Cagar Budaya Kalisosok
Penjara Kalisosok, Sholeh: Dulu Saya Bebas Baca Buku Aliran Kiri di Sini, Nonton TV Okey
Penjara ini memiliki banyak sejarah bagi ribuan eks penghuni tempat ini. Mungkin banyak yang menganggap eks penjara
TRIBUNMANADO.CO.ID, SURABAYA - Penjara ini memiliki banyak sejarah bagi ribuan eks penghuni tempat ini. Mungkin banyak yang menganggap eks penjara ini angker dan menakutkan. Namun, beberapa aktivis yang pernah menjadi tahanan politik di ini memberikan pengakuan berbeda.
Sudah bertahun-tahun Pemkot Surabaya ingin mengambil alih bangunan cagar budaya yang kini dimiliki PT Fairco Jaya Dwipa itu.

Aktivis 1998, Mohammad Sholeh atau yang lebih dikenal dengan panggilan M Sholeh pernah menghuni penjara Kalisosok selama 1,5 tahun gara-gara menjadi musuh Orde Baru.
Selama itu ia punya setumpuk kenangan yang sulit dilupakan.
Hari-hari Sholeh lebih banyak dihabiskan membaca buku, bercocok tanam dan berolah raga. Baginya, menjadi penghuni penjara yang dikenal paling angker itu bukanlah cita-cita.
Namun, rezim Soeharto kala itu menganggap aktivitas politik Sholeh sebagai tindakan subversif.
Pengadilan Negeri (PN) Surabaya menvonis Sholeh 4 tahun penjara pada 1996. Bersama Sholeh, ada pula rekan seorganisasinya di Partai Rakyat Demokratik (PRD), Coen Husain Pontoh yang juga dijebloskan ke Kalisosok.
“Dalam bayangan saya, Kalisosok ini angker dan menakutkan,” ujarnya kepada Surya(Tribunnews.com Network), Selasa (5/7).
Anggapan itu sirna begitu Sholeh menjalani hidup sebagai warga binaan di sana. Sholeh ditempatkan di blok E yang merupakan blok isolasi. Satu kamar di blok itu, hanya diisi satu orang.
Baca juga: Pimpin Apel ASN, Bupati Depri Pontoh Ingatkan Soal Disiplin dan Kinerja ASN
Baca juga: Istri Tolak Rawat Anak Tiri, Suami Marah & Tikam Korban hingga Tewas, Lalu Menggorok Leher Sendiri
Para tahanan politik, biasanya memang ditempatkan di blok tersebut.
Selain tahanan politik, Sholeh juga satu blok dengan narapidana kasus pembunuhan dan penjahat kakap. Sholeh mengungkapkan, dia satu blok dengan Sugik, pembunuh satu keluarga di Jojoran.
Lalu Aris, narapidana pembunuhan keluarga pejabat bank swasta.Ada pula Prayit dan Sugeng, mertua dan menantu yang membunuh perwira TNI aktif. Mereka semua adalah terpidana mati.
”Meskipun kasusnya ngeri-ngeri, mereka sama sekali jauh dari kata ngeri. Kami berinteraksi seperti saudara dan saling peduli,” ungkapnya.
Pria yang kini berprofesi sebagai pengacara itu mengatakan, Kalisosok baginya lebih cocok disebut mes kampus ketimbang penjara. Di sana, dia bebas memasukkan buku-buku bacaan beraliran ’kiri’.
Bahkan, sarana hiburan seperti televisi juga bebas bertengger di lemari kamarnya.