Berita Bolmong
Nasib Daerah Blankspot, Luring Sekali Tiga Pekan, Kirim PR Harus Naik Pohon
Evanggeli Soputan, harus puas beroleh pelajaran sekali per tiga minggu secara luar jaringan atau luring
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: David_Kusuma
TRIBUNMANADO.CO.ID, LOLAK - Evanggeli Soputan, harus puas beroleh pelajaran sekali per tiga minggu. Siswa SMP Negeri 1 Lolak yang bermukim di Desa Pindolili, Kecamatan Lolak,
Bolmong ini, mengikuti pelajaran luring tiap hari kamis.
Sebagian besar wilayah desa tersebut masuk daerah blankspot.
Luring satu - satunya jalan bagi Evanggeli untuk tetap beroleh pendidikan di masa Covid-19.
Ia sendiri tidak begitu paham mengapa luring digelar tak rutin tiap pekan. Ia hanya bisa menduga.
Mungkin jarak antara sekolah dan desa tersebut sangat jauh. Mencapai 17 kilometer.
Sekali per tiga pekan, berarti dalam tiga bulan dirinya hanya belajar di sekolah selama empat kali.
Baca juga: Wanita Cantik Manado Ini Ingatkan Protap Kesehatan, Covid-19 Belum Berakhir
Baca juga: Antisipasi Dampak La Nina, Pemkab Minut Gelar Inspeksi Pasukan
Baca juga: Keunggulan Kacamata Pintar Huawei yang Baru Dirilis, Namanya Gentle Monster Eyewear II
"Memang rasanya kurang. Tapi itu yang terjadi," ujarnya.
Ia membeber, luring digelar bergantian di rumah para siswa. Kelompoknya berjumlah tujuh orang.
"Kami bikin kelompok. Kelompok saya berjumlah tujuh orang, semuanya warga desa sekitar sini," ujarnya.
Sebutnya, waktu belajar hanya lima jam. Dari jam 8 pagi hingga jam 1.
Ia berupaya memaksimalkan waktu yang ada.
"Saya memperhatikan betul apa yang diajarkan. Tidak main main. Setiap detiknya berharga," kata dia.
Baca juga: WCS Indonesia Program Kagumi Keanekaragaman Hayati di Kabupaten Bolsel
Sering guru memberi pekerjaan rumah yang hasilnya harus dikirimkan via WA.
Ia pun berkelana mencari area yang punya spot sinyal.
"Kadang naik pohon atau naik gunung," katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/anak-anak-bermain-di-desa-pindolili.jpg)