Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

BI Sulut Resmikan Ekowisata Desa Bahoi, Penunjang KEK Pariwisata Likupang

Desa Bahoi dikembangkan sebagai desa wisata berbasis ekowisata karena memiliki bentang alam pesisi dengan hutan Mangrove alami

Penulis: Fernando_Lumowa | Editor: Finneke Wolajan
Tribun Manado/Fernando Lumowa
Peresmian Desa Bahoi sebagai desa ekowisata berbasis hutan Mangrove oleh Kepala BI Sulut, Arbonas Hutabarat dan Pejabat Sementara Bupati Minut, Clay Dondokambey, Senin (05/10/2020) 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulut meresmikan Desa Wisata Bahoi, Kecamatan Likupang Barat, Minut.

BI melalui Program Sosial Bank Indonesia melakukan pendampingan, serangkaian pelatihan bagi masyarakat setempat sekaligus membangun dan menata objek wisata alam hutan Mangrove dan pesisi Desa Bahoi.

Desa Bahoi dikembangkan sebagai desa wisata berbasis ekowisata karena memiliki bentang alam pesisi dengan hutan Mangrove alami.

Lebih istimewa lagi, Bahoi berada di Likupang, Minut yang merupakan
salah satu dari 5 destinasi pariwisata super prioritas yang ditetapkan pemerintah untuk dimaksimalkan pembangunan pariwisatanya.

Pengembangan pariwisata Desa Bahoi oleh BI dilakukan dengan mengacu konsep 3A 2P, yakni  yaitu Attraction, Amenities, dan Access serta People (SDM) dan Promotion:

Kepala BI Sulut, Arbonas Hutabarat menjelaskaskan Attraction (atraksi) berupa pembangunan rumah apung serta adanya penampilan kelompok seni, masyarakat sadar wisata setempat.

Kemudian, Amenities berupa petunjuk arah, katalog biota laut dan Mangrove, penjelasan tentang hutan Mangrove serta fasilitas pendukung seperti toilet, home stay dan lain-lain.

"Sementara,  Access berupa jembatan gantung, jembatan bambu untuk menyeberang ke rumah apung serta fasilitas lainnya.

Sementara, People berupa pengembangan SDM Desa Bahoi khususnya Kelompok Sadar Wisata.

Adapun fasilitas yang diberikan  BI, selain rumah apung, jembata gantung, berupa  alat snorkling, jembatan bambu, dan kapal. Total bantuan itu senilai Rp 499,69 juta.

Arbonas bilang, apa yang terpenting ialah membangun pola pikir di masyarakat bagaimana menjaga alam sehingga konsep wisata berkelanjutan bisa dilaksanakan.

"Makanya pengembangan pariwisata di Desa Bahoi tidak hanya dilakukan dalam bentuk pemberian bantuan fisik, namun juga pengembangan SDM," ujarnya.

Karena itu, BI memberi pelatihan terkait SOP atraksi wisata, bimbingan teknis dan pelatihan terkait pariwisata, pencatatan transaksi keuangan, serta pelatihan pertanian rumahan atau makanan olahan sesuai dengan potensi Desa.

Rangkaian pelatihan itu dilakukan BI bekerja sama dengan Manengkel Solidaritas selaku LSM yang peduli terhadap pelestarian lingkungan.

Likupang menjadi daerah pariwisata super prioritas bersanding dengan Danau Toba, Borobudur, Mandalika, dan Labuan Bajo. 

Halaman
12
Sumber: Tribun Manado
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved