Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Amerika Serikat Mendekati Krisis Dolar, Utang Negara Pada Skala yang Belum Pernah Dialami Sebelumnya

AS sedang memasuki bab terakhir dari buku yang mulai ditulis oleh mantan Ketua Fed, Alan Greenspan.

BarBus/Pixabay
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Amerika Serikat dijuluki sebagai negara terkuat di dunia.

Selain menjadi negara terkuat, Amerika Serikat menyandang negara adi kuasa karena kekuatan negeri ini yang luar biasa di hampir semua sektor.

Bisa dibilang Amerika Serikat sebagai negara terdepan di dunia. 

Tapi belakangan ini, julukan tersebut sudah tidak relevan mengingat kondisi Negeri Paman Sam

AS Menuju <a href='https://manado.tribunnews.com/tag/krisis-dolar' title='Krisis Dolar'>Krisis Dolar</a> dan Utang Negara dalam Skala yang Belum Pernah Dialami Sebelumnya

Julukan adi kuasa itu tampaknya harus tumbang pada tahun ini, karena masalah luar biasa sedang melanda negeri tersebut.

Menurut laporan terbaru 24h.com.vn pada Jumat (31/7/2020) lalu, ada pernyataan yang menyatakan bahwa Amerika kini dalam kondisi terburuknya.

Mantan Wakil Presiden AS Joe Biden, menegaskan bahwa Amerika dalam krisis ekonomi terhebat yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Sedangkan Ekonom Peter Schiff menyebut bahwa Federal Reserve Amerika Serikat (AS) tidak pernah benar dalam menerapkan kebijakannya dan kini tengah menyiapkan ekonomi Amerika untuk menghadapi krisis yang lebih besar.

Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam Virtual Investor Day Conference.

Menurutnya, AS sedang memasuki bab terakhir dari buku yang mulai ditulis oleh mantan Ketua Fed, Alan Greenspan. 

"Saat gelembung (krisis) itu meletus, alih-alih mengakui kesalahannya, Greenspan mengabaikannya dan mencoba menghidupkan kembali perekonomian (AS) dengan menggembungkan gelembung yang lebih besar di pasar real estate daripada gelembung yang baru saja muncul di pasar saham. Dan Fed menggembungkan gelembung itu, tapi itu bukan hal yang berhasil, itu adalah kegagalan," kata Schiff.

Dikutip dari laman Russia Today, Sabtu (31/10/2020), warga AS kini lebih banyak beraktivitas di rumah dan itu mendorong peningkatan belanja konsumen mereka.

Mereka pun hidup di luar kemampuan ekonomi, bahkan tidak ada yang menabung.

 "Jadi, perekonomian terdistorsi oleh malinvestasi dan keputusan buruk yang dibuat sebagai akibat dari suku bunga rendah yang dibuat-buat," jelas Schiff.

Baca juga: Detik-detik Ustaz Zaid Maulana Ditikam Mantan Anak Buah Idham Azis, Berakting Pura-pura Bingung

Baca juga: Pembunuhan Ibu Muda di Landak, Leher Terbelit Tali Cokelat, Hasil Autopsi Ungkap Fakta

Baca juga: Ramalan Zodiak Cinta Besok 1 November 2020, Scorpio Kamu dan Pasanganmu Akan Nikmati Momen Romantis

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved