G30S PKI
Ibu Tien Soeharto Gelisah saat G30S, Diberitahu Ahmad Yani Situasi Gawat, Ditinggal Pak Harto
Ibu Tien, istri Seoharto sengaja berkumpul di markas Persit untuk mendengarkan penjelasan dari Menteri/ Panglima AD Achmad Yani.
TRIBUNMANADO.CO.ID - Kisah Siti Hartinah Soeharto atau Ibu Tien gelisah saat menjelang pemberontakan G30S PKI.
Ibu Tien gelisah saat mengetahui kondisi politik tanah air sangat menegangkan.
Sebelum kejadian, Ibu Tien, istri Soeharto sengaja berkumpul di markas Persit untuk mendengarkan penjelasan dari Menteri/ Panglima AD Ahmad Yani.
Dilansir dari buku otobiografi Ibu Tien Soeharto berjudul 'Siti Hartinah Soeharto Ibu Utama Indonesia', berikut cerita Soeharto dan keluarga cendana saat peristiwa G30S PKI.
"Pak Yani dalam pertemuan tersebut menjelaskan situasi politik pada waktu itu yang makin gawat.
Selama saya menjadi istri prajurit, baru pertama kali itulah saya menerima uraian politik yang menyangkut nasib negara dan bangsa.
• Soeharto Larang Calon Panglima AD Pengganti Ahmad Yani Menghadap Soekarno Setelah G30S
• Sudah Tujuh Bulan Corona, Penanganan Covid-19 di Indonesia Tidak Buruk, Jokowi: Bahkan Cukup Baik

Seusai mengikuti acara itu, Ibu Tien pulang ke rumahnya di Jalan H Agus Salim.
Melihat ibunya pulang, anak-anaknya meminta dibuatkan sup kaldu tulang sapi.
Ibu Tien lalu membuatkannya.
Namun, ketika dirinya sedang membawa panci berisi sup panas yang hendak ditaruh di ruang makan, tiba-tiba Hutomo Mandala Putra (Tommy Soeharto) yang saat itu berusia empat tahun, menabrak tangan ibunya.
Akibatnya, sup itu tumpah dan mencelakai Tommy.
"Air sup tumpah dan mengguyur sekujur tubuhnya. Kulitnya terbakar dan melepuh-lepuh. Saya ingat pelajaran PPPK di Kostrad.
Kalau luka bakar obatnya leverstraan salf. Kebetulan ada persediaan di rumah. Maka obat itulah yang saya oleskan ke kulitnya.
Setelah itu saya bawa Tommy ke RS Gatot Subroto untuk dirawat," tuturnya sambil menambahkan Soeharto sempat menjaga Tomy bersama dirinya.
Sekitar pukul 00.00, Ibu Tien meminta Soeharto agar segera pulang ke rumah karena pada waktu itu Mamiek, putri bungsu Soeharto sedang sendirian di rumah.