Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Pilpres Amerika Serikat

Jika Kalah dalam Pilpres AS, Donald Trump Enggan Meletakkan Jabatan dengan Damai

Presiden Amerika Serikat ke-45 mengatakan dirinya menolak untuk meletakkan jabatan dengan damai jika kalah dalam Pilpres AS.

Editor: Rizali Posumah
AFP/Jim Watson
Presiden AS Donald Trump duduk dengan tangan bersilang saat diskusi meja bundar tentang Pembukaan Kembali Sekolah-Sekolah Amerika yang Aman selama pandemi, di Ruang Timur Gedung Putih pada 7 Juli 2020, di Washington, DC. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Donald Trump melontarkan pernyataan yang mengejutkan terkait Pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS).

Presiden Amerika Serikat ke-45 itu mengatakan dirinya menolak untuk meletakkan jabatan dengan damai jika kalah dalam Pilpres AS.

Tak pelak pernyataan ini memantik kritikan tak haya dari oposisi Partai Demokrat. Bahkan dari partainya sendiri, Republik.

Dalam konferensi pers di Gedung Putih, dia ditanya apakah bakal berkomitmen pada prinsip dasar demokrasi: penyerahan kekuasaan secara damai.

"Yah, kita harus melihat apa yang terjadi," kata Trump. Ucapannya itu memantik sindiran dari rivalnya di Pilpres AS, Joe Biden.

Kepada awak media, kandidat presiden dari Demokrat itu mengaku tidak habis pikir dengan penolakan yang diperlihatkan oleh suami Melania itu.

"Dengar, dia bahkan mengatakan sesuatu yang sangat irasional. Saya tak tahu harus menanggapi bagaimana," kata dia dikutip AFP Rabu (23/9/2020).

Bahkan Mitt Romney, senator yang berasal dari Republik menyatakan, keraguan sang presiden akan konstitusi itu sendiri "sama sekali tak bisa diterima".

"Hal dasar dalam demokrasi adalah penyerahan kekuasaan secara damai. Tanpa itu, jadilah Belarus," jelas Romney yang kerap mengkritik Trump itu.

"Singkirkan" balotnya

Pernyataan presiden itu disampaikan setelah dia, yang mengejutkan era Presiden AS modern, betapa dia mengeluhkan keadilan di pemilihan.

Dia mengomentari rencana penggunaan mail-in ballots dibanding in-person karena wabah virus corona yang melanda seluruh dunia.

"Kalian tahu, saya selama ini sangat mengeluhkan mengenai balot ini, yang jelas adalah bencana," kata dia dalam konferensi pers.

Presiden berusia 74 tahun itu berulang kali berujar, balot mail-in rawan terjadi penipuan dan dituding menjadi alat mengeruk keuntungan bagi Demokrat.

Namun, sampai saat ini belum ada bukti bahwa pengiriman lewat pos bakal memberikan dampak negatif yang signifikan di Pilpres AS.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved