Minggu, 26 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Sejarah Hari Ini

Sejarah Hari Ini: 23 Tahun Silam Terjadi Kecelakaan Garuda Indonesia Airbus A300-B4

Hari ini 23 tahun lalu, tepatnya 26 September 1997, Indonesia berduka atas kecelakaan pesawat Garuda Indonesia Airbus A300-B4.

TRIBUNKALTIM.CO/NEVRIANTO HARDI PRASETYO
BERANGKAT KE JAKARTA-Pesawat Garuda Indonesia Boeing 737-800 PK- GND membawa penumpang dari Samarinda menuju Jakarta di Bandara Aji Pangeran Tumenggung (APT) Pranoto jalan Poros Samarinda- Bontang, Kalimantan Timur, Selasa ( 20/11/2018). Maskapai Garuda Indonesia bakal tambah frekuensi penerbangan Samarinda-Jakarta_ 

Disebutkan, wakil keluarga korban, maksimal dua orang, diberangkatkan dari Bandara Soekarno Hatta terminal F, Cengkareng pukul 10.00 WIB dengan pesawat Boeing 747-200.

WNA Asal Swiss Ngamuk di IGD hingga Nyaris Pukul Dokter, Tak Terima Istrinya Harus Diisolasi

Sistem navigasi pesawat

Melansir Harian Kompas, 9 Oktober 1997, daerah di sekitar bandara di Medan terbagi menjadi tiga sektor.

Sektor utara ketinggian pesawat minimal 1.500 kaki, sektor tenggara 7.500 kaki, dan sektor barat daya 9.500 kaki.

Di dalam pesawat, pilot tahu persis posisinya berdasarkan alat navigasi dan instrumen-instrumen yang seharusnya menunjukkan posisinya, berapa radialnya dari tujuan (destination) secara pasti.

Selain itu, pilot tahu persis ketinggiannya dari permukaan tanah (AGL-above ground level) dari alat yang namanya radio altimeter.

Radio altimeter ini baru berfungsi otomatis pada ketinggian 2.500 kaki ke bawah. Alat ini memancarkan gelombang sonar ke permukaan bumi, dipantulkan, dan ditangkap lagi oleh pesawat.

Pancaran itu menyebutkan berapa tinggi pesawat dari permukaan bumi, sehingga seharusnya jika semua radio altimeter berfungsi baik (ada dua buah), pilot pasti sudah mengetahui berapa ketinggian pesawatnya dari muka tanah.

Adapun pada pesawat-pesawat yang peralatannya rumit dan maju, seperti juga Airbus, radio altimeter nomor dua mempunyai kaitan dengan automatic throttle atau "gas otomatis."

Dengan sinyal dari radio altimeter nomor dua, gas otomatis akan pindah ke posisi idle, ke belakang, jika pesawat sudah berada pada ketinggian 50 kaki (sekitar 15 meter) dari permukaan bumi.

Posisi idle atau close throttle atau tidak digas sama sekali, berarti tenaga pesawat sudah benar-benar hilang, dan pesawat segera "jatuh" menyentuh tanah.

Airbus 300 Garuda Indonesia

Perusahaan Airbus mengembangkan sebuah pesawat bermesin ganda untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Saat itu, jenis pesawat yang dikembangkan ini merupakan pesawat bermesin ganda pertama di dunia.

Menurut Harian Kompas, 27 September 1997, Garuda Indonesia mendatangkan Airbus 300 ke Indonesia pada Maret 1982.

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved