kendati begitu, penulis tidak yakin, bahwa orang-orang pada umumnya sudah mengerti apa yang diperdebatkan. Benar bahwa perdebatan adalah hanya seputar asal usul budaya atau kebudayaan [Minahasa], tapi perlulah kita mengartikulasikan apa itu kebudayaan. Dari sini amat sangat jelas bahwa kebudayaan memang harus dibaca dan ditafsirkan.

Membaca kebudayaan tidak hanya menelitinya secara kuantitatif, tetapi juga kualitatif dan dibawa dalam sebuah diskusi atau dialektika sebagai pengujian atasnya. Dengan membaca kebudayaan berarti membaca dalam bingkai peradaban, yang juga berarti usaha yang terus menerus, yang memberinya visi dan aksi. (Sutrisno, 2014: 11). Dengan lain kata, membaca kebudayaan harus tanpa henti dan perlu usaha yang terus menerus agar inti dan makna terdalam dari kebudayaan dapat teruraikan dengan jelas. Bahkan tanpa ajakan untuk membaca kebudayaan tanpa henti itu mengemuka, setiap ilmuan pasti telah sementara membaca kebudayaan.

Hermeneutika yang menekankan segi menafsir teks, kadang terlalu sempit untuk dipahami sebatas memahami sebuah teks seperti puisi, drama dan atau lainnya. Padalah justru dalam teori kebudayaan, ketika berbicara teks, kita berbicara kehidupan sehari-hari. Makna teks tersebut diperluas untuk mengartikan perilaku, tindakan sosial, dan karya dari masyarakat yang menghayati kehidupannya baik secara sosial, politis, maupun estetis religius. Itulah teks dalam hermeneutika.

Demi melengkapi itu, hemat penulis, diperlukan pula tahap-tahap dalam memahami dan menafsirkan kebudayaan, mengingat berkembang dan beragamnya kebudayaan. Pertama, menuntut pembacaan budaya dari bahasa logis ke bahasa tulis, serta simbolis dan semiotis. Ini menngartikan bahwa orang harus masuk ‘dari dalam‘ dan ‘hidup di dalamnya’, termasuk mengenali bahasa dan simbol-simbolnya untuk membaca kebudayaan dalam tahap bahasa ini.

Kedua, kebudayaan oleh masyarakat diungkapkan atau ditradisikan lewat peribahasa, tradisi cerita dongeng, mitos, simbol ritual, bahkan adat kebiasaan dan bahasa tanda. Membaca kebudayaan di sini membutuhkan pemahaman dan pengenalan yang tidak hanya rasional, tapi juga intuitif untuk masuk dan mencoba memahami episteme-nya.

Ketiga, bacaan kebudayaan yang dimaksudkan sebagai teks yang dibaca, membutuhkan bingkai nilai dan pemahaman estetis, religius, dan etis. Artinya pembacaan memakai bingkai intuisi keindahan dari kehidupan dalam seni dan religiositas terhadap perilaku dan setiap tindakan yang dipilih, untuk dijalani oleh kelompok masyarakat tertentu.

Keempat, sebagai patokan atau acuan, kebudayaan pada tahap ini harus dibaca dari norma, aturan tingkah laku, yang mengatur hubungan bersama. Maka kebudayaan tidak cukup hanya diteliti secara kuantitatif, tapi kualitatif serta dialog.

Akhirnya, harus disadari bahwa membaca kebudayaan memang membutuhkan kesiap-sediaan untuk terus menerus mengartikulasikan makna yang tersembunyi di balik tradisi lisan maupun tulisan. Kita lahir dari kehidupan budaya lisan dan tulisan yang menggugah kita untuk memberi tafsiran baru dengan membacanya menurut makna tradisi. Dengan membaca kebudayaan sebagai sistem makna, niscaya kita akan menemukan sebuah ‘episteme’ menuju ke arah yang membuat budaya, lebih beradab, lebih dipahami dan lebih bermakna. (*)

Baca juga: Pembalap Valentino Rossi Sembuh dari Covid-19, Siap Kembali pada MotoGP Eropa 2020

Baca juga: Kontak Senjata di Intan Jaya Hari Ini, Bocah 6 Tahun Kena Tembak, Satu Anggota TNI dan KKB Tewas

Baca juga: 6 Komponen yang Wajib Diperiksa saat Tune Up Mobil Menurut Pakar Teknis, Kembalikan Performa Mesin

Editor: maximus conterius
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved