HSBC
HSBC Jembatani PMA untuk Menangkap Peluang di Tengah Pandemi Covid-19 di Indonesia
Pandemi Covid-19 telah mendorong kontraksi ekonomi global termasuk di Indonesia.
Penulis: Fernando_Lumowa | Editor: David_Kusuma
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Pandemi Covid-19 telah mendorong kontraksi ekonomi global termasuk di Indonesia.
Hampir semua jaringan dan pengiriman perdagangan terhenti. Para penyedia logistik sedang bergulat dengan pemulihan pasokan yang melambat, gangguan permintaan, dan gelombang infeksi sekunder.
Karena itu, perusahaan-perusahaan global saat ini membutuhkan lebih banyak ruang untuk menyimpan surplus barang.
Para produsen pun diprediksi akan mulai mengalihkan beberapa produksi ke negara yang lebih dekat.
• Gerindra dan Fadli Zon Terkesan Main Dua Kaki Soal UU Cipta Kerja, Yunarto Tanya Sikap Prabowo
• Subsidi Gaji Karyawan Tahap 5 Cair, Ini Cara Cek Nama Penerima BSU/BLT Rp 600 Ribu
• Hampir 20 Tahun Dicekal, Akhirnya Prabowo Subianto Diterima Amerika Serikat, Dijadwalkan Kunjungi AS
Hal tersebut diungkapkan Presiden Direktur PT Bank HSBC Indonesia Francois de Maricourt saat membuka webinar HSBC Indonesia Economics Forum, Rabu (06/10/2020.
Menurut Francois, terganggunya rantai pasokan dan perdagangan global ini berdampak pada prospek investasi di banyak negara.
Hal ini akan mendorong perusahaan multinasional mencari solusi untuk membangun ketahanan baru dengan merelokasi atau melakukan diversifikasi ke Asia Tenggara.
“Saya kira ini akan menjadi relokasi permanen, karena akan banyak upaya dan tantangan dalam membangun basis produksi baru atau memindahkan rantai pasokan seperti di sektor otomotif. Artinya, ada peluang besar untuk investasi baru di Indonesia sebagai basis produksi berikutnya di kawasan ASEAN,” ungkapnya.
• Di Era Megawati Outsourcing Lahir, Kini Di Era Jokowi Muncul UU Cipta Kerja, Untungkan atau Rugikan?
• KSPI Pilih Mogok Nasional di Lingkungan Pabrik, Tak Ikut Aksi Tolak UU Cipta Kerja di Istana
Dia menjelaskan, Indonesia memiliki sumber daya yang sangat besar dan pasar yang luas. Bahkan, Bank
Dunia menempatkan Indonesia sebagai negara investasi terbaik ke-4 setelah Kroasia, Thailand, dan Inggris.
Tak hanya itu, Indonesia berada di peringkat pertama dalam investasi manufaktur ritel. Selain itu, kata Francois, pandemi telah memaksa mereka yang lebih konservatif dalam mengadopsi teknologi digital menjadi lebih terbuka untuk beradaptasi dengan model operasional baru.
Studi terakhir HSBC Navigator: Building Back Better menunjukkan hampir dua pertiga (64%) bisnis di Indonesia setuju bahwa masa-masa sulit ini membuat aktivitas bisnis lebih memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan cara mereka bekerja.
• Di Mata Najwa Haris Azhar dan Baleg DPR Ribut Cipta Kerja, Najwa Shihab Diabaikan: Saya Minta Tenang
“Ini adalah proporsi yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan semua pasar (44%). Keduanya memberikan kesempatan bagi kami untuk memainkan peran kami dalam mempromosikan dan menarik FDI (foreign direct investment) atau penanaman modal asing langsung ke Indonesia. Antara lain melalui Economic Outlook Event seperti yang kami selenggarakan hari ini,” katanya.
Pemulihan arus investasi Pentingnya Indonesia untuk membuka iklim investasi untuk kembali menarik Investasi Asing diungkapkan Kepala Ekonom HSBC untuk ASEAN Joseph Incalcaterra.
Kisah pertumbuhan Indonesia cukup kuat memasuki tahun 2020. Ada ekspektasi yang sangat tinggi untuk putaran berikutnya untuk prioritas proyek infrastruktur dari pemerintah terutama proyek pemurnian, proyek di sektor pertambangan hingga akhirnya pembangunan ibu kota baru.
• Selain Najwa Shihab, 4 Presenter Talkshow Ini Juga Wawancara Kursi Kosong, Siapa Saja?
Namun seperti yang terjadi di belahan dunia manapun, hal ini tertunda. Kisah pertumbuhan ini terputus dengan investasi dan konsumsi yang bergerak ke wilayah kontraksi pada kuartal ketiga.
Kabar baiknya adalah jika melihat anggaran tahun 2021 pemerintah telah mengalokasikan sekitar 20 persen untuk infrastruktur, sebagai prioritas.